Bernas.id – Dinas Kelautan dan Perikanan DIY menyiapkan kompetensi sumber daya manusia nelayan untuk mengoperasikan kapal berkapasitas di atas 10 gross ton. Ini dilakukan sebelum Pelabuhan Tanjung Adikarto di Glagah Kulonprogo diresmikan.
“Pelatihan perlu kami gencarkan karena rata-rata hanya bisa mengoperasikan kapal tempel,” kata Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) DIY Bayu Mukti Sasongko, Sabtu (15/9/2018).
Bayu menjelaskan, saat Pelabuhan Tanjung Adikarto di Kulon Progo ditargetkan dibuka 2020, kapal-kapal berukuran besar 10 hingga 30 grosston (GT) ke atas bisa masuk. Dengan begitu, produksi ikan tangkap ditargetkan mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Karena dengan kapal-kapal besar tentu penangkapan ikan bisa lebih besar dan cepat,” katanya.
Bayu mengatakan hingga saat ini pelatihan pengoperasian kapal berukuran besar kepada para nelayan di kawasan proyek pembangunan Tanjung Adikarto telah berlangsung. Pelatihan dilakukan dengan melibatkan para pendamping dari Balai Pendidikan dan Pelatihan Perikanan (BPPP) Tegal.
Para nelayan mendapatkan pembekalan mencakup teknik pengoperasian kapal, navigasi serta pelatihan ahli nautika kapal penangkap ikan (ankapin), hingga tata cara pengelolaan ikan tangkap pascapenangkapan saat masih di kapal.
“Sampai sekarang sudah ada hampir 50 persen nelayan di kawasan Tanjung Adikarto mendapatkan pembekalan,” imbuhnya.
Menurut Bayu, pembangunan Tanjung Adikarto yang sejatinya telah dimulai sejak 2004 itu, kini kembali memasuki proses studi pendahuluan sebelum pembangunan dilanjutkan. Rencananya pembangunan pelabuhan itu akan diserahkan kepada pihak swasta, sebagai Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU).
“Pada tahun 2019 kami perkirakan sudah selesai proses kajiannya dan bisa dimulai pembangunanya sehingga kami perkirakan 2020 bisa dibuka,” ujarnya.
Pembangunan pelabuhan perikanan itu sempat terhenti karena mengalami perubahan desain, khususnya untuk pembangunan “break water” atau pemecah ombak. Untuk pemecah ombak sisi sebelah timur yang telah terealisasi 220 meter, akan diperpanjang menjadi 390 meter, sedangkan untuk sebelah barat, yang sebelumnya terealisasi 225 meter akan diperpanjang hingga 350 meter.
Sementara untuk keseluruhan bangunan fisik darat pelabuhan itu sudah mencapai 90 persen.
“Tanpa perpanjangan pemecah ombak maka terjadi sedimentasi terus di sepanjang alur pelabuhan sehingga kapal besar tidak bisa masuk,” tandasnya. (den)
