HarianBernas.com – Tri Kaya Parisudha berasal dari bahasa sansekerta ?Tri? yang berarti tiga, ?Kaya? berarti perilaku, dan ?Parisudha? yang berarti baik, bersih, suci atau disucikan. Jadi, Tri Kaya Parisudha artinya tiga perilaku manusia berupa pikiran, perkataan, dan perbuatan yang harus disucikan (Suhardana, 2007: 25).
Pikiran, perkataan, dan perbuatan yang disucikan dimaksudkan perilaku manusia yang baik atau perilaku manusia itu tidak boleh dikotori dengan perilaku yang tidak baik. Ketiga perilaku yaitu berpikir, berkata, dan berbuat yang baik harus selalu dijadikan pedoman khususnya bagi masyarakat Bali (Hindu) dan bagi umat manusia pada umumnya dalam menjalani kehidupan sehari-hari, sehingga tercipta hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya, manusia dengan sesamanya, dan munusia dengan Maha Pencipta.
Tri Kaya Parisudha dapat juga diartikan sebagai tiga dasar prilaku manusia yang harus disucikan, yaitu manacika, wacika, dan kayika. Manacika berarti pikiran baik, wacika berarti perkataan baik, dan kayika berarti perbuatan yang baik. Adanya pikiran yang baik akan mendasari perkataan yang baik, sehingga terwujudlah perbuatan yang baik pula (Suhardana, 2007: 26; Subagia dan Wiratma, 2011).
Jadi, pada dasarnya perkataan dan perbuatan bersumber atau berawal dari pikiran. Pikiran yang baik akan menuntun manusia berkata atau berbuat yang baik pula. Dari prinsip itu, maka yang paling awal harus dikendalikan manusia adalah pikirannya.
Hal-hal yang mempengaruhi pikiran harus selalu terjaga, seperti kestabilan jiwa atau emosi, kebutuhan akan kesehatan jiwa dan raga, termasuk kebutuhan akan estetika.
Di dalam jiwa yang tenang, orang dapat mengendalikan pikirannya sehingga dapat berpikir dengan jernih yang akhirnya akan dicetuskan dalam bentuk perkataan yang baik dan perbuatan yang baik.
Kitab Suci Weda mengajarkan agar umat manusia menjauhkan diri dari kejahatan dan perbuatan dosa serta menyingkirkan kedengkian. Umat manusia agar selalu berbuat dharma (kebajikan), dengan ucapan yang manis hendaknya dan selalu berbuat kebaikan. Manusia semestinya juga selalu menyucikan pikiran dan budhinya (Suhardana, 2007: 107).
Pernyataan tersebut sama seperti yang diajarkan dalam Tri Kaya Parisudha yaitu berpikir baik, berkata baik dan berbuat baik. Berpikir baik, berkata baik dan berbuat baik menjadi dasar dan pedoman hidup bagi masyarakat Bali (Hindu) dan bagi umat manusia pada umumnya, sehingga kerukunan, ketentraman dan kedamaian dalam kehidupan masyarakat dapat tercipta sesuai dengan tujuan agama Hindu dan tujuan pendidikan pada umumnya.
Hubungan antara Tri Kaya Parisudha dan aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari disajikan pada penjelasan dibawah ini .
Hubungan Tri Kaya Parisudha dan Aplikasinya dalam Kehidupan
Manacika
- Tidak mengingini sesuatu yang tidak sepantasnya
- Tidak berpikiran buruk terhadap orang lain
- Tidak menentang hukum sebab-akibat (hukum karma)
Wacika
- Tidak suka mencaci maki orang lain
- Tidak berkata-kata kasar kepada orang lain
- Tidak memfitnah orang lain
- Tidak ingkar janji atau berkata bohong
Kayika
- Tidak menyiksa, menyakit, atau membunuh makhluk lain
- Tidak mencuri atau melakukan kecurangan terhadap harta orang lain
- Tidak melakukan zina atau menuruti hawa nafsu
Pendidikan karakter intinya adalah upaya-upaya pengendalian indria (Panca Budhindriya dan Panca Karmendriya). Panca Budhindriya dan Panca Karmendriya. Panca Budhindra terdiri atas Caksu Indria (indra penglihatan pada mata), Srota Indria (indra pendengaran pada telinga), Ghrana Indria (indra penciuman pada hidung), Jihwa Indria (indra pengecap pada lidah), dan Twak Indria (indra peraba pada kulit).
Sedangkan Panca Karmendriya terdiri atas Pani Indria (indra pada tangan), Pada Indria (indra pada kaki), Garbha Indria (indra pada perut), Upastha Indria (indra pada kelamin), dan Payu Indria (indra pada alat pelepasan/dubur).
Implikasinya, pendidikan karakter hendaknya dilakukan dengan menciptakan situasi/kondisi sehingga dapat mengendalikan atau melatih indriya dengan kebiasaan-kebiasaan baik. Pengendalian dapat dilakukan dengan pengendalian Budhi, Manas, dan Ahamkara melalui tapas (kerja keras) dan brata (pengekangan keinginan/nafsu).
Melatih indriya dilakukan dengan pengulangan sesering mungkin dan penguatan. Karakter baik terbentuk melalui sebuah pembiasaan kebiasaan-kebiasaan yang baik (habituation). Artinya, anak harus sesering mungkin dihadapkan pada aktivitas maupun lingkungan yang sengaja maupun tidak sengaja akan membentuk kebiasaan-kebiasaan baik.
Anak seharusnya lebih banyak dihadapkan pada aktivitas-aktivitas yang mendidik, melatih dan membina indria, manah dan budhi. Oleh karenanya, aktivitas pembelajaran hendaknya lebih diarahkan untuk melatih penggunaan instrument indriya dengan baik dan benar.
Selanjutnya dari kebiasaan-kebiasaan inilah terbentuk karakter. Karenanya, aktivitas pembelajaran sains di SD hendaknya lebih banyak diarahkan pada kegiatan yang melibatkan budhi, manas, ahamkara atau otak (olah pikir), hati (olah hati), dan otot (olah raga/aktivitas fisik).
I Gede Astawan @ Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Bahagia
Email: astawan@undiksha.ac.id
