KULON PROGO, BERNAS.ID – Program Studi Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Alma Ata, kembali memberikan kontribusi penting dalam pelayanan masyarakat dengan mengadakan seminar bertajuk “Pengendalian Resistensi Antibiotik.”
Acara ini dilaksanakan pada Kamis, 21 November 2024, di Aula RSUD Wates, dan dihadiri oleh berbagai kalangan, termasuk tim PPRA, dokter, apoteker, perawat, tenaga teknis kefarmasian, serta dosen Farmasi Universitas Alma Ata.
Seminar ini merupakan hasil kerja sama antara Universitas Alma Ata, RSUD Wates, dan University of Malaya. Sebagai pembicara, Dr. Kashif Ullah Khan, seorang dosen peneliti dari University of Malaya, bersama Dr. apt. Daru Estiningsih, M.Sc., dosen dan peneliti Universitas Alma Ata, menyampaikan paparan mendalam tentang tantangan global resistensi antibiotik (AMR). Diskusi dipandu oleh dr. Raihan Hananto, dokter umum RSUD Wates.
Baca Juga : Edukasi Jurnalis, Pemkot Jogja Gelar Seminar Anti Kekerasan Terhadap Perempuan
Resistensi antibiotik menjadi ancaman serius yang bisa membawa dunia kembali ke masa sebelum penemuan antibiotik, di mana infeksi sederhana menjadi sulit untuk diobati.
Dalam seminar ini, peserta diajak untuk memahami pentingnya penggunaan antibiotik yang terkendali baik di bidang kesehatan maupun peternakan.
Hasil penelitian yang disampaikan menunjukkan bahwa bakteri seperti Staphylococcus aureus dan Klebsiella pneumoniae telah menunjukkan tingkat resistansi tinggi terhadap antibiotik tertentu, khususnya di daerah Sleman, Yogyakarta.
Fenomena resistensi antibiotik menyebabkan kegagalan pengobatan, memperburuk kondisi pasien, dan meningkatkan beban biaya kesehatan.
Data menunjukkan bahwa pengendalian infeksi membutuhkan strategi menyeluruh, termasuk pengawasan penggunaan antibiotik, edukasi masyarakat, dan penerapan kebijakan berbasis One Health yang memperhatikan hubungan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Kepala Prodi Farmasi Universitas Alma Ata, Rizal Fauzi, M.Clin.Pharm., menekankan, bahwa pengelolaan resistansi antibiotik merupakan tanggung jawab bersama.
“Kerjasama antara akademisi, praktisi, dan masyarakat adalah bagian penting untuk mengendalikan masalah ini,” ujarnya.
Baca Juga : Sleman Dukung Gerakan Gaya Hidup Sehat Minimalisir Penyakit Degeneratif
Selain seminar, acara ini juga mencakup pembagian leaflet edukasi kepada pengunjung rawat jalan RSUD Wates. Leaflet ini berisi informasi tentang cara mencegah resistansi antibiotik dengan penggunaan yang bijaksana.
Wakil Direktur Administrasi Umum dan Keuangan RSUD Wates dr. Heni Suryadi, menyampaikan penghargaan atas kegiatan ini, menunjukkan bahwa kerjasama antara universitas dan rumah sakit dapat menghasilkan solusi nyata untuk permasalahan kesehatan.
Acara ini menjadi salah satu wujud implementasi tridarma perguruan tinggi oleh Prodi Farmasi Universitas Alma Ata. Melalui upaya berkelanjutan, Universitas Alma Ata bertekad untuk berkontribusi dalam menyelesaikan tantangan kesehatan global dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. (*/cdr)
