Sistem pendidikan di Singapura sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Bahkan, Singapura termasuk salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, tidak kalah dengan Amerika dan Jepang.
Dengan kualitas pendidikan seunggul itu, wajar saja kalau perkembangan ekonomi Singapura berubah pesat hanya dalam waktu beberapa decade saja.
Tapi, bagaimana bisa negara yang siswanya banyak yang putus sekolah selama perang dunia itu bisa meningkatkan kualitas pendidikan mereka sejauh ini? Padahal, kurikulum pendidikannya tidak jauh beda dengan Indonesia, loh.
Nah, buat kamu yang juga penasaran mengapa mereka bisa juara dalam hal pendidikan, simak ulasannya berikut ini, ya.
1. Pengajar Berkualitas

Kualitas guru di Singapura (foto: vox)
Pernah mendengar istilah bahwa kualitas seorang guru memengaruhi prestasi siswa-siswanya? Itulah prinsip yang diterapkan oleh Pemerintah Singapura. Dengan tujuan menjadikan sistem pendidikan di Singapura sebagai sistem pendidikan kelas dunia, maka Singapura memulainya dengan berinvestasi secara signifikan pada kualitas pengajarnya.
Berbeda dengan di Indonesia, tidak semua orang bisa menjadi guru di negara berlambang Merlion tersebut. Mereka yang terpilih sebagai guru merupakan lulusan SMA dengan nilai terbaik.
Tak hanya itu, mereka juga harus menjalani pelatihan intensif di Institut Pendidikan Nasional (NIE), institute pemerintah yang bertanggung jawab mengembangkan gugus tugas berkualitas tinggi. Karena itulah, kualitas semua guru dapat terkontrol dan terjamin dengan rata, tanpa perbedaan.
Selain itu, model pengajaran di NIE juga selalu dikembangkan mengikuti tuntutan zaman. Misalnya pada abad ke-21 ini, di mana dunia sekolah-sekolah mulai memasuki era pembelajaran digital. Untuk mempersiapkan agar para guru dapat menangani isu tersebut, dibentuklah model pengajaran baru dengan nama “Model Pendidikan Guru Abad 21”.
2. Budaya Kondusif

Peran orang tua dalam pendidikan anak (foto: ntucfirstcampus)
Di negara ini, bukan hanya guru yang memainkan peran penting dalam memajukan para siswa, tetapi juga para orang tua. Orang tua selalu dilibatkan dalam proses pendidikan anak-anak mereka.
Bahkan ada usaha khusus agar sesibuk-sibuknya orang tua, mereka tetap peduli pada pendidikan anak mereka. Misalnya saja dengan mengundang para orang tua untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan sekolah yang bisa mengeratkan hubungan orang tua dan anak.
Selain itu, baik orang tua dan guru sama-sama menekankan nilai tanggung jawab dan usaha keras pada para siswa. Bagi kebanyakan dari mereka, tidak ada anak yang terlahir pandai. Semua memiliki kecerdasan yang sama, karena itu mereka dituntut untuk membuktikan keberhasilan mereka dengan upaya mereka sendiri.
3. Sistem Pendidikan di Singapura Berfokus pada Mata Pelajaran Tertentu

Sistem Pendidikan di Singapura (foto: smiletutor)
Untuk memaksimalkan potensi siswa, tidak banyak mata pelajaran yang wajib diikuti oleh para siswa dalam satu waktu. Kurikulumnya memfokuskan pada beberapa mata pelajaran pokok saja, yaitu Bahasa Inggris, Bahasa ibu (Bahasa Mandarin, Melayu, atau Tamil), matematika, pengetahuan alam, olahraga dan pendidikan sosial, dan kesenian.
Alih-alih dijejali berbagai teori yang tidak ada habisnya, mereka dibekali pengetahuan dan keterampilan praktis agar mereka mampu memecahkan masalah dan berpikir kreatif. Para guru juga dikenalkan pada strategi “teach less, learn more” sehingga mereka lebih terfokus pada kualitas daripada kuantitas pendidikan.
Itulah tiga alasan mengapa sistem pendidikan di Singapura tidak kalah maju dibandingkan negara-negara Eropa dan Amerika. Selain itu, pemerintah juga giat melakukan evaluasi terhadap kurikulum mereka. Wah, jadi ingin sekolah di Negeri Singa itu, ya?
