KUPANG, HarianBernas.com – Dr.Thomas Ola Langodai, Pengamat Ekonomi dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang berpendapat bahwa poros maritim yang digagas Presiden Jokowi harus dimulai dari kawasan terluar atau pulau-pulau kecil yang berbatasan langsung dengan negara lain.
“Poros maritim yang merupakan ide besar dari Presiden Jokowi itu harus dimulai dari pulau-pulau kecil seperti yang sudah dilakukan oleh Tiongkok, Jepang dan Korea saat ini,” kata Dekan Fakultas Ekonomi Unwira Kupang.
Doktor ini juga mengatakan rencana Frans Lebu Raya, Gubernur Nusa Tenggara Timur untuk membuka jalur tol rute Larantuka-Adonara-Lembata di Kabupaten Flores Timur, inilah yang merupakan sebuah titik awal dari apa yang disebut poros maritim tersebut.
Sentilnya terhadap Presdien Jokowi, konsep pembangunan tol laut yang diinginkan Presiden Jokowi itu bukan dengan memperbanyak pelabuhan laut di setiap pulau yang ada penduduknya, tetapi membangun jembatan layang untuk menyatukan satu pulau dengan pulau yang lain.
Di sejumlah negara di kawasan Asia, seperti Korea, Jepang dan Tiongkok, konsep pembangunan tol laut itu sudah lama dilakukan dengan membangun jembatan layang yang menghubungkan satu pulau dengan pulau yang lain untuk mempercepat proses pertumbuhan ekonomi antarkawasan.
“Kita (Indonesia) adalah negara kepulauan sehingga konsep pembangunan tol laut menuju poros maritim dunia, bukan sesuatu yang tidak mungkin bagi Indonesia, meski membutuhkan investasi yang tidak sedikit jumlahnya,” tambah Langodai.
Menurut dia, pembangunan tol laut ini akan menciptakan pertumbuhan ekonomi baru pada kawasan-kawasan atau pulau-pulau kecil menuju pulau-pulau besar, agar Indonesia dapat maju sejajar dengan kawasan-kawasan lainnya di dunia.
Ia menambahkan rencana pembangunan jembatan layang yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Adonara dan Lembata di Kabupaten Flores Timur merupakan sebuah rintisan awal untuk menciptakan poros maritim.
Langodai memastikan bahwa kehadiran tol laut di kawasan itu, tidak hanya sekadar untuk menggerakkan ekonomi masyarakat, tetapi ke depan akan menjadi objek wisata yang menarik.
“Tinggal kreatifitas pemerintah daerah mengelolanya menjadi sebuah sumber pendapatan bagi daerah masing-masing,” katanya.
