SLEMAN, BERNAS.ID – Warga Sleman melaksanakan Sholat Idul Fitri 1442 Hijriah di Masjid Agung, dr Wahidin Sudiro Husodo, Beran, Tridadi, Sleman dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. Jamaah pun hanya berasal dari lingkungan Masjid Agung, seperti Dusun Beran Lor dan Beran Kidul.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa bersama keluarga tampak ikut melaksanakan Sholat Idul Fitri di Masjid Agung Sleman. Pasalnya, dia merupakan warga Beran Kidul Sleman. “Protokol kesehatan sangat ketat, mulai pengukuran suhu, memakai masker, menggunakan sajadah, wudlu dari rumah masing-masing, dan menjaga jarak,” jelasnya seusai melaksanakan Sholat Ied, Kamis (13/5/2021).
“Dengan diikuti warga sekitar, harapannya aman dari Covid-19 yang saat ini masih ada,” imbuhnya.
Danang pun mengimbau kepada masyarakat Sleman agar merayakan Idul Fitri tahun 2021 ini dengan keluarga terdekat masing-masing sesuai dengan larangan mudik yang dikeluarkan oleh Pemerintah.
“Bupati dan Wakil Bupati pun tidak akan mengadakan open house sampai dengan pejabat di tingkat Kapanewon dan Kalurahan. Hal ini sesuai surat Edaran Bupati Nomor 451/01171, tanggal 7 Mei 2021 tentang pembatasan kegiatan buka bersama dan open house,” imbuhnya.
Baca juga : Walikota Sebut Salat Ied di Masjid Ini Bisa Dijadikan Contoh
Dalam khotbahnya, KH Ahmad Fatah mengatakan, penerapan protokol kesehatan yang ketat merupakan wujud kewaspadaan. “Berhati-hati itu bentuk ikhtiar yang mesti dilakukanoleh setiap orang beriman, lalu tawakal kepada keputusan dan takdirNya,” ujarnya.
“Takut kepada virus Corona tidak berarti meniadakan rasa takut kepada yang menciptakannya yaitu Allah SWT,” imbuhnya.
Ia pun mengajak kepada jamaah bahwa harus segera menyadari bahwa siapa saja yang mendapat ujian dari Allah dengan terpapar Covid-19 pasti sepengetahuannya dan seizinNya, maka terimalah ujian itu dengan sabar. “Semoga segera disembuhkan kembali dan menjadi sarana pengampunan dosa dan kesalahannya,” katanya.
Untuk mereka yang tidak terkena, ia juga mengajak hendaknya berhati-hati karena sifat penyebaran virus Corona, menurut para ahlinya tidak tampak, sangat cepat, dan berbahaya. “Penerapan protokol kesehatan atau pembatasan kegiatan yang dirasakan memberatkan dan menyulitkan pergerakan sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan dalam melaksanakan syariat agama, sejatinya adalah ikhtiar Pemerintah dalam menjaga kesehatan dan keselamatan umat,” bebernya.
“Aturan dan pembatasan yang ditetapkan pemerintah tidak perlu diperdebatkan, tinggal diikuti dan dijalani saja, kita kelak akan bisa mengambil banyak pelajaran dan hikmah dari padanya,” tuturnya. (jat)
