JAKARTA,BERNAS.ID – Pertemuan Presiden kelima Indonesia Megawati Soekarnoputri dengan Presiden kedelapan Prabowo Subianto berlangsung di kediaman Megawati, Teuku Umar, Jakarta Pusat.
Pertemuan ketua umum dua partai besar itu berlangsung selama 1,5 jam. Ada catatan yang disampaikan pengamat politik Ray Rangkuti terhadap pertemuan anak dari tokoh nasional tersebut.
Menurut Ray,.pertemuan Megawati dengan Prabowo di Teuku Umar, kediaman Mega, maka, hal ini menunjukan kepiawaian dan kematangan Mega memang sangat teruji. Pasalnya, semua skenario pertemuan dilakukan di luar perkiraan. Ingatan orang masih terpaut kepada ingatan 6 tahun lalu, kalau Mega dan Prabowo bertemu di Teuku Umar. Dan itu jalan Prabowo berkoalisi dengan pemerintahan Jokowi. Saat itu, pertemuan terjadi dengan terbuka bahkan dengan pameran masak dan makan siang bersama.
Baca Juga : Buka Sarasehan Ekonomi, Prabowo Singgung Tarif Trump dan Kemandirian Ekonomi
“Maka jika pertemuan sekarang dilakukan dengan tertutup adalah di luar perkiraan dan saya kira bagian dari strategi ibu Mega, “ ujar Ray, kepada redaksi, Rabu (9/4/2025).
Selain itu kata Ray, pertemuan tertutup itu memberi kesan bahwa pertemuan Mega dengan Prabowo merupakan pertemuan biasa saja. Kurang lebih sama dengan pertemuan Mega dengan tokoh politik lainnya. Menyiratkan bahwa pertemuan itu tak perlu dibesarkan karena nilainya sama dengan pertemuan Mega dengan tokoh-tokoh lainnya.
“Bahwa pertemuan itu dilakukan di Teuku Umar, bukan di istana negara, juga merupakan strategi jitu ibu Mega. Dengan begitu, sulit menyebut ibu Mega telah ‘ditaklukan’. Kenyataan bahwa ibu Megalah yang didatangi oleh Prabowo menandakan betapa ketokohan ibu Mega tidak dapat dipandang sebelah mata oleh Prabowo. Tidak sama dengan ketua umum parpol lain yang bahkan rela menjadi pembantu Prabowo sebagai anggota kabinet. Yang dengan sendirinya menjadi ‘anak buah’ pak Prabowo,” tambah Ray.
Baca Juga : Ahmad Muzani Respon Soal Kunjungan Putra Prabowo Ke Megawati dan Jokowi, Ini Kata Puan
Hal ini juga menempatkan Mega tidak kalah pamor dari Jokowi di mana awal-awalnya didatangi oleh Prabowo ke Solo.
“Berbeda dengan pertemuan pak Jokowi dengan pak Prabowo yang dilakukan di tempat netral, pertemuan ibu Mega dan pak Prabowo di rumah ibu Mega menunjukan bahwa kebutuhan untuk bertemu itu, memang datang dari pak Prabowo,” katanya.
Prabowo menyadari dalam situasi bangsa seperti saat ini, diperlukan kerja sama semua pihak. Tentu salah satu yang terpenting itu adalah kerja sama dengan partai-partai di parlemen. Prabowo menyadari bahwa kekuatan PDIP sangat besar, soliditasnya makin kuat dan pengaruhnya makin membesar. Sementara teman sekutu Prabowo begitu-begitu saja. Terus menerus mengaitkan diri dengan Jokowi juga tidak meningkatkan kekuatan politik di tengah masyarakat. Jika pada akhirnya PDIP tetap memilih jalur oposisi misalnya, itu oposisi yang moderat. Bukan oposisi yang keras.
“Maka, pertemuan itu memberi poin 70 untuk ibu Mega dan 30 untuk pak Prabowo. 70 itu dari Ibu Mega menunaikan satu faksi di dalam tubuh PDIP yakni faksi ibu Puan yang memang berkeinginan kuat agar ibu Mega bertemu pak Prabowo. Presiden yang mendatangi Mega. Bukan Mega yang ke istana.
“Menjaga hubungan dengan kekuatan oposisi agar tetap terjalin. Oposisi tidak merasa begitu saja ditinggalkan. Menjaga martabatnya sebagai ketum partai pemenang pemilu. Bukan partai yang belok sana belok sini demi kekuasaan, “ tutupnya. (FIE)
