BANTUL, BERNAS.ID – “Yogyakarta menjadi termasyur karena jiwa kemerdekaannya. Hidup-hidupilah terus jiwa kemerdekaan itu.”
Kata-kata tersebut ditulis Presiden Sukarno sesaat sebelum ibu kota RI kembali ke Jakarta setelah sebelumnya dipindahkan ke Yogyakarta.
Kata-kata itu menggambarkan dengan sangat jelas keistimewaan hati dan jiwa para pemimpin serta rakyat Yogyakarta dalam berjuang demi tegaknya kedaulatan RI.
Peran dan sumbangsih Sri Sultan HB IX dan Paku Alam VIII manunggal bersama rakyat memilih bergabung ke RI menjadi modal politik paling besar bagi keselamatan bayi Republik.
BACA JUGA: Lepas Kapolda DIY Irjen Suwondo Nainggolan, Paguyuban Lurah Beri Wayang Semar
Kini 80 tahun berselang, semangat kemerdekaan dan cita-cita Proklamasi 17-8-1945 yang diperjuangkan oleh para tokoh pendiri bangsa, yakni
mewujudkan negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur masih tetap relevan diperjuangkan ditengah berbagai persoalan kebangsaan yang jadi hambatan mencapai cita-cita kemerdekaan itu.
Problem kemiskinan, pengangguran, ketidakadilan, penegakan supremasi hukum, perlindungan hak asasi manusia, terjaminnya ekosistem demokrasi yang sehat, masih jadi momok yang menghantui bangsa Indonesia.
Pesan inilah yang ingin disampaikan dalam Pagelaran Wayang Republik yang bakal dilaksanakan pada Jumat 5 September 2025 di pendopo Hastodiningrat Kampung Tegalsari Geneng Panggungharjo Sewon Bantul.
Wayang Republik menjadi bahasa simbolik yang mengajak siapapun untuk merenung dan berefleksi menangkap kemurnian jati diri bangsa di tengah bisingnya artikulasi verbal yang teramat bising di jagat komunikasi publik.
Rangkaian pagelaran dimulai pukul 16.00 WIB menampikan 26 orang pelajar dari Sanggar Biola Quinta yang akan membawakan lagu kebangsaan Indonesia Raya (string), Mengheningkan Cipta, Tanah Air, Indonesia Jaya, Symphony Yang I dah, Medley Jawa, Lir-Ilir, Koyo Jogja Istimewa dan masih banyak lainnya.
Setelah itu akan dilanjutkan oleh penampilan group Sholawatan Jawi Laras Madya Al Hidayah yang membawakan lagu-lagu pujian pada Allah SWT.
Berikutnya tampil Sanggar Seni Tegalsari membawakan lagu-lagu dolanan bocah. Puncak acara diisi pemutaran video Sinau Sejarah, Kelompok Musik Exstra Vagongso dan pagelaran Wayang Republik yang dimainkan dalang Ki Catur Benyek Kuncoro.
Penggagas acara Widihasto Wasana Putra menjelaskan Wayang Republik adalah media edukasi sejarah lewat media budaya terkait asal usul sejarah Yogyakarta yang kemudian menjadi Daerah Istimewa bagian dari NKRI.
BACA JUGA: Wayang Kulit Akhir Tahun Lakon Duryudana Gugur Siap Digelar di Malioboro
“Karakter tokoh Wayang Republik adalah sosok pendiri dan pejuang bangsa seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sri Sultan HB IX, Paku Alam VII, Soedirman hingga sosok antagonis Kolonel Van Langen,” ujar Widihasto, Kamis (4/9/2025).
Ada tiga harapan yang ingin didaraskan. Pertama Yogyakarta terus menjadi pelita bangsa yang memberikan penerang di kegelapan sekaligus jadi petunjuk untuk selalu berpijak pada nilai-nilai keteladanan kusuma bangsa di tengah berbagai persoalan dan tantangan jaman.
“Kedua menjadi ruang ekspresi kolaboratif diantara potensi seni budaya masyarakat,” katanya.
Ketiga ajang konsolidasi lintas sektoral membangun kebersamaan dan merawat jiwa patriotisme dan nasionalisme berbasis pada akar tradisi budaya. (mar)
