Myanmar, HariaBernas.com – Sebuah kisah yang tidak kita kira terjadi di zaman yang sudah modern ini berasal dari seorang pria asal Myanmar. Ia telah menjadi budak selama 22 tahun dengan upah yang kecil dan tidak mendapatkan perlakuan yang baik seperti dilansir dari laman emirates247.com.
Pria yang bernama Myint Naing ini tidak menyangka dirinya bisa menjadi seorang budak. Awalnya pada tahun 1993 ia mendengar seseorang yang menawarkan sebuah pekerjaan di sebuah pabrik di Thailand. Karena membutuhkan uang, pria berusia 40 tahun ini menyanggupi tawaran tersebut.
Sebulan kemudian Myint yang berpikir ia akan pergi ke Thailand, ternyata sedang terombang-ambing di tengah laut di dalam kapal yang besar. Kemudian kapal tersebut menepi di Tual, Maluku setelah 15 hari mengarungi lautan. Ketika itu, Maluku terkenal sebagai penghasil ikan terbesar di Dunia.
Kapal yang membawanya tersebut memiliki seorang kapten asal Thailand yang ternyata telah membelinya sebagai seorang budak untuk bekerja sebagai seorang nelayan. Selain Myint, terdapat 800 budak lainnya yang bekerja untuknya.
Upah yang diperoleh tidak sebanding dengan pekerjaan yang dilakukan yaitu hanya USD 10 atau sebanding dengan Rp 133.000 dalam sebulan. Selain upah yang minim, Myint juga mendapatkan perlakuan yang buruk selama ia bekerja dengan tuannya.
Usaha untuk kabur sempat dilakukan dan berhasil. Ia ditolong oleh orang Indonesia yang mengaku iba dengan kisahnya. Ia dirawat dan diberi makan dengan baik. Setelah beberapa lama ia pun kembali ke negara asalnya.
Pada tahun 2001, Myint mendengar kabar bahwa nelayan yang bekerja pada kaptennya dulu akan dipulangkan jika mereka kembali bekerja. Setelah mendengar kabar tersebut, Myint memutuskan untuk kembali bekerja pada kaptennya tersebut. Namun, ia masih mendapat perlakuan yang sama seperti dulu malah semakin memburuk.
Pada akhirnya, penderitaan yang dialaminya dapat menghilang karena pada bulan April ia diselamatkan oleh pemerintah Indonesia dari Tual, Maluku melalui penyelidikan Associated Press yang mengetahui tentang penyiksaan buruh dalam industri perikanan Asia Tenggara.
Ia bisa kembali pulang ke Mual, Myanmar berkat pertolongan dari Pemerintah Indonesia. Ibunya yang sudah tua dan adiknya yang sudah beranjak dewasa dapat ia temui kembali. Meskipun merasa sedikit asing, namun ia tetap merasa bahagia karena telah terbebas dari perbudakan yang ia alami selama 22 tahun.
