YOGYAKARTA, HarianBernas.com – Bursa Efek Indonesia, Kantor Perwakilan Yogyakarta membeberkan banyak perusahaan lokal di Jogja belum go public atau menawarkan sahamnya di pasar modal, Jumat (16/9/16).
“Sampai sekarang belum ada perusahaan lokal di DIY go public,” jelas Irfan Noor Riza, kata Kepala Kantor Perwakilan BEI DIY di Yogyakarta.
Dari rata-rata omzet perusahaan, sebetulnya cukup banyak perusahaan di DIY berskala besar atau menengah berpotensi untuk menawarkan saham di pasar modal.
Baca juga: Inilah 7 Daftar Aplikasi Investasi Resmi Versi OJK
“Banyak perusahaan yang layak dan memenuhi persyaratan. Namun, kami kembalikan ke perusahaan yang bersangkutan,”imbuhnya.
Meski belum ada satu perusahaan lokal go public, beberapa sudah ada yang melakukan penjajakan. “Setidaknya, ada yang tahap tanya-tanya tentang proses go public,” tuturnya .
Faktor yang sering menyebabkan belum adanya satupun perusahaan lokal di Jogja yang go public, yaitu kurangnya pemahaman tentang keuntungan melakukan penawaran umum (initial public offering/IPO).
Keuntungan jika melakukan go public, yaitu (1) Mendorong kemajuan persebaran investor pasar modal di daerah, (2) Para pengusaha lokal dapat memperoleh penambahan modal operasional usahanya, (3) Permodalan perusahaan menjadi lebih transparan karena perusahaan go public ini mengadopsi 'good corporate governance'
“Akan memiliki sumber pendanaan tidak terbatas,” imbuh dia.
Untuk itu, Bursa Efek Indonesia, Kantor Perwakilan Yogyakarta akan terus berupaya untuk mendorong perusahaan lokal Jogja agar dapat memahami keuntungan dari go public, misal melakukan sosialisasi dan edukasi berkenaan dengan proses go public ke masyarakat.
Bursa Efek Indonesia, Kantor Perwakilan Yogyakarta telah menyediakan pusat informasi bagi perusahaan lokal Jogja yang ingin go public. Menurut Irfan, transaksi saham di DIY sejak awal 2016 sampai saat ini rata-rata mencapai Rp370 miliar per bulan.
