YOGYAKARTA, BERNAS.ID- Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan bekerjasama dengan Fakultas Peternakan UGM menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Budidaya dan Pengembangbiakan Kambing/Domba di kampus setempat, Sabtu (4/3/2026). Bimtek bertujuan untuk peningkatan ketersediaan dan mutu benih/bibit ternak dan tanaman pakan ternak, bahan pakan, serta pakan kewenangan provinsi.
Bimtek mengusung tema “Pengembangan Ternak Ruminansia Kecil”. Para peserta bimtek selaku peternak di berbagai wilayah DIY nantinya akan menerima bantuan kambing atau domba. Namun, agar bantuan tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik, peternak membutuhkan bekal pengetahuan dan keterampilan dalam beternak kambing atau domba.
Bimbingan Teknis (Bimtek) bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peternak dalam mengelola ternaknya, sehingga produktivitas dan keberhasilan usaha ternak dapat meningkat. Jumlah peternak sebanyak 585 orang dengan jumlah kelompok ternak sebanyak 117 kelompok.
Nantijmnya, satu kelompok akan menerima sepuluh kambing dengan rincian satu pejantan dan sembilan betina. Bantuan kambing atau domba ini rencanya akan diserahkan pada bulan Mei nanti.
Aris Eko Nugroho, selaku Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY mengatakan kambing atau domba di wilayah Yogyakarta populer dengan wujudnya berupa kuliner. Melalui program bimtek ini, kebutuhan kambing dan domba yang tinggi akan dapat menyejahterakan masyarakat di DIY.”Rojo Koyo, merupakan harta yang bisa menyejahterakan. Dengan ada kepercayaan dari dewan, menjadikan Jogja akan lebih istimewa dengan kambing dan domba,” tuturnya.
Lanjut tambahnya, Pemerintah DIY berharap untuk proses pengadaan dan bantuan kambing atau domba, bisa seperti yang diinginkan peternak. Untuk itu, peternak bisa memberitahukan ke petugas terkait kambing dan domba yang diinginkan sehingga ilmu dari bimtek yang didapatkan bisa diterapkan di lapangan,” ujarnya.
Sementara itu, Profesor Budi Guntoro selaku Dekan Fakultas Peternakan UGM mengatakan bimtek sebagai hilirisasi penelitian untuk dimanfaatkan peternak. Ajang silaturahmi di Fakultas Peternakan UGM ini menjadi wujud kontribusi di subsektor peternakan dengan daerah di seluruh Indonesia.
“Yogyakarta tidak hanya penghasil daging sebagai sumber protein hewani dan susu, tapi secara sosial budaya harus menjadi wilayah peningkatan SDM untuk produksi, terutama kesehatan ternak dan kesejahteraan ternak,” tuturnya.
Profesor Budi pun berharap bimtek menjadi sarana transfer ilmu dan teknologi yang aplikatif sesuai kebutuhan lapangan peternak dengan berbasis keilmuan. Peternak juga bisa saling berbagi ilmu pengetahuan sehingga mampu menghadapi tantangan dunia peternakan saat ini.
“Melalui fasilitator dosen-dosen, para peternak akan bisa mewujudkan peternakan berkelanjutan dengan memperhatikan sisi sosial dan lingkungan, mengutamakan Kesejahteraan hewan, tidak hanya dieksploitasi,” ujar Prof Budi.
Medi Suwarno, peternak dari Sri Mandiri 1 Minggir Sleman Yogyakarta mengatakan bantuan kambing atau domba ini akan bisa membantu kebutuhan pupuk di wilayahnya. Dengan mengolah pupuk mandiri, para petani di wilayahnya tidak lagi tergantung pupuk kimia dari Pemerintah.
“Mencari pupuk sulit sehingga bantuan kambing dapat menghasilkan pupuk organik. Membantu mengurangi pupuk dari Pemerintah. Saat ini, kandang dan pangan sudah siap,” tutupnya. (Jat)
