YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof Yudian Wahyudi meluncurkan buku berjudul “Pembaruan Islam Yudian Wahyudi, Komparasi dengan Hasbi Ash-Shiddeqy, Hazairin, Nurcholish Madjid, dan Quraish Shihab”. Buku ini berisi banyak pemikiran pembaruan yang sudah ditulisnya di berbagai jurnal dan karya ilmiah lainnya.
Khoirul Anam, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Suka Yogyakarta mengatakan di era disrupsi umat Islam saat ini membutuhkan pembaruan pemikiran cerdas-progresif bahkan revolusioner dengan masih tetap dalam bingkai nilai-nilai syari’at. Sebab, umat Islam banyak yang terkungkung dalam ortodoksi dan kultus terhadap fikih, padahal fikih bersifat relatif, dinamis dan fleksibel.
“Untuk itu dibutuhkan tokoh seperti Prof Yudian yang unik, pemberani, gigih dan masih memegangi nilai-nilai syari’at. Pemikiran pembaruan Yudian ini orisinil, konstekstual, aplikatif dan eksentrik karena berbeda dengan tokoh-tokoh pembaru lainnya,” tuturnya dalam acara bedah buku, Rabu (15/12/2021).
Baca Juga BPIP: Mengenal Pancasila Itu Berarti Mengenal Diri Sendiri
Lanjut tambahnya, dengan pemikiran-pemikirannya, Prof Yudian seringkali dianggap sebagai tokoh kontroversial karena sering mengeluarkan pemikiran-pemikiran progresif. “Banyak orang yang belum mengenal konsep pembaruan Islam Prof Yudian secara komprehensif sehingga sering salah paham,” ujarnya.
Khoirul pun menyampaikan alasan perlunya buku ini sampai ke masyarakat luas. Di antaranya, peradapan umat Islam yang tertinggal karena meninggalkan sebagian ajaran Islam, lalu stigma negatif umat Islam misalnya radikalisme dan terorisme. “Ortodoksi dan fanatisme bermazhab yang akut bahkan terjadi Arabisasi yang membabi-buta,” katanya.
Menurut Khoirul, untuk pembaruan di bidang tafsir Yudian mengembangkan tafsir simbolik-kontekstual, bersifat aplikatif, fungsional dan menjamin kemaslahatan, misalnya menafsirkan kata khalifah dan surah al-duha. Lalu,memperkenalkan muslim kaffah adalah mereka yang mengimani tiga ayat yang saling berkaitan dan bersifat integral agar selamat di dunia dan akhirat, yaitu ayat quraniyah atau qauliyah, kauniah, insaniah. “Jika muslim tidak muslim (kafir) salah satu dari ketiga bidang tersebut, maka umat Islam akan merasakan akibatnya,” ucapnya.
“Lalu, memperkenalkan operasionalisasi teori maqashid syari’ah dengan contoh-contoh yang praktis dan mudah dipahami,” imbuhnya.
Untuk pembaruan bidang pendidikan, Khoirul menyebut Prof Yudian menginginkan fungsi pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu keislaman, tetapi juga ilmu pengetahuan umum dan bahasa asing. “Pesantren wajib mengajarkan experimental sciences karena ilmu ini sudah lama ditinggalkan oleh pesantren sehingga peradaban Islam mundur,” katanya.
“Pesantren perlu mengajarkan bahasa internasional secara konsisten agar generasi tidak gagap dengan teknologi,” imbuhnya.
Selanjutnya, dalam bukunya, menurut Prof Yudian, pesantren harus maju dalam pengembangan keilmuan agama dan umum serta dan tidak melupakan ijazah, hardskill, kesenian, dan kemampuan-kemampuan lain yang dibutuhkan pada konteks kekinian. “Untuk menjawab kegelisahan tersebut, maka Yudian mendirikan pesantren yang mengajarkan bahasa asing dan experimental sciences,” kata Khoirul.
Baca Juga Kepala BPIP: Pancasila Itu Sejarah dan Masa Depan Bangsa
Sedangkan, Prof Dr H Agus Moh Nadjib selaku Guru Besar Ilmu Ushul Fiqh menemukan pemikiran Prof Yudian bahwa kemajuan peradaban hanya bisa dicapai dengan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, yang disebut juga dengan experimental sciences. “Siapa pun yang paling menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi maka akan menjadi masyarakat yang maju bahkan akan memimpin dunia dengan kemajuan peradabannya,” tuturnya.
“Manusia memerlukan 'kesabaran' untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu dengan melakukan banyak riset dalam waktu yang terus menerus,” imbuhnya.
Dalam buku tersebut, Prof Agus juga menemukan kata “khilafah” tidak ada dalam Al-Qur`an, yang ada hanya kata “khalifah”, yang pada prinsipnya merupakan tugas semua manusia di Bumi, sehingga khalifah tidak hanya satu orang tetapi bisa banyak khalifah dalam sebanyak bidang dan aspek kehidupan. “Syarat untuk menjadi khalifah dalam setiap bidang dalam berbagai tingkatannya, sebagaimana dinyatakan dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 31, ada dua hal, yaitu menguasai al-asmā, yaitu ilmu-ilmu yang terkait dengan kehidupan manusia dan alam, serta menang tanding dalam proses kompetisi pada setiap bidang tertentu,” bebernya.
Dengan penafsiran-penafsiran orisinalnya dan tawaran solusi bagi kemajuan peradaban Islam, Prof Agus menyebut Prof Yudian Wahyudi dapat dipastikan merupakan seorang pembaru di dunia Islam kontemporer. Bahkan, berbeda dengan kebanyakan pemikir dan pembaru yang lain, Prof Yudian berupaya mengimplementasikan pemikiran pembaruannya dalam gerakan lembaga pendidikan (Pesantren Nawesea, Sekolah Sunan Averroes) dan tarekat (Tarekat Sunan Anbia; dengan shalat Hajat dan Majelis Ayat Kursinya).
“Lembaga pendidikan yang mengintegrasikan antara fisika-metafisika dan sekolah-pesantren, dan tarekat yang tidak saja mementingkan kehidupan akhirat tetapi juga mementingkan kemajuan peradaban dunia,” tukasnya. (jat)
