HarianBernas.com – Berbicara tentang HAM di indonesia siapa tak mengenal tokoh yang satu ini pantang menyerah dalam meneriakkan keadilan. Putra bangsa terbaik yang dimiliki Indonesia yang harus gugur dalam perjalanannya menuju keadilan HAM.
Munir Said Thalib lahir di Malang pada tanggal 8 Desember 1965, anak keenam dari tujuh bersaudara ini dikenal sebagai sosok yang tangguh dan pemberani dalam menyuarakan kebenaran.
Jabatan terakhirnya adalah Direktur Eksekutif Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Indonesia Imparsial. Dengan berbagai penghargaan dari dalam maupun luar negeri.
Salah satunya adalah The Right Livelihood Award (Alternative Nobel Prizes) untuk promosi HAM dan kontrol sipil atas militer. Selain itu ia juga aktif dalam dunia kepenulisan mengenai HAM, Hukum, Reformasi Militer dan Kepolisian, Politik dan Perburuhan.
Pria berdarah Arab-Indonesia Indonesia ini dikenal sebagai tokoh yang aktif dalam memperjuangkan HAM di Indonesia dan peduli terhadap hak-hak para kaum lemah yang terdzholimi.
Dengan kegigihannya ia berjuang keras untuk menegakkan kebenaran, Munir memang sosok yang bersahaja dan sederhana, tidak silau akan harta, pangkat dan jabatan karena setiap pekerjaan yang ia lakoni didedikasikan atas nama keadilan. Dimana lagi gemparnya para pejabat berbondong-bondong berebut fasilitas, Munir seorang aktivis HAM kelas dunia tetap setia pada sepeda motor miliknya.
Namanya mulai dikenal publik saat menjabat sebagai Dewan Kontras saat ia berjuang bagi orang-orang hilang yang diculik oleh Tim Mawar dai Kopassus setelah masa lengsernya presiden Soeharto dari pemerintahannya. Dan banyak sekali kasus-kasus yang berhasil ditanganinya.
Munir meninggal dunia? Munir memang seorang pahlawan HAM di Indonesia, sebagai aktivis yang telah banyak berjasa ia disegani oleh banyak orang, namun tak lepas dari itu semua tak sedikit juga oknum-oknum yang kontra terhadap tindakan Munir yang berani dalam menentang ketidakadilan sehingga banyak dari kalangan petinggi yangberusaha untuk menyingkirkannya.
Sebab itulah pada tanggal 7 September 2004, di pesawat Garuda GA-974 dalam sebuah penerbangan menuju Amsterdam, Belanda. Sebuah perjalanan untuk menempuh pendidikan S-2 nya di Universitas Utrecht di negeri kincir angin itu. Ia dibunuh oleh seorang pilot Garuda yang saat itu sedang cuti Pollycarpus Budihari Priyanto dengan menggunakan racun arsenik yang dicampur ke dalam makanannya.
Namun siapakah otak dibalik pembunuhan Munir? Hingga sekarang kematian sang pendekar HAM ini memang masih menjadi sebuah misteri, mulai dari siapa aktor utamanya? Dan apa motif pembunuhan sebenarnya?
Sungguh ironis seorang pembela keadilan tidak memperoleh keadilannya setelah kematiannya. Meninggalkan seorang istri dan dua orang anak, jenazahnya dikebumikan di taman makam umum kota Batu. Dan sejak tahun 2005, tanggal kematian Munir, 7 September diperingati sebagai Hari Pembela HAM Indonesia.
