BERNAS.ID – Pandemi Covid-19 telah mengguncang perekonomian berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Namun, sektor kesehatan mengambil peran penting dalam penanganan wabah. Mari kita kupas kisah Fajar Atmajaya lebih lanjut.
Industri farmasi dan alat kesehatan (alkes) mengalami permintaan yang tinggi di tengah pandemi. Beberapa yang diburu masyarakat adalah vitamin, obat-obatan, masker, hand sanitizer, faceshield, dan alkes lainnya.
Co-Founder PT Kolosal Mitra Terpercaya Fajar Atmajaya mengaku sempat kewalahan melayani permintaan pelanggan akibat high demand di masa seperti sekarang.
Dia mengatakan, terjadinya peningkatan omzet hingga dua kali lipat pada 2020 dan terus naik hingga 3-4 kali lipat pada tahun ini seiring dengan pertambahan jumlah pelanggan.
Baca Juga: Perjalanan Yudi Darma, Mencintai Fisika hingga Menjadi Guru Besar ITB
Berbicara tentang perusahaan yang dikenal sebagai PT Komite itu tentu tak bisa terpisah dari sosok Fajar. Seorang pria yang mendedikasikan hidupnya selama lebih dari 28 tahun membangun jaringan bisnis di industri kesehatan.
Namun, berkah yang diperoleh tentu bukan tanpa halangan, apalagi Fajar merintis karier mulai dari nol. Kepada Bernas.id, dia menceritakan kisah perjalanan hidupnya yang bisa menjadi inspirasi bagi sesama.
Mencari Uang Sejak Kuliah
Fajar berasal dari Bogor, Jawa Barat. Hingga bangku SMA, dia menghabiskan waktunya di Kota Hujan itu. Meski berasal dari keluarga sederhana, dia bertekad untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta. Orangtuanya bersusah payah untuk membiayai kuliah Fajar di Universitas Pancasila, Jurusan Farmasi hingga meraih gelar Apoteker.
Untuk tidak membebani ayah dan ibunya lebih jauh lagi, akhirnya dia memutuskan untuk mencari uang demi membiayai hidupnya selama berada di Ibu Kota. Darah bisnis telah mengalir dalam dirinya sejak kecil, mengingat orangtuanya yang berprofesi sebagai pedagang.
“Saya mulai mencari uang itu sejak semester 4 ketika kuliah. Saya jual kaos, jeans, kaset, dan barang apa saja yang bisa dijual secara halal,” katanya.
Keadaan berlanjut pada saat mengerjakan tugas akhir, Fajar memiliki waktu luang yang lebih banyak sambil menunggu alat untuk penelitian. Hal itu mendorongnya untuk melakukan sesuatu yang bisa memberikan penghasilan secara rutin.
Akhirnya, dia memutuskan untuk melamar pekerjaan di perusahaan farmasi. Profesi yang sangat memungkinkan saat itu adalah sebagai marketing. Dengan begitu, bisa bekerja sambil menyelesaikan kuliahnya.
“Ternyata, keputusan saya nggak salah karena rupanya bakat saya memang di situ,” ujarnya.
“Saya memulai karier dari paling bawah sebagai medical representative, yang melakukan promosi obat-obat ke dokter,” imbuhnya.
Baca Juga: Kisah Irzan Nurman, Jembatani Dunia Kedokteran dengan Teknologi dan Bisnis
Fajar termasuk angkatan pertama di antara teman-teman kuliahnya, yang mulai bekerja di perusahaan. Keterampilan bekerja sudah berkat pengalamannya berdagang selama kuliah.
Dia selalu berupaya untuk menjadi yang terbaik dan selalu gigih. Fajar punya prinsip tidak ada yang tidak bisa dilakukan sebelum mencobanya terlebih dulu. Itulah yang mengantarkannya pada jenjang karier yang tertinggi.
Jatuh Bangun Merintis Bisnis
Sepanjang kariernya, Fajar dipercaya oleh beberapa perusahaan, mulai dari level manager hingga Head of Marketing and Sales.
Namun, rasa ingin tahu yang besar membuatnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan Dexa Medica Group pada 2013. Dia ingin menjadi entrepreneur, sebuah pencapaian tertinggi yang dimimpikan oleh karyawan pada umumnya.
“Semua orang membayangkannya jadi pengusaha itu yang enak-enak saja, termasuk saya. Selama berkarier jarang mengalami hambatan, semuanya nampak dilalui dengan mulus terlihat dari karier yang moncer,” ucapnya.
Berbekal memiliki jaringan yang luas, Fajar berpikir akan lebih mudah ketika memasarkan produk alkes. Namun, Fakta berkata lain. Bisnis obat-obatan dengan alat kesehatan merupakan hal yang agak berbeda.
Ketika merintis bisnis sendiri ternyata tidak seindah apa yang dibayangkan Fajar sebelumnya. Semuanya harus dilalui dengan perjuangan yang tidak mudah, mulai dari mengatur keuangan, membangun sistem organisasi, membuat strategi dan memasarkan produk.
“Pada 2013 sampai 2018, 5 tahun pertama itu jatuh bangun setengah mati. Saya memilih produknya nggak tepat, melawan arus,” ujarnya.
Produk yang dipilihnya termasuk yang belum diterima sepenuhnya oleh kalangan dokter, membuatnya harus berjuang dari nol lagi, membuka dan mengedukasi market baru serta mengalami penolakan yang besar dari para dokter.
Sebagai informasi, PT Komite didirikan pada 2014, di bawah PT Kolosal Pratama. Pada awalnya, PT Komite berfokus pada penjualan produk alat kesehatan di bidang jantung, antara lain alat terapi jantung EECP (Enhanced External Counter Pulsation).
