JAKARTA, BERNAS.ID – Memahami karakter dan perilaku Gen Z bukan hanya soal mengikuti tren, tetapi menjadi strategi bisnis yang wajib dimiliki pelaku usaha saat ini.
Dalam seminar bertema “From Data to Vibes: How AI & Analytics Make Your Business Rewarding to Gen Z”, Rektor Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA) Tri Atmodjowati dan Founder & CEO CERVO ID Cooky T. Adhikara menekankan pentingnya pendekatan berbasis data dan pengalaman dalam memenangkan hati konsumen muda ini.
Tri Atmodjowati menyoroti bahwa Gen Z saat ini mendominasi sekitar 40 persen pasar konsumen. Menurutnya, kegagalan memahami mereka berarti kehilangan pangsa pasar yang besar. “Kalau kita tidak mengenal mereka, maka kuenya gak dapet,” tegas Tri.
Baca Juga : Punya Program Khusus Tangani Gen Z, Pramono-Rano Bakal Beri Layanan Konseling 24 Jam
Ia menekankan bahwa Gen Z adalah generasi yang lahir dalam ekosistem digital dan sangat terbiasa dengan teknologi. Mereka bukan hanya mengandalkan data, tetapi juga mencari nilai, manfaat, dan pengalaman dalam berbelanja.
“Sebagai dosen, saya tidak melarang mahasiswa main HP saat belajar. Justru saya minta mereka menunjukkan apa yang mereka temukan dari hasil scroll-nya. Diskusi jadi lebih kritis,” ujarnya.
Dalam sesi yang interaktif, Tri juga menekankan pentingnya inovasi dalam produk, bukan hanya dari sisi bentuk, tetapi juga makna. Ia mencontohkan bagaimana produk sederhana seperti mi instan bisa tampil beda melalui warna atau topping yang menarik seperti dilakukan oleh merek prngusaha mie.
“Inovasi bukan selalu hal besar, tapi bagaimana sesuatu yang ada bisa dikembangkan secara kreatif,” tambahnya.
Baca Juga : Startup di Tengah Turbulensi, Menakar Ulang Makna Pertumbuhan Berkualitas
Senada dengan itu, Cooky T. Adhikara menyampaikan bahwa untuk menaklukkan pasar Gen Z, pelaku bisnis harus memahami konsep experience atau pengalaman yang menyentuh suasana hati (vibe) dan konektivitas emosional (feel).
“Sekarang ini bukan cuma produk, tapi bagaimana produk itu menciptakan pengalaman baru. Experience itu yang dijual,” ujarnya.
Cooky menambahkan bahwa generasi ini mencari sesuatu yang vibe-nya dapet dan risk-worthy, yaitu pengalaman yang layak untuk dibagikan dan diulang. “Restoran sekarang bukan cuma soal makanan enak, tapi juga tempat yang estetik, instagramable, dan bisa membangun suasana nyaman,” ujarnya.
Menurut Cooky, konsep gamification juga menjadi strategi penting. Ia memberi contoh bagaimana sebuah tempat makan bisa menciptakan pengalaman sosial baru, misalnya dengan fitur yang memungkinkan pelanggan saling terhubung, meski awalnya tidak saling kenal.
“Produk tidak lagi hanya dinilai dari hasil, tetapi juga proses dan perasaan yang ditimbulkan. Gen Z membeli rasa nyaman, koneksi, dan validasi,” ujarnya. Karena itu, lanjutnya, inovasi dan adaptasi tak bisa ditawar jika bisnis ingin relevan di masa depan.
Baik Tri maupun Cooky sepakat bahwa memahami Gen Z hari ini menjadi modal penting untuk menyambut generasi selanjutnya: generasi Alpha yang memiliki pola pikir lebih jauh berbeda. “Kalau kita ingin bertahan dan tetap relevan, harus mulai sekarang memahami bukan cuma siapa pasar kita, tapi bagaimana mereka berpikir dan merasa,” pungkas Cooky. (DID)
