JAKARTA, HarianBernas.com ? Dengan tim forensik, PP Muhammadiyah dan Komnas HAM mengumumkan hasil otopsi jenazah terduga teroris Siyono di Kantor Komnas HAM, Senin siang ini (11/4).
Komisioner Komnas HAM, Siane Indriani mengungkapkan sejumlah fakta hasil otopsi.
- Menegaskan, belum pernah dilakukan otopsi terhadap jenazah Siyono sebelumnya.
- Faktanya, benda tumpul yang dibenturkan ke bagian dada menjadi penyebab kematian Siyono. Rinciannya, ada patah tulang iga kiri. Lima ke bagian dalam. Luka patah sebelah kanan satu, ke luar.
- Adapun luka di bagian kepala memang ada dan disebabkan oleh benturan. Namun, tak menyebabkan kematian serta tak menimbulkan pendarahan yang terlalu hebat.
- Tulang dada Siyono juga dalam kondisi patah mengarah ke jantung. Luka inilah yang menyebabkan kematian fatal.
“Titik kematian ada di situ,” komentar Siane terhadap fakta ketiga.
Menurut Siane, dari seluruh rangkaian hasil otopsi, Siyono tidak melakukan perlawanan berdasarkan luka-luka yang diteliti.
“Tidak ada perlawanan dari Siyono. Tidak ada luka defensif,” terangnya.
Sebelumnya, Kepala Humas Polri, Irjen Anton Charliyan menyatakan bahwa tidak ada satupun anggota Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri yang menembak almarhum Siyono terduga teroris dari Klaten.
“Opini yang berkembang bahwa SY (Siyono) ditembak. Sekarang dibuka lagi dengan diautopsi, yang dicari apakah ada bekas tembak? Nggak ada itu. Nggak ada bekas ditembak,” terang Kadivhumas Polri, Selasa (5/4).
Kendati demikian Anton membenarkan, ada tulang Siyono yang patah. Permohonan autopsi ini diproses oleh Komnas HAM setelah istri Siyono, Suratmi mengadu. Suratmi hanya ingin mengetahui penyebab pasti kematian suaminya.
“Memang satu tulang rusuk patah. Ini karena berkelahi dengan petugas di kendaraan. Lalu,tulang-tulang lainnya masih utuh,” katanya.
Polri pun menyesalkan kematian Siyono karena almarhum merupakan saksi kunci bagi polisi untuk mengungkap gerakan JI (New Jamaah Islamiyah)