Baca Juga: Kisah Hidup Pemilik TX Travel Anton Thedy, Tukang Jalan-jalan Sejak SD
Hasil kerja keras dan pantang menyerah akhirnya membuahkan hasil. Kebangkitan PT Komite mulai terjadi pada 2018, seiring dengan mulai diterimanya alat terapi EECP di kalangan dokter serta penambahan produk-produk baru.
“Ternyata kunci suksesnya adalah ketepatan pemilihan produk dan kejelian melihat peluang pasar,” katanya.
Pandemi Jadi Momentum
Semenjak pandemi, diversifikasi produk mulai dilakukan antara lain dengan menyediakan alat-alat kesehatan penunjang kebutuhan pasien Covid-19. PT Komite merupakan yang pertama memproduksi faceshield, yang kemudian penggunaannya mulai meluas.
Selain itu, perusahaannya juga sukses memasarkan produk alat bantu napas HFNC (High Flow Nasal Cannula) produksi Indonesia untuk pasien Covid-19.
Namun, dia menyadari pandemi tidak akan berlangsung selamanya. Untuk terus bisa eksis, Fajar mengatakan perusahaannya telah menyiapkan berbagai produk yang bisa digunakan setelah wabah berakhir.
Dukung Wisata Medis
Melihat bisnis di industri kesehatan yang tahan banting dalam segala situasi, dia meyakini peluangnya bahkan terus terbuka termasuk wisata medis.
Kini, Fajar tergabung dalam Asosiasi Wisata Medis Indonesia (AMWI) bagian Komite Alat Kesehatan. Menurutnya, pandemi menjadi momentum bagi industri kesehatan Tanah Air untuk bangkit.
“Saat pandemi jadi momentum bagus bagi dokter dan pelayanan kesehatan di Indonesia untuk unjuk gigi karena selama pandemi orang nggak bisa ke mana-mana,” ucapnya.
Sebelum pandemi, sebagian pasien di Indonesia memutuskan untuk berobat ke luar negeri sekaligus menghabiskan waktu dengan berwisata.
Potensi lainnya dari wisata medis di dalam negeri adalah dengan menarik pasien dari luar negeri melalui pemberdayaan kekayaan dan keindahan alam, serta potensi kesehatan tradisional Indonesia.
Menurutnya, wisata medis yang bersifat alam seperti spa, pijat tradisional, air panas belerang, air terjun, herbal tradisional dan lainnya bisa menjadikan ikon wisata medis Indonesia serta mendatangkan pundi-pundi cuan.
“Kita gunakan kekayaan alam di Indonesia sehingga bisa mendatangkan wisatawan dan devisa,” ujarnya.
Membangun Bisnis yang Langgeng
Fajar punya pesan bagi generasi muda yang ingin terjun pada industri kesehatan. Menurutnya, era digital memberi kesempatan yang sangat terbuka bagi generasi muda untuk berbisnis.
Dia menilai bisnis kesehatan termasuk stabil dan tahan terhadap krisis karena kesehatan merupakan kebutuhan dasar setiap manusia. Dengan kemajuan teknologi, memulai bisnis kesehatan tidak susah, bahkan bisa diawali dengan menjadi reseller.
“Setelah massanya terbentuk, punya banyak pelanggan, pelan-pelan sudah mulai dapat duit, modal sudah ada, kemudian kalau passion-nya di sana, mereka harus mendirikan perusahaan yang legal dan mengikuti aturan yang ada,” kata Fajar.
Baca Juga: Arief Budiman, Nyaman dengan Dunia Jurnalistik Radio hingga Jadi Presiden KVDAI
Menurutnya, selama pandemi banyak pelanggaran dalam penjualan produk-produk kesehatan, seperti: alat tes rapid antibody/antigen, alat test PCR, obat-obatan tertentu, dan lain-lain.
Baca Juga: AI Powered SEO, Strategi Cerdas Optimalkan Bisnis Dibantu Google
Padahal, barang-barang tersebut tidak untuk diperdagangkan secara bebas, tetapi harus memerlukan izin dan penanganan khusus serta oleh petugas yang kompeten dengan tujuan untuk melindungi masyarakat.
“Pesan saya, pada tahap awal mulailah menjadi reseller untuk produk-produk yang banyak dibutuhkan tetapi tidak memerlukan izin khusus, seperti hand sanitizer, desinfektan, masker, faceshield,” ucapnya.
“Setelah bisnis berkembang lanjutkan dengan mengurus izin legalitas supaya bisnisnya aman dan langgeng,” imbuhnya.
Seperti kisah Fajar Atmajaya yang memulai karier dari nol hingga sukses di dunia bisnis alat kesehatan, langkah awal yang tepat bisa menjadi kunci masa depan yang gemilang. Pendidikan yang berkualitas adalah fondasi penting dalam perjalanan menuju kesuksesan. Bagi yang ingin melanjutkan studi, kini kesempatan terbuka lebar. Kuliah sambil berbisnis bukan lagi impian. Menjadi reseller laptop adalah solusi cerdas untuk mendapatkan penghasilan tambahan tanpa mengganggu jadwal akademik. Raih masa depan dengan mendaftar di UNMAHA. Hubungi langsung melalui WhatsApp di nomor resmi UNMAHA untuk mendapatkan respons cepat serta informasi akurat. Universitas Mahakarya Asia juga telah membuka kesempatan bagi Anda yang ingin mendapat beasiswa berupa gratis pembayaran SPP kuliah.***5
