BERNAS.ID – Jamu kunir asem, jamu beras kencur, jamu pegal linu, jamu kunyit asem, dan jamu sambiloto adalah sebagian minuman herbal asli Indonesia yang cukup dikenal oleh masyarakat.
Padahal, ada lebih dari 1.400 jamu atau ramuan herbal yang tersebar di seluruh Nusantara. Ini merupakan potensi bagi kemajuan pengobatan di Tanah Air. Syaratnya, jamu harus diuji klinis dan terstandar sehingga bisa menjadi Obat Modern Asli Indonesia.
Melihat peluangnya yang besar, berbagai pihak berupaya untuk membuat jamu bergandengan dengan pengobatan kedokteran konvensional. Bahkan, era pemerintahan Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono berdiri Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI).
Baca Juga: Mengenal Wisata Medis dan Potensinya di Indonesia
Perhimpunan itu didirikan oleh dokter pribadi presiden ketika itu, dr. Hardhi Pranata, Sp.S. Sebagai bagian dari pengurus Asosiasi Wisata Medis Indonesia (AWMI), ia berharap herbal Indonesia menjadi daya tarik wisatawan asing.
Tak hanya dari pemerintah dan asosiasi, jamu juga telah dikembangkan oleh pelaku usaha, seperti Mustika Ratu, untuk semakin mengenalkan ramuan tradisional. Selalu ada harapan agar jamu bisa diterima di kalangan medis dan masyarakat secara luas.
Berbicara di program Telinga Podcast Indonesia yang disiarkan secara virtual, dr. Hardhi mengaku aktif sebagai pegiat jamu atau pengobatan herbal sejak 2009. Bermula ketika ia menjadi dokter pribadi di istana negara.
Pada suatu hari, istana kedatangan rektor dari Beijing University of Chinese Medicine. Dia mengungkapkan pengobatan tradisional China bisa bergandengan tangan dengan pengobatan kedokteran konvensional. Sementara saat itu, jamu belum diterima oleh para dokter.
“Kami kemudian segera mendirikan Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia. Saya tidak menamakan perhimpunan dokter jamu, karena jamu itu di telinga dokter masih agak kurang nyaman,” katanya.
Upaya untuk memperdalam jamu Nusantara juga dilakukan dengan mendirikan program magister ilmu herbal. Hardhi menyebutkan beberapa rumah sakit di Tanah Air telah menerima herbal atau jamu sebagai bagian yang terintegrasi dalam pengobatan, seperti RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta dan RSUP Sanglah di Denpasar.
Ramuan jamu yang telah digunakan di rumah sakit berarti sudah sah secara medis, artinya telah melalui proses saintifikasi. Uji itu memastikan jamu atau obat herbal telah aman, memberi manfaat, tidak menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan, dan diawasi oleh para dokter.
“Tapi tetap ada syaratnya, yaitu Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). Obat yang berbahan alam dari Indonesia, dilakukan uji pra klinis, uji klinis sehingga dokter bisa menerima,” tuturnya.
Baca Juga: Mahasiswa UNY Ciptakan Alat Siram Kumbung Jamur Tiram Otomatis
Sebagai seorang dokter, dia menyadari terjadi dilema terhadap penggunaan jamu untuk pengobatan. Padahal ketika dokter sedang tidak bertugas, mereka juga terbiasa minum jamu karena produk herbal itu sudah menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan masyarakat Indonesia.
“Kalau dokter bisa sehat ya juga karena minum jamu. Mereka sebagai masyarakat tidak menolak jamu. Karena jamu bagian daripada keseharian kita sehari-hari,” katanya.
Jamu merupakan warisan budaya nasional sehingga harus dilestarikan. Saat ini, jamu sedang diperjuangkan agar diakui UNESCO, seperti halnya batik, kering, dan angklung.
Hardhi menilai pentingnya menanamkan visi untuk memajukan jamu herbal Indonesia agar masuk ke berbagai lini kehidupan masyarakat. Dimulai dari petani yang menanam tanaman herbal, pelaku usaha untuk memajukan herbal, dan para dokter, serta masyarakat.
“Para dokter bisa memakai jamu yang sudah tersertifikasi atau melalui obat modern asli Indonesia. Itu perlu visi nasional,” ujarnya.
Perjuangan Mustika Ratu
Sebagai bagian dari tradisi, upaya pelestarian jamu telah dilakukan oleh BRA Mooryati Soedibyo, yang merupakan Founder PT Mustika Ratu Tbk. Pada usia tiga tahun, dia tinggal bersama sang kakek, Sri Susuhunan Pakubuwana X, di Kraton Surakarta.
