HarianBernas.com – Anak usia sekolah dasar (SD) merupakan masa anak tumbuh dan berkembang dengan lebih banyak meniru orang dewasa. Karakter anak usia SD lebih mudah dibentuk dibandingkan usia anak berikutnya. Oleh karena itu, pendidikan karakter sangat penting ditanamkan sejaka anak usia SD.
Pendidikan karakter sebagaimana telah diuraikan di atas harus dioperasionalkan sehingga mudah dipahami dan dilaksanakan di sekolah dasar. Agar pendidikan karakter tersebut mudah diterapkan dan masyarakat bisa mengimplementasikan, maka strategi mengintegrasikan kearifan lokal adalah langkah yang tepat.
Pengintegrasian kearifan lokal Bali dalam pendidikan karakter dapat ditempuh dengan mendekatkan diri peserta didik dengan budayanya. Dengan demikian, peserta didik tidak merasa asing dengan budayanya sendiri. Hal ini akan dapat memperkuat jati diri sebagai individu yang memiliki kekhasan sendiri dibandingkan dengan orang lain.
Pendidikan karakter dapat dilakukan melalui perumusan visi dan misi serta tujuan sekolah. Selanjutnya, nilai-nilai pendidikan karakter yang diintegrasikan dengan kearifan lokal dapat dikemas dalam kegiatan ekstrakurikuler dan kurikuler. Di dalam pelaksanaannya penting dilakukan evaluasi diri untuk melihat keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah.
Berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan karakter melalui kurikuler dapat dimplementasikan melalui konsep Tri Kaya Parisudha, yang didalamnya dapat dikemas melalui melajah sambilang mesatua (belajar sambil bercerita), melajar sambil mapalalian (belajar sambil bermain), melajah sambilang megending (belajar sambil bernyanyi), dan melajar sambilang megae (belajar sambil mengerjakan).
Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan konsep Tri Kaya Parisudha dapat dimulai dari salah satu komponen cara belajar yang ada (wacika, kayika, manacika), kemudian dijanjutkan dengan mengikuti alur yang dipilih. Misalnya, bila suatu pembelajaran dimulai dari wacika, maka alur yang dapat ditempuh selanjutnya bisa kayika atau manacika.
Jika pada tahap kedua digunakan cara manacika, maka tahap ketiga digunakan kayika. Jadi, langkah-langkah pokok pembelajaran dengan menggunakan model siklus belajar berdasarkan konsep Tri Kaya Parisudha sangat sederhana, yaitu terdiri dari atas tiga langkah pokok sebagai berikut.
Pertama, penetapan topik atau materi pelajaran.
Kedua, penetapan jenis alur belajar yang dikehendaki
Ketiga, pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan alur yang dipilih.
Pemilihan model siklus (alur belajar) dengan konsep Tri Kaya Parisduha, hendaknya memperhatikan karakteristik materi pelajaran, karakteristik pebelajar, dan karakteristik lingkungan tempat pembelajaran dilaksanakan. Sebagai contoh, pembelajaran sains di SD. Pembelajaran sains di SD difokusnya pada pengungkapan fenomena alam yang ada di sekitar anak.
Pada umumnya, fenomena alam yang ada di sekitar anak bersifat dapat diamati (konkret). Oleh karena itu, model siklus belajar yang dipandang paling cocok untuk materi sains di SD adalah model pembelajaran yang dimulai dengan melakukan pengamatan langsung (Kayika). Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian hipotesis melalui pertanyaan-pertanyaan (manacika), dan selanjutnya siswa dipersilakan untuk mengecek jawabannya di dalam buku pelajaran atau berdiskusi (wacika).
Kegiatan pembelajaran tersebut dapat diuraikan menurut model siklus (alur belajar) Kayika- Manacika-Wacika (KMW) seperti pada penjelasan dibawah ini.
Langkah-Langkah Pembelajaran model siklus KMW
Kegiatan Guru
Kayika
- Guru menyiapkan gejala atau objek yang dapat dieksplorasi atau diobservasi siswa.
- Guru membimbing dan menuntut siswa di dalam mencatat data hasil observasi.
Manacika
- Guru memfasilitasi siswa untuk merumuskan masalah dan hipotesis dari hasil eksplorasi atau observasi.
Wacika
- Guru menyiapkan atau menunjukkan buku-buku yang baik untuk menjawab masalah yang telah dirumuskan atau membuktikan hipotesis.
- Guru membantu siswa untuk merumuskan temuannya guna membangun pengetahuan baru.
- Guru memainkan peran berbeda-beda sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, seperti sebagai sumber informasi, fasilitator, mativator, dan evaluator pembelajaran.
Kegiatan Siswa
Kayika
- Siswa melakukan eksplorasi atau observasi terhadap objek yang harus ditentukan.
- Siswa melakukan pencatatan data hasil observasi.
Manacika
- Siswa merumuskan pertanyaan-pertanyaan dari hasil observasi dan jawaban sementara atas pertanyaan tersebut (hipotesis).
Wacika
- Siswa menjawab pertanyaan atau menguji hipotesisnya melalui kajian pustaka.
- Siswa memformulasikan temuan-temuannya mengetahuan baru dengan bantuan guru.
- Siswa memperlakukan guru tidak hanya sebagai pemberi informasi namun juga sebagai teman belajar.
Siklus belajar di atas, tidak harus selalu dimulai dari Kayika, Manacika, dan Wacika (KMW). Tetapi, bisa divariasikan sesuai dengan karakteristik materi dan karakteristik siswa.
Berbagai alternatif pilihan, yaitu bisa dilakukan dengan urutan berikut, yaitu (1) Manacika-Wacika-Kayika (MWK), (2) Wacika-Kayika-Manacika (WKM), (3) Kayika-Wacika-Manacika (KWM), (4) Manacika-Kayika-Wacika (MKW), dan (5) Wacika-Manacika-Kayika (WMK). Dengan demikian dapat terbentuk enam pola langkah-langkah pembelajaran .
I Gede Astawan @ Penulis Buku Jalan Spiritual Menuju Hidup Bahagia
Email: astawan@undiksha.ac.id
