BERNAS.ID – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) tengah mengumpulkan data hasil uji klinis imunomodulator herbal untuk pasien Covid-19. Usai data hasil uji klinis selesai akan segera dikirim ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Diketahui, imunomodulator berfungsi untuk meningkatkan daya tahan atau sistem imun tubuh manusia.
Koordinator Kegiatan Uji Klinis Kandidat Imunomodulator Herbal untuk Penanganan Covid-19 Masteria Yunovilsa Putar menyampaikan pengumpulan atau verifikasi data itu bertujuan memastikan keakuratan data riset. Hal itu disampaikan dalam diskusi virtual dengan Tim Uji Klinis Kandidat Imonomodulator untuk Pasien Covid-19, Senin (17/8/2020)
“Kita sedang melakukan data cleaning atau verifikasi data untuk memastikan data penelitian akurat dan dapat dipercaya,” terang Masteria sebagaimana dikutip Bernas.Id dari Antara, Selasa (18/8/2020).
Setelah tahap verifikasi dan dianalisis secara statistik, hasilnya diserahkan pada BPOM sebagai regulator. Di tengah pandemi Covid-19, ada dua produk kandidat imunomodulator yang diujikan, yakni Cordyceps militaris dan kombinasi ekstrak herbal. Kombinasi ekstrak herbai itu terdiri dari rimpang jahe merah (Zingiber officinale var Rubrum), daun meniran (Phyllanthus niruri), sambiloto (Androgprahis paniculata), serta daun sembung (Blumea balsamifera). Ekstrak herbal alami juga memanfaatkan bahan-bahan alami yang ada di Indonesia.
Kendati begitu, tim peneliti belum bisa menyajikan secara detail hasil uji klinis imunomodulator herbal karena masih meninggu analisis BPOM. Kepala LIPI Laksana Tri Handoko menyampaikan uji klinis imunomodulator dengan bahan asli dari keanekaragaman hayati Indonesia ini merupakan yang pertama dilakukan secara independen. Menurutnya, jika dua produk imunomodulator tersebut terbukti berkhasiat dan hasil analisis BPOM juga menyatakan hal yang sama, maka dua produk tersebut bisa menjadi fitofarmaka.
Apabila ditetapkan sebagai fitofarmaka maka imunomodulator dapat diproduksi massal dan diresepkan oleh dokter untuk dipakai dalam penanganan pasien Covid-19. Di samping itu, harganya juga relatif lebih murah karena bahan bakunya lokal ada di Indonesia.
“Harganya relatif jauh lebih murah karena formula dan bahan baku lokal,” imbuhnya. (mta)
