YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Ki Narto Sabdo adalah seorang maestro musik Jawa dan pedalangan. Ia banyak melakukan eksplorasi seni, sehingga mendapat julukan “Dalang Edan”. Karya-karyanya sangat melegenda, dan ia menjadi dalang kesayangan Sukarno, sekaligus menjadi ujung tombak sosialisasi program Orde Baru.
Agustus tahun depan adalah peringatan 100 Tahun Ki Narto Sabdo. Untuk itu, Sanggar Seni Lembah Manah mengawali rangkaian peringatan dengan mengadakan sarasehan di Kompleks Ndalem Yudonegaran, Kamis 7 November 2024.
Kerabat Kraton Jogja GBPH Yudhaningrat yang hadir di acara ini menjelaskan, Ki Narto Sabdo adalah sosok yang istimewa. Selaku seniman tradisional Jawa, Ki Narto Sabdo dinilainya tidak fanatik, tapi menjadi pembaharu di dalam bidang kesenian.
“Belum ada yang mendekati beliau ini dalam berkesenian,” ujarnya.
Baca juga: Kumbakarna, Brubuh Alengka dan Pergelaran Wayang Terakhir Bapak
Angela Stefani selaku panitia dari Sanggar Lembah Manah menjelaskan, acara malam ini digelar untuk memperingati Hari Wayang Sedunia, selain sebagai titik awal agenda peringatan 100 tahun Ki Narto Sabdo. Untuk titik awal pihaknya malam ini menyelenggarakan sarasehan dengan tema “Membaca Ki Narto Sabdo”.
“Jadi harapannya kita akan melihat sepak terjang beliau yang sebelumnya itu seperti apa peninggalan dan warisannya, seperti apa dalam pendapat dari teman-teman seniman dan juga akademisi yang datang pada malam hari ini,” kata Stefani yang juga cucu Ki Narto Sabdo.
Ia berharap, dari sarasehan mengulas tentang Ki Narto Sabdo ini nantinya dapat lahir buku tentang Ki Narto Sabdo yang dapat terbit tahun depan. Buku ini diharapkan tidak hanya berupa biografi, tapi menampilkan hal-hal tentang Ki Narto Sabdo yang belum banyak orang tahu.
“Supaya kita bisa menerima warisan-warisan beliau dan dilestarikan,” imbuh dia.
Baca juga: Wayang Kulit ‘Gathutkaca Winisudha’ Dipentaskan di Dalem Notoyudan
Dr. Purwadi selalu narasumber sarasehan menjelaskan, karya-karya ciptaan Ki Narto Sabdo itu menampilkan kedalaman. Di dunia wayang, karya-karyanya itu berusaha menjelaskan pula, apa tujuan esensial dari pedalangan.
“Karya-karya Ki Narto Sabdo itu mengandung unsur logika, etika, dan estetika,” ujarnya
Muchus Budi Rahayu, seorang budayawan selaku narasumber lain menjelaskan, Ko Narto Sabdo tidak pernah fanatik pada satu gagrak. Walau aslinya bukan dalang, tapi pemain kendang, Ki Narto Sabdo adalah tokoh yang sangat berpengaruh, hingga mendapat penghargaan istimewa dari Presiden Suharto, dan akhirnya mendapat gelar Pahlawan Budaya.
“Yang menarik, gelar pahlawan itu diberikan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,” jelasnya. (den)
