Bernas.id – Presiden Jokowi terus menggenjot 100 masterplan smart cities. Sebagai informasi, Indonesia telah menginisiasi gerakan smart cities sejak 2017. Pada 2021, Presiden Jokowi telah menyusun rencana induk masterplan smart city untuk 100 kota dan kabupaten di Indonesia.
Konsep ini sangat mendukung pendukung pencapain tujuan pembangunan berkelanjutan. Selain itu, adanya smart cities juga akan membangun produktivitas masyarakat. Isu smart city ini juga erat kaitannya dalam perkembangan masyarakat di era ekonomi digital. Lalu apa itu smart cities? Berikut informasinya:
Definisi Smart Cities
Smart city adalah kota yang dapat menyelesaikan berbagai masalahnya menggunakan solusi cerdas yang memanfaatkan sumber daya (terutama teknologi) dengan sangat efisien. Tujuan adanya konsep smart city ini adalah untuk menyediakan layanan cerdas yang dapat meningkatkan kualitas hidup, didukung oleh upaya transformasi budaya.
Dalam menciptakan smart cities ini, diperlukan adanya sumber daya yang saling terhubung yaitu smart economy, smart society, dan smart environment. Terdapat dua indikator di mana suatu kota bisa dikatakan telah memenuhi konsep smart city, yaitu kualitas hidup masyarakat dan tingkat kecerdasan masyarakat untuk mencapai kualitas hidup yang lebih baik.
Awal Mula Smart Cities di Indonesia
Ide mengenai smart cities di Indonesia ini digagas oleh Profesor Suhono Harso Supangkat yang merupakan guru besar dalam bidang teknik elektro di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam sebuah wawancara dengan Bernas.id, Profesor Suhono mengaku smart cities ini bisa menjadi solusi dalam mengatasi semua permasalahan di kota seperti banjir, macet, kemiskinan, layanan kesehatan yang buruk, dan sebagainya.
“Urbanisasi di kota besar semakin tinggi. Sementara itu, kebutuhan akan energi, pengelolaan sampah, air, dan kesehatan di kota besar yang tinggi akan memicu kompleksitas pengelolaan kota. Jika dibiarkan, maka gap antara masalah dan solusi semakin jomplang,” ungkapnya.
Menurut Prof. Suhono, persoalan yang ada di kota tidak bisa diselesaikan dengan cara konvensional seperti blusukan saja. Karena itu, diperlukan suatu inovasi dan pendekatan yang sedemikian rupa agar semua persoalan tersebut bisa diselesaikan dengan cepat dan akurat.
Baca juga: Rektor UNMAHA Berikan Tips Hadapi Era Society 5.0
Langkah Menuju Smart City
Prof. Suhono juga berkata bahwa bidang teknologi informasi dan komunikasi dalam beberapa tahun ini telah berhasil melakukan inovasi seperti internet dan social robot. Pemahaman akan persoalan kota dari lahir hingga mati sangat beragam atau dari bangun tidur hingga kembali tidur lagi sangatlah beragam.
Tentunya, kita semua akan merasa kesulitan dalam memahami bagaimana perilaku manusia mulai lahir hingga mati atau mulai dari bangun tidur hingga kembali tidur lagi akan sangat terbatas.
“Misalnya, ketika bangun tidur kita harus mandi lalu pergi bekerja, akan ada banyak hal yang bisa terjadi. Nah, untuk mengetahui semua kejadian tersebut tentu sangat repot,” ungkapnya.
Namun dengan adanya teknologi, semua hal atau masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia bisa diketahui dan ditangani dengan cepat. Meski demikian, Profesor Suhono mengatakan bahwa teknologi bukan faktor utama yang menunjang adanya smart city.
“Teknologi perlu disebarkan dan diketahui oleh masyarakat. Selain itu, memproses tata kelola antara teknologi dan masyarakat serta kejadian di kota tersebut membutuhkan pengelolaan dan kultur yang baik,” ungkap Prof. Suhono.
Karena itu, untuk menciptakan smart city diperlukan adanya komunitas yang cerdas dan cukup teknologi agar kota tersebut mampu hidup dan melayani secara normal kebutuhan pokoknya. Dengan kata lain, untuk menciptakan smart cities maka diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang unggul.
