HarianBernas.com-Isu reshuffle atau perombakan kabinet memang terdengar santer akhir-akhir ini. Beberapa nama menteri yang masuk dalam reshuffle jilid II, akan dirombak, tak terkecuali Menhub (Menteri Perhubungan) Ignasius Jonan.
Terdengar kabar dari Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla bahwa Presiden tinggal menunggu waktu baik. Menteri-menteri yang tidak bekerja akan dicopot.
Saat dikonfirmasi, Menteri Jonan membantah dirinya telah dipanggil Presiden Joko Widodo (Jokowi) terkait perombakan kabinet jilid II.
“Kapan? Belum dipanggil Presiden. Sampai sekarang belum tuh,” ucap Jonan saat ditemui usai rapat kerja dengan Komisi V DPR, Jakarta, Senin (11/4/2016).
Terkait kinerjanya memimpin Kementerian Perhubungan, Menteri Jonan menolak menilainya. Soal penilaian, Menteri Jonan pasrahkan kepada Presiden Jokowi.
“Itu tergantung Presiden yang menilai. Tidak bisa menilai diri sendiri,” tegas Menteri Jonan.
Menurut Syamsudin, peneliti senior LIPI, indikator pertama adalah menilai kinerja menterinya. Jokowi tidak perlu ragu mencopot menteri yang kinerjanya tidak maksimal.
“Kalau kinerjanya tidak bagus, copot,” ucap Syamsuddin dalam diskusi di Smart FM.
Indikator kedua, lanjut Syamsudin adalah kerjasama dan loyalitas. Jokowi layak mempertahankan menteri loyal dan mau kerjasama.
Sebaiknya, Jokowi mencopot menteri yang tidak patuh dengan arahannya. “Kalau tidak bisa diajak kerjasama nanti justru bikin gaduh,” komentarnya.
Indikator ketiga adalah masalah integritas. Jika ada menteri menyalahgunakan kekuasaannya untuk keuntungan pribadi, Presiden pantas menggantinya.
