HarianBernas.com — Pada akhir tahun 2014 yang lalu saya bertemu dengan seorang nenek tua berumur 76 tahun, pertemuan tersebut diatur oleh salah seorang sahabat saya yang adalah mantan murid di sekolah dari nenek tua tersebut. Nenek tua ini sempat menjadi kepala sekolah di salah satu sekolah dasar ternama di Koya Yogyakarta.
Di umur yang ke 76 tahun ini, nenek tua ini masih tetap bekerja menjadi trainner dan konsultan bisnis di beberapa perusahaan, walau sudah 21 tahun yang lalu dia pensiun dari pekerjaanya, ketika saya bertanya kenapa nenek tidak istirahat saja di rumah dimasa pensiun, biasanya orang pensiunan tidak lakukan apa apa lagi karena mengingat umur dan kekuatan fisik.
Nenek ini menjawab ” aku masih kuat, masih banyak orang di luar sana yang membutuhkan bantuan ku, aku masih harus menjadi saluran berkat bagi banyak orang”
Saya sangat kaget dengan pernyataan nenek tua ini karena di usia nya yang sudah cukup tua ini masih memikirkan orang lain, masih mau membantu orang lain dengan hasil keringat. Nenek ini senang jika kita panggil sebagai nenek EDAN ( Enerjik, Dinamis, Antusias, Nasionalis )
Suatu sore nenek ini bertemu dengan salah seorang ibu yang setiap hari mengambil sampah di komplek perumahan, kemudian terjadilah perbincangan hangat.
Nenek tua : “loh kok sendirian ambil sampah nya? laki laki yANg biasa menemani ibu kemana ?”
Ibu pemungut sampah : “bapak sedang sakit dan saya harus segera pulang untuk membeli obat dan merawat suami saya lagi”
Nenek tua : “sakit apa? apa sudah di belikan obat?”
Ibu pemunguT sampah : “sore ini baru mau beli obat nya setelah terima pembayaram dari penghuni perumahan “
Nenek tua : “klo begitu, saya mau beri kamu 2 uang , 1 untuk bayar sampah dan yang lain walau gak bisa kasih banyak untuk biaya beli obat suami ibu” semoga lekas sembih ya
Ibu pemungut sampah tersebut sempat kaget karena selama ini di perumahan tidak ada yang pernah ajak bicara bahkan mau kasih uang berobat, ibu pemungut sampah ini tampak senang sekali dan bergegas menyelesaikan tugas nya ambil sampah di perumahan itu dan segera pulang.
Keesokan harinya, ada 2 orang berdiri di rumah nenek tua tersebut sambil memencet bel beberapa kali, tidak lama kemudian nenek tua tersebut keluar rumah dan membukakan pintu gerbang untuk mempersilahkan tamu tersebut masuk, tamu tersebut adalah ibu pemungut sampah dan suminya yang kondisinya sudah berangsur lebih baik.
ibu pemungut sampah : “Ibu, saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan ibu karena memberikan kami uang biaya obat sehingga suami saya sekarang lebih baik, sisa beli obat uang nya kami belikan bakso di ujung jalan yang selama ini kami ingin membeli tapi karena keadaan ekonomi kami tidak pernah bisa membelinya”
suami pemungut sampah :”saya juga mengucapkan terima kasih karena ibu telah membuat keinginan kami tercapai, salah satu nya makan bakso di ujung jalan itu, saya juga ingin sampaikan bahwa ibu satu satunya warga perumahan yang mau berbicara dengan kami juga menerima kami masuk ke ruang tamu, sekali lagi saya ucapkan terima kasih”
Nenek tua :”wah saya sangat senang mendengar kam berita baik ini, berterima kasih saja kepada Tuhan, karena semua harta saya itu hanya titipan dan sewaktu waktu harus di kembalikan atau di salurkan ke orang yang membutuhkan, tugas saya membantu Bapak dan Ibu”
Seminggu kemudian tanpa di sadari sampah di rumah menumpuk karena sudah beberapa hari tidak di ambil, tidak banyak warga perumahan uang komplin karena keadaan ini, namun nenek tua ini tetap positive thinking atas apa yang terjadi.
Masuk hari ke 10 sampah tidak di ambil, akhirnya ibu pemungut sampah datang lagi dan mulai memungut sampah kembali, nenek tua tersebut menyapa dengan lembut, “ibu kenapa kok lama.gak ambil sampah? Semua komplek jadi bau semua”
Ibu pemungut sampag tersebut menjawab denga wajah yang sedih bahwa suaminya yang 2 minggu lalu di kenalkan sudah meninggal dunia dan mohon maaf karena tidak bisa kasih kabar. Ibu juga menyampaikan ucapan terima kasih sekali lagi kepada nenek tua ini bahwa minimal sebelum meninggal suami saya sudah sempat makan bakso yang selama ini ingin sekali ia makan dan semua berkat kebaikan nenek tua tersebut.
Cerita ini menarik perhatian untuk saya tulis karena berdasarkan kisah nyata dan selain itu banyak sekali pelajaran yang bisa kita petik sebagai generasi penerus.
1. Umur tidak bisa menahan kita untuk berbuat baik
Kebaikan tidak bisa di tahan, jika kita tergerak untuk berbuat baik maka jangan pernah tahan atau hanya karena kita tidak punya apa apa, atau mungkin marena kita sudah tua dan lemah, karena kita tidak tau mungkin ini kesempatan terakhir kita bertemu dengan seseorang tersebut.
2. Jangan pernah lupa bahwa harta yang kita miliki adalah pemberian Tuhan sehingga kita lupa memberi
Tidak semua orang memiliki jiwa untuk memberi, karena banyak sekali orang yang merasa memiliki apa yang selama ini dia usahakan, mereka menganggap bahwa semua karena usaha kekuatan nya sendiri.
3. Dengan jiwa memberi kita akan diberikan panjang umur
Ketika kita memiliki jiwa memberi atau berbagi kepada sesama maka Tuhan akan memberikan kita umur panjang, tentunya kita juga tetap harus menjaga pola hidup dan pola makan.
Pada bulan oktober 2015 kemaren Nenek tua inspiratif ini merayakan ulang tahun nya kembali yang ke77 dan beliau meminta saya untuk mengumpulkan beberapa orang yang bisa diberikan bingkisan dan buku tulisanya, bahkan di akhir cerita ini pun di hari ulang tahun nya biasanya orang menerima kado akan tetapi nenek tua ini justru tidak menerima kado tapi memberi bingkisan ke orang yang kurang mampu
Terima Kasih
Alit Nurwanto
GM Hotel Grand Zuri Malioboro Yogyakarta
www.grandzuri.com/malioboro-yogyakarta
