BANTUL, BERNAS.ID – Mahasiswa Program Studi Doktor Pariwisata (S3) Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (STIPRAM) Yogyakarta angkatan ketiga menggelar Seminar Internasional, bertempat di Golden Ganesha École Hotel Yogyakarta, Sabtu (27/9/2025).
Disampaikan Ketua Panitia, Heni Pridia Rukmini Sari, seminar kali ini mengangkat tema “Integrated Quality Tourim Based on Entrepreneurship” dengan menghadirkan pembicara, Ketua STIPRAM Yogyakarta, Dr. Suhendroyono, SH, MM, M.Par, CHE, CGSP; Direktur Utama BPOB, Ir. Agustin Peranginangin, dan narasumber dari Indonesia, USA, Malaysia, Australia, China, dan Uzbekistan, yang kesemuanya adalah ahli dalam pariwisata.
“Adapun tema ini kita angkat karena banyaknya stakeholder pariwisata, salah satunya kita harus mendukung pemerintah yang ingin memberikan quality tourism kepada semua orang,” ujarnya disela acara.
Baca Juga : Program Pascasarjana Universitas Borobudur menyelenggarakan Seminar Melek Hukum Bagi Bidan
“Jadi bukan hanya sekedar kuantitas, tapi harus ada unsur kualitasnya untuk meningkatkan kesejahteraan,” imbuhnya.
Ketua Program Studi Doktor Pariwisata STIPRAM, Prof. Dr. Ir. Sugiarto, M.Sc., CHE, mengungkapkan, setiap mahasiswa diwajibkan untuk mendiseminasikan hasil-hasil penelitian mereka ke arah internasional melalui seminar ataupun jurnal.
“Hal ini sesuai visi misi kita yang ingin berkiprah di kawasan Asia Pasifik, untuk capaian di tahun 2030,” katanya.
Sehingga, menurut Prof. Sugiarto, temuan ataupun karya-karya dari para mahasiswa terkait pariwisata yang difokuskan pada kewirausahaan pariwisata berbasis riset ini, bisa diseminasikan kepada seluruh masyarakat baik akademisi maupun non akademisi di seluruh dunia.
“Jadi sebelum lulus mahasiswa diwajibkan menghasilkan karya yang baru, bisa terkait dengan pengkayaan ilmu pengetahuan, ataupun menghadirkan solusi untuk permasalahan kompleks,” tuturnya.
“Adapun ajang yang harus dilalui para mahasiswa, salah satunya adalah menjadi pembicara pada seminar internasional,” lanjutnya.
“Untuk itu, melalui seminar ini para mahasiswa STIPRAM dan mahasiswa, serta para pakar pariwisata dunia bisa memaparkan temuannya dan memberikan solusinya atas permasalahan pariwisata,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Pasca Sarjana STIPRAM Yogyakarta, Prof. Dr. Tonny Hendratono, SE., MM., CHE menuturkan, setiap angkatan pada Program Studi Doktor Pariwisata diwajibkan membuat seminar internasional dengan syarat menghadirkan sedikitnya lima narasumber dari lima negara.
“Dalam seminar internasional kali ini menghadirkan enam narasumber dari enam negara, termasuk Indonesia,” katanya.
Prof. Tonny menambahkan, sampai hari ini sudah ada empat angkatan Program Studi Doktor Pariwisata di STIPRAM, dan setiap angkatannya diharuskan membuat seminar internasional.
“Seminar internasional kali ini sudah yang ketiga kalinya diselenggarakan sejak tahun 2023, yang kesemuanya mengangkat tema pengembangan kewirausahaan dalam pariwisata, berdasarkan riset yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Doktor Pariwisata STIPRAM,” paparnya.
Baca Juga : Summer Course 2025 UGM: Solusi Inovatif Penanganan dan Manajemen Penyakit Kanker
Dia juga menjelaskan, bahwa dalam kurun waktu 17 tahun ada tiga capaian pendidikan tinggi Pariwisata di Indonesia.
“Yang pertama pada tahun 2008 pemerintah menetapkan pariwisata sebagai sebuah ilmu,” terangnya.
“Yang memunculkan strata 1, strata 2, dan strata 3 pariwisata. Di Indonesia hingga saat ini baru ada empat perguruan tinggi penyelenggara S3 Pariwisata, salah satunya STIPRAM,” imbuhnya.
Capaian kedua dalam pendidikan tinggi pariwisata adalah munculnya guru besar di bidang pariwisata. “Dan untuk capaian yang ketiga adalah, pada tanggal 18 Agustus 2025 pemerintah telah menetapkan lembaga akreditasi mandiri pariwisata,” pungkas Prof. Tonny. (cdr)
