YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Dengan adanya pembatasan pengumpulan massa lantaran pandemi covid19, maka ajang tahunan Festival Bregada Rakyat Ke-7 tahun 2020 dilaksanakan dengan metode tapping. Peserta tampil tanpa pawai dimuka umum untuk dilakukan rekaman video. Hasilnya disebutkan Ketua Panitia FBR 2020, Widihasto Wasana Putra akan dikompilasi dan ditayangkan untuk dilakukan penilaian oleh tim juri. Lima penyaji terbaik mendapatkan hadiah uang pembinaan total senilai 36 juta rupiah.
“Pelaksanaan tapping dibagi empat tahap. Tahap l dan ll sudah digelar tanggal 14-15 November 2020 di Balai Kelurahan Tamantirto Kasihan Bantul. Kemudian tahap lll dan lV bakal diselenggarakan 21-22 November 2020 di Balai Kelurahan Trihanggo Gamping Sleman,” ujar Widihasto, Jumat (20/11/2020) kepada Bernas.id.
Peserta festival bregada rakyat yang telah menginjak tahun ke 7 diikuti 20 peserta dari berbagai wilayah DIY. Yakni :
1. Bregada Wira Manggala Grojokan Wirokerten Banguntapan.
2. Bregada Sumber Arum Sumberan Ngestiharjo Kasihan.
3. Bregada Suropakis Sonopakis Lor Ngestiharjo Kasihan.
4. Bregada Sorogo Manggolo Soragan Ngestiharjo Kasihan.
5. Bregada Muda Sejati, Jati Sriharjo Imogiri.
6. Bregada Ponco Manunggal Kadipiro Ngestiharjo Kasihan.
7. Bregada Panji Parentah DIY.
8. Bregada Kyai Ronggah Kronggahan Sleman.
9. Bregada Wirotomo Mayangan Trihanggo Gamping.
10. Bregada Wirotani Gamping lor.
11. Bregada Putri Sekar Arum Soboman Kasihan.
12. Bregada Jemparingan Langenastro.
13. Bregada Wiro Bekel Bekelan.
14. Bregada Prawiro Yudho Karangjati Jetis Tamantirto Kasihan.
15. Bregada Karang Kemuning Brosot Galur Kulonprogo.
16. Bregada Puspo Arum Trihanggo Gamping.
17. Bregada Garuda Kyai Morang Murangan Sleman.
18. Bregada Gagak Rimang Gawar Pandowoharjo Sleman.
19. Bregada Malang Yudho Pandowoharjo Sleman
20. Bregada PJ2 Dipowinatan.
Satu kelompok bregada terdiri atas 40 orang personil.
Penayangan hasil tapping sekaligus penjurian kembali diungkapkan Widihasto, dijadwalkan pada hari Minggu 29 November 2020, pukul 13.00 WIB di Dinas Kebudayaan DIY. “Rencana disiarkan live streaming melalui kanal Youtube Dinas Kebudayaan DIY tasteofjogja disbud diy,” tambahnya.
Untuk para Juri, lanjut Widihasto, terdiri dari perwakilan Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman, perwakilan media massa dan pengamat. “Kriteria penilaian meliputi keserasian tata lampah atau baris, ungel-ungelan atau tata musik, kreatifitas kostum dan asesoris pendukung. Selain itu ada satu kriteria tambahan menarik yakni kedisiplinan penerapan protokol kesehatan bagi peserta,” paparnya.
Lima penyaji terbaik akan mendapatkan hadiah uang pembinaan total Rp 36 juta dengan rincian senilai Rp 10 juta, Rp 8 juta, Rp 7 juta, Rp 6 juta, dan Rp 5 juta.
Keberadaan bregada rakyat menurut Widihasto penting dilestarikan. Seni keprajuritan rakyat ini menjadi salah satu ciri keistimewaan DIY sebab tidak ada di provinsi lain. Ia juga turut menggerakkan industri busana adat, mulai blangkon, topi keprajuritan, baju, surjan, lontong, kamus, keris, tombak, panah, kain jarik, tambur, suling, terompet dan asesoris penunjang lainnya.
“Bregada rakyat juga menjadi ajang pembauran antar anggota masyarakat dalam rangka sehingga mempupuk kebersamaan dan semangat persatuan,” katanya.
Awal September lalu paska insiden demonstrasi anarkis di Malioboro, para pelaku seni keprajuritan rakyat ini spontan menggelar Apel Siaga Jaga Jogja Damai lengkap dengan busana khasnya. Mereka mengecam pelaku anarkisme sekaligus siap pasang badan menghadapi oknum-oknum perusuh yang mengganggu ketentraman masyarakat. (cdr)
