SLEMAN, BERNAS.ID – Selain tenaga kesehatan, relawan-relawan yang bertugas memakamkan jenasah positif Covid-19 juga menjadi garda terdepan di masa Pandemi Covid-19. Pekerjaan beresiko itu dilakukan atas dasar kemanusiaan.
Salah satu relawan dari Kabupaten Sleman, Safriandi, warga Bangunrejo Tempel (35) mengatakan sudah puluhan kali memakamkan jenasah positif Covid-19. “Untuk pemakaman, sudah puluhan kali,” tuturnya, Selasa (2/9/2020).
Untuk kendala pemakaman, Safriandi menyebut tidak menemukan banyak masalah karena sudah sering melakukan pemakaman di kampungnya. Seringnya penerangan yang terbatas, menjadi kendala saat memakamkan jenasah positif Covid-19 saat malam hari. “Kendalanya, penerangan pakai headlamp dan senter, tapi kalau warga punya genset, kita pakai itu,” ucapnya.
Relawan yang lain, Asep Andi, warga Sleman (34) menceritakan sering melakukan pemakaman jenasah Covid-19 saat malam dan pagi hari. “Memakamkan jenasah malam sering, bahkan pagi jam 3 atau jam 4. Untuk siang bisa dihitung dengan jari,” katanya.
Terkait penolakan sejumlah masyarakat, Asep menceritakan pernah terjadi di awal-awal pandemi saat itu. “Pernah ada, tapi bisa diselesaikan gugus tugas desa setempat di wilayah Mancasan, Condongcatur. Setelah diedukasi tim assesment PMI dan gugus tugas desa, masyarakat sudah bisa memahami,” tuturnya.
Untuk munculnya rasa takut, Safriandi dan Asep mengatakan hal yang wajar. “Takut itu wajar dan takut itu pasti. Sebenarnya kita takut, tapi sudah tahu prosedurnya, kita berani demi kemanusiaan. Kita APD lengkap sesuai SOP standar protokol kesehatan dari gugus tugas,” beber Asep.
Untuk hal mistis, keduanya mengatakan kalau itu tergantung masing-masing relawan, meski ada yang sering lihat dan ada yang tidak. Pemakaman terjauh jenasah positif Covid-19, keduanya mengatakan sampai di wilayah Kalasan, Prambanan, bahkan perbatasan di Cangkringan Argomulyo.
Menyangkut kabar pembubaran relawan pemakaman jenasah Covid-19, kedua menjawab itu untuk yang di BPBD DIY, sedangkan yang di Kabupaten Sleman masih ada dengan adanya SK dari Bupati dengan masa berlaku sampai akhir September. Selain itu, PMI Sleman sendiri juga mengeluarkan SK yang diperbarui setiap dua minggu sekali.
Sedangkan, Septiadi (34), Humas PMI Sleman mengatakan terkait pembubaran relawan pemakaman jenasah Covid, ia mendapatkan informasi dari akun media sosial TRC DIY untuk area dekontaminasi dan pemakaman. “Saya nggak bisa berstatement selain itu,” katanya.
Semenjak relawan provinsi dibubarkan, ia mencatat kenaikan pemakaman di Kabupaten Sleman. “Dalam seminggu ini sudah 6 kali pemakaman,” ujarnya.
Untuk jumlah jenasah positif Covid yang dimakamkan sampai dari awal pandemi sampai terakhir hari Selasa (2/9/2020), Septiadi menyebut 67 pemakaman sampai hari ke-133. Ia mengatakan sampai saat ini, belum ada relawan yang positif Covid-19 karena sesuai protokol kesehatan. (jat)
