Bernas.id – Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri (Menlu) Republik Indonesia (RI) mengatakan bahwa dari dua cerita mengenai Korea Utara dan Korea Selatan, serta Palestina di Asian Games 2018, terdapat paling tidak dua kata kunci yang ingin ditegaskan, pertama konsistensi posisi politik luar negeri Indonesia dan kedua, perdamaian. Hal itu disampaikan ketika menjadi keynote speaker di Kongres Pancasila X dengan Tema ?Peran Indonesia dalam Upaya Mewujudkan Perdamaian Dunia?, Universitas Gadjah Mada, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis 23 Agustus 2018.
?Maknanya apa, Indonesia dinilai memiliki rekam jejak diplomasi yang secara konsisten terus berkontribusi bagi perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan dunia. Tentunya konsistensi politik luar negeri Indonesia tidak terlepas dari amanat yang diberikan dalam aliena keempat pembukaan UUD 1945. Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,? tutur Menlu Retno.
Baca Menlu Retno Berbicara Korea Utara dan Korea Selatan di Jogja
Dikatakan Menlu Retno, jika kita perhatikan dalam pelaksanaan politik luar negeri, pasti dipahami ada dua elemen utama di dalam pelaksanaan politik luar negeri. ?Elemen pertama adalah memperjuangan kepentingan nasional. Kita sering mendengar bahwa politik luar negeri merupakan perpanjangan tangan kepentingan dalam negeri. Ini benar sekali. Apa kepentingan dalam negeri yang harus kita perjuangkan di luar, paling tidak ada tiga hal, (1) melindungi teritorial integrity atau melindungi kedaulatan wilayah negara Republik Indonesia, (2) melindungi warga negara Indonesia yang berada di luar negeri, dan (3) memperjuangkan kepentingan ekonomi Indonesia,? bebernya.
?Elemen kedua di dalam politik adalah kontribusi terhadap perdamaian dan kesejahteraan dunia sebagai anggota bangsa dunia apalagi sebagai negara besar anggota G20, tidak mungkin bagi Indonesia untuk diam, hanya memikirkan kepentingan kita dan tidak mau berkontribusi untuk perdamaian dan kesejahteraan dunia,? jelasnya.
Menurut Menlu Retno, harga diri sebuah bangsa ditentukan bagaimana bangsa dan negara itu mau berbagi, mau berkontribusi untuk dunia. ?Tentunya masih ingat kalimat Bung Hatta mengenai Mendayung di Antara Dua Karang. Kalimat tersebut digunakan untuk menggambarkan sebuah politik luar negeri Indonesia dijalankan pada saat itu di antara dua kepentingan besar agar Indonesia dapat survive. Bung Hatta mengatakan diperlukan sikap politik yang tegas, bebas, dan aktif,? paparnya.
?Saya ingin mengambil esensi dari pidato Bung Hatta yang disampaikan pada tanggal 2 September 1948, hampir 70 tahun yang lalu. Beberapa esensi yang saya ambil dari pidato Bung Hatta, apakah kita hanya harus memilih di antara kepentingan negara besar? Apakah tidak ada pendirian lain yang harus diambil untuk mengejar cita-cita kita? Jangan sampai kita menjadi objek pertarungan internasional. Ini yang penting kita harus menjadi subjek yang berhak menentukan sikap kita, yang berhak menentukkan tujuan kita sendiri,? urai Menlu Retno.
Sekarang ini, menurut Menlu Retno, bukan hanya dua karang yang harus kita perhatikan, tetapi banyak karang, ombak, dan mungkin di dalam pelayaran kapal Indonesia, kita akan bertemu dengan ikan hiu di tengah lautan kepentingan natarbangsa dunia. ?Dunia saat ini dipenuhi dengan banyak ketidakpastian,? ucapnya. (jat)
