Palu, Bernas.id — Melalui wadah Kumania Sulawesi Tengah (Sulteng) yang tergabung dalam Persatuan Pelestari Perkutut Indonesia (P3I), komunitas pecinta burung perkutut di Sulawesi Tengah meminta dukungan pemerintah daerah untuk mengembangkan ajang Liga Perkutut sebagai wadah pembinaan penghobi, peternak, sekaligus sarana mempererat silaturahmi antarkomunitas.
Permintaan tersebut disampaikan para anggota Kumania Sulteng saat bersilaturahmi bersama sesama penghobi dan peternak perkutut di Kota Palu. Pertemuan itu menjadi momentum memperkuat kebersamaan komunitas sekaligus membahas pengembangan ajang Liga Perkutut di Sulawesi Tengah.

Anggota Kumania Sulteng, Fadli Ibrahim, mengatakan komunitas yang telah berdiri sekitar 15 tahun itu saat ini beranggotakan sekitar 30 penghobi dan peternak perkutut. Selama ini, komunitas aktif menggelar berbagai kegiatan, termasuk lomba dan pertemuan rutin sebagai sarana mempererat hubungan antarpenggemar perkutut.
“Komunitas ini menjadi wadah silaturahmi bagi para penghobi dan peternak perkutut. Kami berharap semakin banyak pecinta perkutut yang kembali aktif bergabung dan ikut mengembangkan komunitas ini,” kata Fadli di Palu, Rabu (11/6/2026).
Menurut dia, salah satu tantangan yang masih dihadapi komunitas adalah keterbatasan sarana pendukung lomba dan publikasi kegiatan. Karena itu, dukungan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan pemerintah kota dinilai penting untuk membantu pengembangan kegiatan perkutut di daerah.
Fadli menjelaskan, sepanjang tahun 2026 komunitas tersebut telah melaksanakan dua agenda lomba, termasuk ajang Wali Kota Cup. Ke depan, Kumania Sulteng berencana terus menggelar berbagai kegiatan kompetisi sebagai sarana pembinaan penghobi dan peternak perkutut.
“Harapan kami, pemerintah daerah dapat memberikan perhatian terhadap pengembangan komunitas ini karena kegiatan perkutut tidak hanya menjadi ajang hobi, tetapi juga memperkuat silaturahmi dan mendorong aktivitas ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Kumania Sulteng merupakan bagian dari P3I, organisasi nasional yang menaungi penghobi dan peternak perkutut di berbagai daerah di Indonesia. Organisasi tersebut memiliki struktur kepengurusan hingga tingkat daerah sebagai wadah resmi pelestarian dan pengembangan burung perkutut.
Selain kegiatan lomba, komunitas ini juga mendorong pengembangan usaha peternakan perkutut di Kota Palu dan sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah.
Sementara itu, Agus Radalembah, anggota Kumania dan juga peternak perkutut mengatakan sebagian besar penghobi perkutut di Palu juga aktif mengembangkan peternakan secara mandiri.
Menurut Agus, pengembangan perkutut dilakukan melalui pemuliaan dengan mendatangkan indukan berkualitas dari peternak ternama di Pulau Jawa. Langkah tersebut dilakukan untuk menghasilkan burung dengan kualitas suara dan keturunan yang baik.
“Untuk pengembangan peternakan tidak terlalu sulit karena pakan dan kebutuhan perawatan cukup tersedia. Yang masih membutuhkan perhatian adalah sarana pendukung kegiatan lomba,” katanya.
Sementara itu, penggemar perkutut Muhammad Akmal mengapresiasi keberadaan Kumania Sulteng sebagai wadah yang mampu menyatukan para penghobi, peternak, dan pegiat lomba perkutut di daerah.
Menurut dia, Sulawesi Tengah memiliki potensi menjadi tuan rumah lomba perkutut tingkat nasional apabila didukung fasilitas dan sarana yang memenuhi standar penyelenggaraan kompetisi.
“Kami berharap pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pemerintah kota, serta pihak swasta dapat memberikan dukungan agar Sulawesi Tengah mampu menggelar lomba berskala nasional pada masa mendatang,” ujarnya.
Akmal menilai penyelenggaraan lomba perkutut tidak hanya berdampak bagi komunitas penghobi, tetapi juga berpotensi menggerakkan sektor usaha kecil, peternakan, serta kunjungan peserta dari berbagai daerah.
Melalui berbagai kegiatan yang rutin dilaksanakan, Kumania Sulteng berharap dunia perkutut semakin dikenal masyarakat sebagai bagian dari pelestarian budaya, olahraga rekreasi, dan sarana memperkuat persaudaraan. Dukungan pemerintah daerah dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk mendorong Sulawesi Tengah menjadi pusat kegiatan dan kompetisi perkutut di kawasan timur Indonesia.
