JAKARTA, BERNAS.ID – Wakil Rais PCNU Sleman, KH Fahmi Basya, L.C., menegaskan peringatan keras yang disampaikan delegasi Palestina harus menjadi bahan renungan bagi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Delegasi Palestina yang dipimpin Mustafa Barghouti sebelumnya mengecam langkah PBNU mengundang akademisi pro-Israel, Peter Berkowitz, dalam program AKN NU.
Menurut Barghouti, sikap tersebut bertolak belakang dengan nilai kemanusiaan dan perjuangan rakyat Palestina yang hingga kini masih menjadi korban agresi brutal Israel.
Baca Juga : Wacana Polri di Bawah Kemendagri dan TNI, PBNU: Potensi Mundur dan Langgar Konstitusi
“Jangankan bangsa Palestina, kita saja sebagai Nahdliyyin juga mengecam tindakan PBNU menghadirkan Peter Berkowitz dan konco-konconya di acara kaderisasi tertinggi, AKN NU,” tegas Gus Fahmi, Kamis (4/9/2025).
Ia menyebut pernyataan Barghouti sebagai warning dari rakyat Palestina yang merasakan langsung kebiadaban Israel. Gus Fahmi juga mengingatkan Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), agar tidak melupakan sejarah panjang persaudaraan Indonesia–Palestina.
“Negara Palestina adalah salah satu yang pertama mendukung kemerdekaan Indonesia, bahkan sebelum 17 Agustus 1945. Grand mufti Palestina, Syeikh Muhammad Amin al-Husaini, sudah menyerukan dukungan sejak 6 September 1944. Saudagar Palestina, Muhammad Ali Taher, juga membantu finansial perjuangan Indonesia. Sudah seperti saudara,” paparnya.
Baca Juga : Muhammadiyah Ucapkan Selamat Harlah ke-102 Bagi Nahdlatul Ulama
Menurutnya, NU juga punya jejak historis yang jelas dalam membela Palestina. “Mbah Hasyim Asy’ari dalam khutbah iftitah Kongres Alim Ulama menetapkan Isra’ Mi’raj sebagai Hari Palestina. Bahkan dilakukan penggalangan dana untuk perjuangan mereka,” tambahnya.
Karena itu, Gus Fahmi menegaskan PBNU tidak boleh mengkhianati sejarah maupun arah jam’iyyah NU. “Kalau Gus Yahya sengaja mengaburkan arah NU, wassalam. NU bisa kehilangan pijakan masa depan,” tutupnya. (DID)
