TABANAN, BERNAS.ID – Penyelenggaraan Festival Wisata Subak Jatiluwih tahun ini mendapat penolakan dari kalangan petani dan pengurus Subak Jatiluwih. Penolakan bukan ditujukan pada kegiatan festival itu sendiri, melainkan pada pemilihan lokasi acara yang berada di tengah sawah produktif.
Pekaseh atau Kepala Subak Jatiluwih, I Wayan Mustra, menegaskan bahwa komunitas adat tidak menolak keberadaan festival, namun keberatan keras jika festival dilaksanakan di lahan pertanian aktif. “Kami tidak menolak ada festival, silakan saja. Itu bagus juga untuk promosi,” ujarnya. “Tapi ketika itu dilaksanakan di area persawahan aktif, itu kami tolak.”
Baca Juga : Petani Jatiluwih Keluhkan Minimnya Dukungan Pengelola DTW
Penolakan ini pun ditegaskan dalam surat pernyataan resmi pengurus Subak Jatiluwih, yang menyebut bahwa pelaksanaan festival di tengah sawah melanggar tiga prinsip utama, yaitu Awig-awig Subak (aturan adat subak), Pelestarian Subak dan Kesucian Sawah.
Surat tersebut disusun berdasarkan hasil rapat pengurus Subak Jatiluwih pada 8 Juli 2025, yang dilaksanakan di aula Kantor Desa Jatiluwih. Dalam surat itu, mereka menyatakan:
“Kami pengurus Subak Jatiluwih menyatakan menolak festival yang diadakan di lahan sawah produktif karena melanggar: (1) Awig-awig Subak, (2) Pelestarian Subak, dan (3) Kesucian Sawah.”
Lebih lanjut, Mustra menyampaikan kekhawatiran bahwa penyelenggaraan festival di area pertanian aktif bisa merusak ekosistem subak dan mengaburkan nilai-nilai spiritual yang melekat dalam sistem pertanian tradisional Bali. Ia menyebut sawah sebagai ruang suci, bukan sekadar ruang ekonomi atau wisata.
Baca Juga : Irigasi Rusak, Ratusan Hektar Sawah di Jatiluwih Terancam Kering
“Subak kami ini bukan tempat tontonan. Ada kekhawatiran besar, jangan sampai kegiatan budaya yang dimaksudkan untuk pelestarian justru mengarah ke eksploitasi,” kata Mustra.
Ia juga mengungkapkan bahwa dalam pelaksanaan festival tahun ini, tidak ada koordinasi langsung dengan pengurus subak atau keterlibatan aktif petani dalam perencanaan. “Selama ini belum ada koordinasi apapun terkait festival. Kami di subak kurang dilibatkan,” tegasnya.
Festival Subak Jatiluwih tahun ini memang berlangsung meriah dan mengangkat nama warisan budaya dunia ke panggung internasional. Namun di balik kemeriahan itu, muncul tanda tanya besar mengenai siapa yang benar-benar diuntungkan, dan apakah nilai luhur Subak masih dijaga, atau justru mulai tergerus oleh kepentingan komersial.
Sebagai bentuk toleransi, desa adat dan pengurus subak masih mengizinkan festival tahun ini tetap berjalan. Namun mereka menegaskan, mulai tahun depan, kegiatan serupa tidak boleh lagi dilakukan di sawah aktif.
“Demikian surat ini kami buat untuk dapat digunakan sebagaimana mestinya,” tutup pernyataan pengurus Subak. (DID)
