Bernas.id – Terlahir di bumi Indonesia bagian timur, Fakfak Papua Barat tak lantas membuat Maria Deti kalah bersaing dengan sebayanya dari seluruh Nusantara. Semangat dan tekad yang diajarkan keluarga menjadi bekal keberaniannya untuk menjejakkan kaki di luar daerah. Selepas SMA, Deti, begitu ia biasa disapa tak berdiam diri di tanah kelahiran. Ia pun memutuskan merantau dan bekerja di sebuah rumah sakit kota Kupang. Tuntutan pekerjaan memaksanya harus belajar secara otodidak hal-hal yang berkaitan dengan kesehatan.
Tujuh tahun berselang sejak kepergiannya, Deti rupanya ingin kembali berkumpul bersama keluarga di Fakfak. Kerinduan yang lama terpendam akhirnya bisa lebur dengan kepulangannya. Tapi ternyata tak bertahan lama, terbiasa bekerja dan aktif berkomunikasi dengan banyak orang membuat Deti mencari informasi tentang perkuliahan. Semangatnya belajar dan kembali merantau mempertemukan Deti dengan Akademi Pariwisata Buana Wisata Yogyakarta via Facebook. Apalagi perguruan tinggi ini menawarkan beasiswa bagi calon mahasiswanya, maka tekad Deti pun semakin bulat.
Agustus 2018 menjadi saksi pertama Deti menginjak bumi Yogyakarta untuk registrasi sekaligus langsung mengikuti ORMABA. Awal September barulah perkuliahan dimulai. Sebuah tantangan baru harus dihadapinya, kawan seangkatan mayoritas adalah fresh graduates dari jenjang SMA sementara dirinya sudah memasuki tahun ke-8 tercatat sebagai alumnus. Bukan Deti namanya jika tidak bisa beradaptasi, usia bukan jadi penghalang baginya. Meski terbilang mahasiswa dengan usia lebih tua, Deti selalu bertanggung jawab dengan hal-hal kecil baik di kelas maupun dengan para dosen.
Dengan latar belakang orang tua sebagai seorang petani, Deti akhirnya memutuskan untuk ikut seleksi penerima beasiswa full 6 semester yang dibuka pada semester 2. Ia berharap dengan mendapat beasiswa bisa memberinya kesempatan membantu orang tua di Fakfak. Sebagai seorang staf front office di salah satu layanan perhotelan India yang berada di Yogyakarta merangkap housekeeping dan laundry, Deti merasa sangat terbantu dengan adanya seleksi beasiswa full 6 semester ini.
Kesempatan pun dapat diraihnya. Beasiswa telah berada dalam genggaman, Deti semakin berkembang. Pernah suatu kali ia mendaftar untuk mengikuti job training di hotel bintang 4, justru ada tawaran dari pihak manajemen hotel kepadanya untuk menjadi staf tetap di hotel tersebut. Namun kesempatan itu belum bisa Deti ambil karena tujuan utama merantaunya kali ini adalah menimba ilmu, kuliah. Hal ini semakin membuat sosok blasteran Papua NTT optimis jalan ribuan kilometer yang ditempuhnya adalah pilihan yang tepat.
Deti berharap akan muncul Deti-Deti yang lain, berkesempatan menimba ilmu di perguruan tinggi dengan besiswa sehingga mampu menatap masa depan yang semakin cerah dan gemilang. Jarak dan finansial bukan lagi menjadi penyebab terhentinya meraih asa. “Belajar dan mencoba itu tidak instan, membutuhkan keberanian dan niat” (Maria Deti Weni, mahasiswi UNMAHA peraih beasiswa full 6 semester asal Fakfak, Papua Barat)
