BERNAS.ID –Segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia, sebagian besar melibatkan proses berpikir. Dalam bidang pendidikan, proses berpikir ini sangat diperhatikan. Howard Gardner dalam bukunya yang bertajuk “Five Minds for The Future” menyimpulkan adanya lima jenis pola pikir yang akan memiliki peran penting dalam perjalanan masa depan seseorang (Arends, 2010). Lima pola pikir tersebut adalah sebagai berikut.
- Discipline Mind-Kerangka Dasar atau Kerangka Utama Kecerdasan/Pemikiran. Seseorang harus memiliki paling tidak satu disiplin ilmu atau kerangka berpikir yang sangat dikuasai untuk memecahkan masalah di segala hal. Disiplin Mind juga berarti seseorang harus selalu melatih keahliannya tersebut untuk meningkatkan performance-nya.
- Synthesizing Mind–Mensinergikan Ide dan Pemikiran dari Disiplin Ilmu yang Berbeda. Seseorang harus mampu menggabungkan berbagai pola pemikiran dan disiplin ilmu agar dapat mengumpulkan informasi dan pengetahuan seluasnya dari berbagai macam sumber serta melahirkan berbagai macam ide dan ilmu pengetahuan baru yang bermanfaat.
- Creativity Mind-Membuka Tabir dan Memecahkan Masalah Melalui Kreativitas dan Ide Inovatif. Seseorang dituntut harus memiliki kreativitas berpikir. Kreativitas tersebut digunakan untuk membantu pemecahan masalah di luar cara yang sudah ditentukan sebagai alternatif pemecahan masalah,serta kemampuan membuat terobosan baru.
- Respectful Mind-Penghargaan Perbedaan Dengan Orang Lain. Seseorang harus memiliki Respectful Mind agar dapat menerima, menghargai pendapat dan perbedaan dengan orang lain sehingga dapat bekerjasama dan mampu menciptakan suasana keterbukaan dalam hubungan timbal-balik, serta tenggang rasa dan toleransi. Sangat penting untuk ditanamkan dalam pemikiran bahwa hak dan kewajiban serta kemauan seseorang itu terbatas oleh hak, kewajiban, dan kemauan orang lain sehingga apabila pemikiran itu bisa diterapkan maka setiap orang sudah memiliki respectful mind yang diharapkan.
- Ethical Mind-Berpikir untuk orang lain demi kepentingan bersama. Ethical Mind adalah kemampuan/kecerdasan seseorang untuk berpikir di luar keinginan pribadi dan di luar kemampuan diri yang telah dimiliki. Ethical mind ini sangat erat hubungannya dengan respectful mind dan synthesizing mind, dan creativity mind. Seperti dasar pemikiran respectful mind bahwa hak, kewajiban, serta kemauan seseorang terbatas oleh hal yang sama dari orang lain maka ethical mind pun seperti itu sehingga ia sangat tahu di mana menempatkan diri dan bersikap serta apa yang boleh dan dapat diperbuatnya. Seseorang yang memiliki ethical mind itu tentunya sangatlah cerdas karena ia harus dapat respect ke lingkungan sekitar sehingga dengan kemampuannya dapat bekerjasama dan mensinergikan berbagai pengetahuan dipadu dengan creativity mind yang dimiliki.
Selain lima pola pikir tersebut, ada dua dimensi yang perlu diperhatikan dalam pendidikan yaitu dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif. Dimensi pengetahuan meliputi pengetahuan faktual (berisi elemen-elemen dasar yang harus diketahui para murid jika mereka akan dikenalkan dengan suatu disiplin atau untuk memecahkan masalah apapun di dalamnya), pengetahuan konseptual (meliputi skema-skema, model-model mental, atau teori-teori eksplisit dan implisit dalam model- model psikologi kognitif yang berbeda), pengetahuan prosedural (pengetahuan mengenai bagaimana melakukan sesuatu).
