YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Promo besar-besaran layanan ojek online yang selama ini dianggap menguntungkan konsumen, kini mulai menuai tanda tanya.
Di balik harga murah yang dinikmati pengguna, muncul keresahan di tingkat mitra usaha kuliner dan driver yang berada langsung di lapangan.
Sejumlah pelaku usaha kuliner mengaku berada dalam kondisi serba terbatas. Skema potongan promo dan biaya layanan yang diterapkan membuat margin keuntungan semakin menipis.
Baca Juga : KSPSI Dorong Status Driver Ojol Menjadi Pekerja
Di sisi lain, driver juga terdampak oleh sistem yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada keberlanjutan penghasilan harian.
Kondisi tersebut memunculkan perhatian publik terhadap keberlanjutan sistem layanan pesan-antar makanan.
Pasalnya, jika promo terus dijalankan tanpa perhitungan yang sehat, tekanan jangka panjang berpotensi dirasakan oleh mitra usaha dan driver, dua pihak utama yang menopang ekosistem layanan tersebut.
Di tengah situasi ini, Head Marketing JogjaKita, Rendi Setiawan dalam siaran pers yang dikirimkan menyebut JogjaKita menerapkan pendekatan berbeda dalam skema promonya.
Baca Juga : Komitmen Damai Ojol DIY, Jaga Keistimewaan dan Kondusivitas Jogja di Tengah Aksi Nasional
“Seluruh program promo ditanggung oleh pihak aplikasi, sehingga pendapatan mitra usaha kuliner maupun driver tidak mengalami pemotongan atau pengurangan,” ungkapnya, Rabu (7/1/2026).
Pendekatan ini diambil, sambung Rendi sebagai upaya menjaga keseimbangan ekosistem layanan pesan-antar agar tetap berkelanjutan bagi semua pihak yang terlibat.
“Di tengah maraknya perang promo, publik kini mulai menilai ulang, apakah layanan yang baik semata soal harga murah, atau juga tentang keadilan bagi mereka yang menjalankannya setiap hari di lapangan?,” pungkasnya. (*/cdr)
