JEMBER, BERNAS.ID – Dinas Sosial Kabupaten Jember berdayakan ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) agar mampu berdiri secara mandiri. Upaya itu dilirik Sentra Mahatmiya Bali dan akan dijadikan role model.
Sejak dipimpin oleh Ahkmad Helmi Luqman, Dinsos Kabupaten Jember banyak menuai pujian masyarakat. Salah satunya yaitu respon cepatnya Tim Reaksi Cepat (TRC) atas aduan warga terkait keberadaan ODGJ di tempat-tempat umum yang meresahkan.
Dinsos Kabupaten Jember berdayakan ODGJ, baik yang diserahkan oleh keluarga maupun hasil operasi di jalan.
Ternyata, hal itu didengar oleh Kepala Sentra Mahatmiya Bali Sumarno Sri Widodo. Bahkan ia akan menjadikan penanganan ODGJ di Jember menjadi Role Model yang akan diterapkan di daerah lain.
“Role model ini terbatas pada odgj atau penyandang disabilitas mental,” ucap Widodo sapaan Kepala Sentra Mahatmiya Bali, Jumat (20/10/2023).
Baca Juga : NU Bantul Salurkan 4.500 Paket Sembako untuk Difabel dan ODGJ
Widodo datang ke Liposos (Lingkungan Pondok Sosial) Kabupaten Jember dalam rangka memberikan program bantuan ATENSI (Asistensi Rehabilitas Sosial).
Dia menyerahkan 3 kendaraan roda tiga, dan bersama tim membuatkan 92 kaki tangan palsu untuk penyandang disabilitas fisik.
Menurut Widodo, tanpa kepedulian sosial yang tinggi akan sulit merawat ODGJ. Jumlahnya di Jember hampir sama dengan di Bali.
“Di sini ada dua ribuan, hampir sama dengan di Bali. Di Tabanan ada tujuh ratusan di Gianyar ada seribu lebih. Mereka berhak untuk mendapatkan penghidupan,” urai Widodo.
Sejak 3 bulan lalu, kata Widodo, Sentra Mahatmiya Bali dan Dinsos Jember membuat kolam ikan lele yang pengelolaannya dilakukan oleh ODGJ yang dirawat di Liposos Jember.
“Role model ini nanti tidak terbatas hanya di Jember saja tetapi untuk daerah lain juga,” imbuhnya.
Widodo menyimpulkan, ODGJ jika diberi sentuhan, bimbingan, dan pendampingan mereka bisa berdaya. “Yang terjadi di Jember, dinsos melakukan pendampingan secara luar biasa,” puji Widodo.
Widodo menekankan, dalam pendampingan terhadap ODGJ ada 2 hal yang patut diketahui oleh masyarakat, khususnya keluarga dekat.
“Yang pertama, keberlanjutan obat, sebab mereka hanya bisa dipulihkan bukan disembuhkan. Artinya, ketergantungan pada obat untuk selamanya,” kata Widodo.
Hal kedua yaitu kepedulian dari pendamping, seperti keluarga dan masyarakat sebab kejiwaan ODGJ, yang kelihatannya sudah pulih, bisa kembali tidak stabil manakala diganggu oleh pihak luar.
Widodo mengapresiasi upaya Dinsos Jember berdayakan ODGJ itu.
Baca Juga : BLT DBHCHT 2023 Pemkab Jember, 3 Nilai Lebih Dari Tahun Lalu
Sementara, Kadinsos Akhmad Helmi Luqman menjabarkan bahwa kegiatan ATENSI berasal dari Kementrian Sosial lewat Sentra Mahatmiya Bali.
Selain bantuan program ATENSI, juga kegiatan memberdayakan ODGJ. “Sentra Mahatmiya Bali menjadikan Jember sebagai role model untuk wirausaha bagi odgj. Ini juga bekerja sama dengan LKSA (lembaga kesejahteraan sosial anak) yang juga menangani ODGJ,” terang Helmi.
Tidak hanya memelihara ikan lele, mereka juga akan diajari membuat makanan olahan berbahan baku ikan lele.
Sebelumnya, Bupati Jember Hendy Siswanto dalam sambutannya mengatakan, jumlah penduduk Kabupaten Jember saat ini mencapai 2,6 juta jiwa.
Sebagian besar dana APBD tersedot untuk pembangunan fisik, yaitu jalan aspal hingga ke pedesaan, rehap gedung sekolah dan perkantoran, trotoar jalan dan pembangunan pabrik pupuk organik.
Hendy Siswanto akan menambah alokasi anggaran untuk OPD Dinas Sosial pada tahun mendatang supaya penanganan masalah sosial semakin maksimal. (sgt)
