SLEMAN, BERNAS.ID – Tak dipungkiri marketplace menjadi penolong bagi para pengusaha kecil Industri Kecil Menengah (IKM) di kala pandemi Covid-19 dan pembatasan sosial ketika PPKM. Seperti yang dirasakan Mohamad Sulkhi Mubarok (35) dengan usahanya yang memroduksi pie salak Paijo bersama 5 karyawannya.
Mubarok, sapaan akrabnya, menceritakan saat penerapan PPKM Level 4 membuat omset pie salaknya turun di penjualan secara offline. Namun, ia berpikir kreatif karena masih mempunyai cara menjual produknya melalui marketplace dengan Shopee. “Kondisi atau situasi pandemi memaksa orang untuk keluar susah dan orang disuruh diam untuk di rumah. Otomatis, mereka kegiatannya melihat handphone yang salah satunya bisa jadi akses untuk ke marketplace,” tuturnya di rumah produksi pie salak Paijo di Kancilan, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, Jumat (5/11/2021).
“Marketplace kini menjadi tempat orang mencari sesuatu sekarang di handphone,” imbuhnya.
Baca Juga Kesempatan Tren Online, Teten Masduki: Pelaku UMKM Terhubung Marketplace
Untuk itu, di masa pandemi ini, secara otomatis, lanjut Mubarok, usahanya mengoptimalkan penjualan melalui digital atau marketplace. “Kita ada saya sendiri dan tenaga admin yang paham marketplace. Ada tenaga produksi yang juga ikut jualan di marketplace. Kita punya karyawan memiliki kemampuan berkompeten di bidang online,” tuturnya.
Ia mengatakan usahanya yang baru berusia 7 bulan ini merasakan perbedaan yang jauh sekali ketika menggunakan marketplace. “Di saat pandemi, mau tidak mau memaksimalkan di marketplace sebagai ajang berkomunikasi dan mengenalkan produk. Penjualan lumayan, alhamdulillah, selama 7 bulan ini,” paparnya.
“Untuk konsumennya, kebanyakan dari luar kota, seJawa, kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Bali. Mereka tahunya lewat marketplace yang kita pakai,” tambahnya.
Ia mengatakan untuk pengoperasian marketplace kombinasi antara memakai handphone dan PC dengan jam kerja sampai 9 malam. “Orderan paling banyak dari marketplace. Beli dari handphone dikirim. Rata-rata dus yang terjual dalam satu hari 15-20. Seminggu bisa mencapai 100 dus,” ujarnya.
Soal higenitas produknya dan dijamin bebas dari Covid-19, Mubarok mengatakan sudah menerapkan protokol kesehatan di tempat produksinya. Mayoritas karyawan juga sudah vaksin. “Penerapan prokes, wajib pakai masker, pakai handsanityser, dan sering-sering cuci tangan. Bahkan, ada sarung tangan yang wajib dipakai saat produksi,” ujarnya.
“Insyaallah, kehigienitasan dan bebas Covid-19 terjaga. Cara pengemasannya, produk yang sudah jadi kita wrapping plastik full yang akan membantu Paijo lebih lama, tahan sampai 7 hari dan kalau masuk lemari pendingin bisa sebulan,” tambahnya.
Baca Juga 7 Rahasia Meningkatkan Omzet Penjualan di Marketplace
Mubarok pun bersyukur di masa sulit pandemi Covid-19, usahanya masih bisa berjalan dan memberikan untung. Ia pun bercerita kenapa memilih buah salak untuk bahan dasar pie salaknya. “Ini wujud keprihatinan kita terhadap hancurnya harga salak pondoh saat musim panen apalagi Sleman sentra terkenal dengan salak pondoh. ” Pada tahun 2016, ketika akan liburan akhir tahun di Yogyakarta, saat terjebak macet, saya belok kiri lewat jalan tembus sampai ke Turi Sleman. Desember waktu panen salak dan banyak orang jualan salak, kita mampir beli,”katanya.
“Kita tanya berapa sekilo Bu? Dijawab 5000. Kita tawar 3000 boleh nggak, kita iseng. Boleh waktu itu, kita beli 5 kilogram,” imbuhnya.
Nah, lanjut Mubarok, di mobil heboh, masak salak pondoh enak banget kok dijual 5000. “Kita ada Pakde di Jogja, ngomong itu dari petani langsung hanya dijual 1000.Kita malah bukannya seneng, tapi malah prihatin,” katanya.
“Kok kasihan banget petaninya, kita mulai berpikir, ini harusnya bisa bikin sesuatu untuk salak pondoh Sleman,” imbuhnya.
Lalu, di akhir 3018, pas liburan jalan-jalan ke Malang, saya mencoba kue strudel Malang dari bahan dasar buah apel, yang jadi ikon baru Kota Malang. “Saya berpikir seharusnya bisa nih salak dibuat seperti ini. Salak pondoh harusnya bisa kayak strudel Malang, langsung kepikiran bikin pie salak jogja, langsung dapat nama pie salak Jogja atau Paijo,” bebernya.
Mubarok mengatakan selama produksinya membuat pie salak, dalam satu bulan bisa membutuhkan 250 kilogram atau 15-20 kilogram salak setiap hari. Buah salak ini dibeli dari beberapa petani di Sleman wilayah Turi.
“Harapannya, ke depan, kalau produksi kita semakin meningkat, kita akan memperbanyak kerjasama dengan banyak petani. Kita akan beli di atas harga tengkulak,” imbuhnya.
Ia pun tak memungkiri bahwa visi dan misinya memberdayakan petani sehingga kesejahteraan meningkat dan mengangkat pamor buah salak pondoh Sleman yang menurutnya, rasanya istimewa, unik, dan otentik sehingga menjadi keunggulan produk pienya.
“Kontur tanah mempengaruhi rasa salak pondoh Sleman. Untuk itu, salak pondoh harus menjadi kebanggaan warga Yogyakarta, bukan hanya warga Sleman,” tukasnya. (jat)