Dimensi proses kognitif meliputi: mengingat (remembering), memahami (understanding), menerapkan (apply), menganalisa (analyze), mengevaluasi (evaluate) dan menciptakan (create). Dua tujuan dimensi proses kognitif yang terpenting adalah untuk mengembangkan daya ingat dan mendorong terjadinya proses transfer. Terjadinya proses transfer merupakan tanda keberhasilan proses belajar. Daya ingat atau Retention merupakan kemampuan seorang siswa untuk megingat materi-materi pelajaran beberapa saat sesudah pembelajaran dengan sama akuratnya seperti pada saat siswa tersebut mengikuti pelajaran tersebut.
Kategori proses mengingat atau remembering merupakan proses yang sangat berhubungan dengan proses daya ingat. Kelima kategori proses lainnya lebih berkaitan dengan proses transfer, yaitu kategori proses memahami (understanding), menerapkan (apply), menganalisa (analyze), mengevaluasi (evaluate), dan menciptakan (create).
Dimensi pengetahuan dan proses kognitif melibatkan pengetahuan metakogitif. Pengetahuan metakognitif adalah suatu kesadaran tentang kognitif kita sendiri, bagaimana kognitif kita bekerja, serta bagaimana mengaturnya. Secara ringkas metakognitif dapat diistilahkan sebagai “thinking about thingking”.
Tujuan metakognisi adalah membelajarkan siswa untuk belajar sendiri agar menjadi pembelajar mandiri. Aspek metakognisi, yaitu (a) Komponen pengetahuan: pemahaman siswa bagaimana orang belajar, tentang proses kognitif , an metakognitif mereka sendiri, (b) Komponen keterampilan: kemampuan siswa untuk mengidentifikasi, menggunakan, mengevaluasi kognitif dan strategi pembelajaran metakognitif, dan (c) Komponen disposisi: kemauan bekerja ke arah self regulation dan menerapkan strategi tertentu ketika situasi belajar menuntut hal tersebut.
Langkah-langkah metakognisi, yaitu menekankan pentingnya strategi metakognisi, mengajarkan strategi waktu belajar, memberikan penjelasan yang akurat dan pemodelan, memberikan kesempatan praktek dengan umpan balik, mendorong siswa untuk memantau yang mereka lakukan. Agar langkah-langkah metakognisi tersebut berjalan dengan optimal diperlukan kondisi kelas yang kondusif.
Kondisi kelas yang kondusif berkaitan dengan kondisi siswa saat proses pembelajaran dilakukan. Kondisi kelas yang baik menuntut terjadinya interaksi antara guru dan siswa dengan baik dan saling menghargai sehingga penyerapan materi yang disampaikan guru kepada siswa dapat berjalan maksimal yang akan menghasilkan hasil belajar seperti yang diharapkan. Kondisi kelas yang kondusif akan mengakomodir pencapaian eksplorasi bakat siswa dengan maksimal pula. Dalam prakteknya, kondisi kelas yang kondusif merupakan salah satu faktor yang memengaruhi proses pembelajaran di kelas yang harus diusahakan oleh guru.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan guru untuk mendukung proses berpikir siswa di lingkungan kelas: harapan tinggi dan sikap optimis untuk berpikir, memberikan waktu untuk merumuskan pertanyaan dan mempelajari topik lebih mendalam, menyediakan banyak kegiatan yang terarah, menyediakan alat dan pola berfikir yang digunakan saat belajar, menggunakan bahasa dan kosakata untuk menggambarkan dan merefleksikan pemikiran, menggunakan demonstrasi/modeling, menunjukkan sikap baik untuk merangsang proses berpikir dan ide-ide siswa, dan menggunakan lingkungan fisik (gambar, portofolio, kerajinan tangan) ditampilkan di seluruh ruangan. Dengan upaya-upaya tersebut diharapkan dapat melejitkan prestasi siswa di sekolah.
I Gede Astawan, Mahasiswa Prodi Ilmu Pendidikan PPs UNY
Email: astawan@undiksha.ac.id
