JAKARTA, BERNAS.ID – Akademisi yang juga Rektor Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA), Tri Atmodjowati, menyoroti fenomena krisis kepemimpinan yang mulai terasa di banyak perusahaan.
Menurutnya, persoalan yang muncul saat ini bukan semata penurunan kinerja atau disrupsi teknologi, melainkan hilangnya figur pemimpin yang dirindukan kehadirannya oleh tim.
“Banyak pemimpin hadir secara fisik, tetapi absen secara emosional, intelektual, bahkan spiritual,” kata Tri.
Ia menjelaskan, kondisi tersebut menandai pergeseran peran kepemimpinan dari yang semula berbasis pengaruh (influence building) menjadi sekadar jabatan (position holding).
Baca Juga : Akademisi: Pendidikan Tak Cukup Ikuti Industri 4.0, Saatnya Lompat ke Leadership 6.0
Akibatnya, pemimpin tidak lagi menjadi sumber inspirasi dan nilai, melainkan hanya berperan sebagai pemberi instruksi dan pengontrol target. Relasi dengan tim pun berubah menjadi transaksional dan kehilangan kedekatan.
“Karyawan tidak lagi bertanya tentang visi, tetapi mulai mempertanyakan alasan mereka harus peduli,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menilai krisis ini bukan sekadar soal kompetensi, melainkan krisis kedalaman kepemimpinan. Banyak pemimpin dinilai kuat secara intelektual (IQ) dan cukup dalam relasi (EQ), namun lemah dalam aspek makna dan tujuan (SQ).
Padahal, di tengah kompleksitas dan ketidakpastian saat ini, tim tidak hanya membutuhkan arahan, tetapi juga alasan untuk percaya dan berkembang bersama.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Tri memperkenalkan konsep Leadership 6.0 atau Symbiotic & Conscious Leadership. Pendekatan ini menekankan pentingnya kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada kinerja, tetapi juga pada kesadaran, makna, dan koneksi manusia.
Baca Juga : Menakhodai Era Symbiotic Leadership, Dunia Butuh Leadership 6.0
Dalam konsep ini, pemimpin dituntut hadir dalam empat dimensi utama, yakni finansial, sosial, psikologis, dan spiritual.
“Pemimpin bukan lagi sekadar pengambil keputusan, tetapi pembentuk energi, pencipta makna, dan katalis pertumbuhan,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemimpin yang dirindukan di era saat ini bukan yang paling cerdas, melainkan yang mampu hadir secara utuh bagi timnya.
“Mereka hadir saat tim lelah, mendengar sebelum mengarahkan, memberi makna, dan menjadi teladan,” ujarnya.
Di akhir, Tri menegaskan pentingnya refleksi bagi para pemimpin. Menurutnya, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan bukan lagi soal kinerja tim, melainkan makna kehadiran pemimpin itu sendiri.
“Apakah kehadiran kita masih bermakna bagi tim? Karena ketika pemimpin tidak lagi dirindukan, itu tanda kepemimpinan telah kehilangan rohnya,” pungkasnya. (DID)
