YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo bersama Dandim 0734/Kota Yogyakarta Kolonel Inf. Arif Setiyono, mengunjungi Galeri Welas Asih milik budayawan Handoyo Wibowo, atau yang lebih akrab disapa Koh Hwat, pada Sabtu (26/7/2025) di daerah Warungboto, Umbulharjo, Yogyakarta.
Setibanya di galeri, Wali Kota Hasto Wardoyo dan Dandim Kolonel Arif disambut langsung oleh Koh Hwat dan keluarga dengan suasana hangat dan penuh keakraban langsung terasa.
Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan sebuah apresiasi mendalam terhadap upaya Koh Hwat dalam melestarikan dan mengembangkan geguritan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari budaya Jawa.
Baca Juga : Kompetisi Bahasa dan Sastra di Kota Jogja Digelar Lagi Tahun 2025
Di dalam Galeri Welas Asih ini menyimpan koleksi 4.000 karya geguritan hasil ciptaan Koh Hwat sejak 2004.
Geguritan-geguritan tersebut tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga mengandung pesan-pesan moral, kritik sosial, dan renungan kehidupan yang mendalam.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menyampaikan kekagumannya atas dedikasi Koh Hwat dalam merawat dan menghidupkan bahasa dan sastra Jawa.
“Menurut saya, ini bukan hanya soal karya seni, tetapi ini adalah bentuk cinta luar biasa terhadap budaya Jawa. Sebanyak 4.000 geguritan ini adalah bukti ketekunan, konsistensi, dan jiwa kepedulian budaya yang patut dijadikan inspirasi,” ujarnya disela kunjungannya.
Ia menyebut, karya-karya Koh Hwat merupakan aset budaya yang tak ternilai bagi Kota Yogyakarta bahkan Indonesia.
“Geguritan-geguritan ini bukan hanya sekadar tulisan, tapi juga cerminan dari pemikiran, perasaan, dan kepedulian Koh Hwat terhadap sesama dan lingkungan. Ini adalah warisan yang patut kita lestarikan dan jadikan inspirasi,” ungkapnya.
Menurutnya, karya-karya seperti ini sangat penting dalam membentuk karakter masyarakat, khususnya generasi muda.
“Budaya adalah benteng bangsa. Apa yang dilakukan Koh Hwat sejalan dengan semangat kebangsaan membangun Indonesia dari akar budaya sendiri,” jelasnya.
Dandim 0734/Kota Yogyakarta, Kolonel Inf Arif Setiyono mengungkapkan kekagumannya terhadap Koh Hwat yang merupakan warga Jogja yang dari keturunan Tionghoa, namun mau mempelajari bahasa Jawa sampai mendalam.
“Menurut saya itu hal yang luar biasa ya. Ini yang harus kita angkat karya ini. Jangan sampai di Jogja itu ada seni Geguritan tapi tidak diketahui orang banyak,” tuturnya.
Ia mengatakan, harapannya dengan kunjungan silaturahmi ini bisa membuat Geguritan di Galeri Welas Asih akan semakin dikenal banyak orang.
Sementara itu, pemilik Galeri Welas Asih, Handoyo Wibowo (Koh Hwat) menjelaskan, ribuan geguritan yang ia ciptakan adalah buah dari perjalanan hidup, pengamatan, serta perenungannya selama bertahun-tahun.
“Galeri Welas Asih ini bukan hanya ruang pajang, tetapi juga ruang edukasi dan kontemplasi,” terangnya
Seluruh geguritan yang dipamerkan bertemakan kehidupan, kemanusiaan, spiritualitas dan kritik sosial.
“Saya ingin budaya Jawa tetap hidup di tengah arus modernisasi. Geguritan adalah cara saya menyuarakan nilai-nilai luhur itu kepada masyarakat,” jelas Koh Hwat.
Baca Juga : Kompetisi Bahasa Dan Sastra Kota Yogyakarta 2024: Perkuat Jaringan Para Pelestari Sastra Tradisional
Koh Hwat juga berharap geguritan-geguritan ini dapat menjadi media untuk berbagi kebaikan, menyentuh hati pembaca, dan menjadi pengingat akan pentingnya nilai-nilai kemanusiaan.
Salah satu tokoh Tionghoa Yogyakarta, Ellyn Subiyanti yang juga merupakan istri dari Koh Hwat merasa bangga atas kunjungan Walikota dan Dandim Yogyakarta.
“Koh Hwat sendiri sudah sejak lama konsen pada puisi Jawa dan renungan-renungan yang memiliki makna bagi kehidupan manusia,” tuturnya.
Ellyn pun mengakui, suaminya senang apabila ada instansi, ataupun tokoh masyarakat yang mengunjungi Galeri Welas Asih untuk melihat langsung koleksi dari Koh Hwat.
Beberapa tokoh Tionghoa Yogyakarta yang turut hadir pada kesempatan itu adalah Jimmy Sutanto, Anwar Priyadi, Agus Handoko, Miranda Wibowo, dan Stanley Onggowijaya.
Pertemuan santai dan dibalut suasana keakraban ini diakhiri makan siang bersama dengan menu nasi sayur lodeh jipang dari angkringan. (cdr)