Pakubuwana X adalah raja Kasunanan Surakarta yang memerintah pada tahun 1890-1939. Mooryati bercerita, sang kakek mendidiknya untuk meramu jamu berkhasiat menjaga kesehatan dan kecantikan, yang berasal dari bahan-bahan asli Nusantara.
“Pengalaman tersebut memberikan inspirasi kepada saya untuk memperkenalkan produk kesehatan dan kecantikan dengan ramuan holistik Indonesia ke mancanegara,” ucap Mooryati.
Baca Juga: Indonesia Kaya Bahan Jamu, BPOM: Jangan Terpana Klaim Obat yang Aduhai
Kemudian, dia mendirikan Mustika Ratu pada 1975, yang kini terkenal sebagai perusahaan kosmetik dan jamu modern tradisional Indonesia. Usaha itu berawal dari dalam garasi kediaman Mooryati hingga berkembang menjadi perseroan terbatas atau PT.
Namun sebelumnya, Mustika Ratu telah membangun pabrik di Ciracas, Jakarta, pada 1981. Pada saat itu, Mustika Ratu menjadi pabrik kosmetik dan jamu terbesar pertama di Indonesia.
“Kami memperluas pangsa pasar dengan memperluas ekspor ke lebih dari 20 negara,” ujarnya.
Mooryati mengatakan, PT Mustika Ratu resmi go public pada 1995 dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada 1997, Mustika Ratu membuka Taman Sari Royal Heritage Spa yang menghadirkan berbagai perawatan kecantikan dengan rempah asli Indonesia dan teknik Javanese Massage. Itu merupakan bagian dari dukungan terhadap pariwisata Indonesia.
“Kami konsisten untuk memanfaatkan kekayaan alam dan warisan budaya Indonesia menjadi produk yang memiliki kearifan lokal sesuai dengan filosofi the body, mind, and spirit untuk mendukung pariwisata Indonesia, wellness tourism,” jelasnya.
“Semoga jamu dan perawatan kesehatan berbasis budaya Indonesia semakin dikenal dan menjadi daya tarik bagi pariwisata Indonesia,” imbuh Mooryati.
Baca Juga: Tingkatkan Kekebalan Tubuh, BPOM Dukung Jamu Gendong Dijual Online
Dengan istilah Jamunomics, Mustika Ratu memilih menggunakan 100% bahan herbal yang berasal dari petani dan UMKM. Dengan mengoptimalkan bahan-bahan asli Indonesia yang melalui proses Quality Control, kemudian diolah menjadi berbagai produk jamu.
Cita-cita Besar
Temulawak, kunyit, asam jawa, bajaka, jahe, buah merah, sarang semut, dan bermacam-macam tanaman obat lainnya tersebar di Nusantara. Hardhi bersama dengan asosiasi memiliki cita-cita besar untuk membangun satu “akuarium” atau “showroom” yang disebut anjungan.
Anjungan ini nantinya merupakan tempat berbasis wisata medis yang menawarkan berbagai jenis pengobatan dan ramuan herbal. Tak hanya itu, anjungan juga akan diisi dengan taman herbal, museum, cafe, dan diorama tentang jamu.
Peran pemerintah daerah sangat penting untuk berkontribusi dalam mewujudkan anjungan tersebut.
“Jadi kita lestarikan tidak hanya sebagai bagian dari wisata domestik dan menarik turis mancanegara, tapi juga wisata pendidikan,” ujarnya,
Wisata medis memiliki peluang besar untuk dikembangkan di Indonesia. Istilah wisata medis telah eksis sejak dulu, bahkan ada Peraturan Menteri Kesehatan No.76 Tahun 2015 tentang Pelayanan Wisata Medis.
Menurut beleid itu, wisata medis adalah perjalanan ke luar kota atau dari luar negeri untuk memperoleh pemeriksaan, tindakan medis, dan/atau pemeriksaan kesehatan lainnya di rumah sakit.
Baca Juga: Kisah Taufik Jamaan, Wujudkan Asa Jadi Dokter dan Dorong Wisata Medis di Indonesia
Ketua AMWI dr. Taufik Jamaan SpOG menyebut pemerintah dan rumah sakit sangat antusias menyambut kehadiran wisata medis. Dia bahkan menilai pandemi menjadi peluang untuk mengembangkan potensi wisata medis di Tanah Air, dengan target utama adalah turis lokal.
“Sebelum pandemi banyak orang bolak-balik ke negara tetangga untuk medical check-up, sekarang nggak bisa ke luar negeri. Jadi kita sasar saja market lokal,” ucapnya.
