JAKARTA, BERNAS. ID – Menjelang masuknya AS dalam konflik Israel-Iran membuat pendukung Donald Trump terbelah. Ada kubu intervensionis dan isolasionis, namun keputusan Trump akhirnya tegas ikut masuk ke dalam konflik membela Israel sambil menawarkan perdamaian ke Iran.
Bagi Trump kepentingan domestik dan luar negeri AS bak dua sisi koin, sama pentingnya. Bila Amerika ingin tetap utama terdepan maka eksistensi pengganggu harus dilemahkan apalagi rival terdekat di pentas global. Menjaga kepentingan inilah membuat AS terlibat banyak konflik keras di berbagai belahan dunia.
Sedangkan paksaan damai Trump yang didahului menjatuhkan bom besar di situs nuklir Natans, Isfahan, dan Fordow sama saja menghina Bangsa Iran. Bagi Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei balasan keras jadi sumpah suci Bangsa Iran ke semua aset AS; individu, tentara, dan pangkalan militer di sembilan negara Timur Tengah.
Direktur Eksekutif Indonesia Democracy Bridge Research Institute (Ind-Bri), Bernard Haloho menganalisa, Trump tidak hanya mewarisi unilateralisme Bush, tapi memberinya nyawa baru lewat logika populisme dan nasionalisme agresif. Ia melihat dunia bukan sebagai ruang kerjasama, tetapi medan pertempuran kepentingan.
Baca Juga :Analisis Bernard Haloho, Dunia Mulai Khawatir Ketika Serangan Israel Memantik Kepanikan Global
“Baginya, jika Amerika ingin tetap di puncak, maka semua potensi pengganggu harus dikerdilkan. Iran adalah target “antara” yang penting, karena menantang hegemoni AS bukan hanya di Teluk, tapi juga di jantung sistem finansial dunia,” ungkap Bernard, kepada redaksi, Rabu (25/6/2025).
Bagi sebagian pendukung Trump, langkah ini merupakan pembuktian kepemimpinan kuat. Namun faksi isolasionis—yang selama ini menjadi tulang punggung populisme kanan—merasa dikhianati. Amerika, sekali lagi, terseret ke perang yang bukan untuk rakyatnya, tetapi untuk memperpanjang cengkeraman imperium global.
Sementara itu, serangan terhadap situs nuklir Natanz, Isfahan, dan Fordow bukan hanya tentang senjata pemusnah massal, tapi pesan keras kepada sekutu-sekutu Timur Tengah: jika kalian mencoba keluar dari orbit Washingto terutama dalam transaksi minyak non-dolar akan ada harga mahal. Iran selama ini mendorong perdagangan energi dengan yuan, euro, dan mata uang regional. Ini ancaman laten bagi dominasi petrodolar, jantung kekuatan keuangan AS.
Baca Juga :Legislator Senayan Minta Pemerintah Perhatikan Dampak Perang Iran-Israel
“Dengan menggempur Iran, Trump juga mengingatkan negara-negara seperti Arab Saudi, UEA, dan bahkan Turki: jangan bermain-main dengan diversifikasi ekonomi jika itu berarti melemahkan dolar. Ketakutan disebarkan sebagai alat pengendali, bukan hanya terhadap musuh, tapi juga mitra, “ ujarnya.
Trump memang menawarkan perdamaian. Tapi tawaran itu datang bersamaan dengan ledakan. Pendekatan ini menggemakan strategi “shock and awe” yang dulu digunakan dalam invasi Irak. Bedanya, Trump tidak sekadar menggunakan militer; ia menggunakan paradoks. Damai dijadikan instrumen propaganda, bukan hasil akhir yang tulus.
Bagi Iran, strategi ini bukan tawaran, tapi ultimatum. Bagi dunia, ini bukan mediasi, tapi justifikasi kekerasan. Dunia menyaksikan bagaimana konsep perdamaian telah dikooptasi menjadi alat legitimasi imperialisme.
Ayatollah Ali Khamenei merespons dengan tegas: tidak ada perdamaian dalam penghinaan. Iran kini mengancam akan menyerang semua aset AS di kawasan. Targetnya bukan hanya instalasi militer, tapi juga individu dan jaringan intelijen. Ini bukan gertakan kosong. Sejarah Iran menunjukkan bahwa ia mampu melancarkan balasan strategis, terukur, dan menghancurkan secara psikologis.
“Kita mungkin menyaksikan babak baru perang asimetris: rudal ke kapal induk AS, penutupan Selat Hormuz yang telah disetujui parlemen, atau sabotase terhadap jaringan energi Teluk. Dan yang paling mengkhawatirkan, Iran tidak sendiri. Kelompok seperti Hizbullah, Houthi, hingga milisi Syiah Irak bisa menjadi katalis eskalasi regional, “ paparnya.
Saat situasi seperti itu terjadi, skenario perang Rusia-Ukraina akan berulang pada perang Israel-Iran dimana ada aktor negara lain dengan sembunyi ikut membantu untuk melawan AS.
Bila skenario ini terjadi maka langit Timur Tengah menjadi lautan rudal. Serangan balik Iran akan mengubah langit kawasan menjadi teater pertempuran rudal. Sistem pertahanan seperti Iron Dome, Patriot, atau Arrow akan kewalahan menghadapi serangan simultan. Ini bukan hanya perang konvensional, tapi ujian atas seluruh sistem keamanan regional buatan Barat.
Satu rudal yang meleset ke fasilitas minyak Saudi, atau satu drone yang menghantam pangkalan AS di Qatar atau Bahrain, cukup untuk menciptakan spiral eskalasi global. Pasar energi sudah bergejolak. Bursa saham runtuh. Dunia ekonomi akan kembali masuk ke fase krisis seperti 1973—dengan dimensi baru: smart weapons, nuklir dan cyber.
Menurut Bernard, Iran hanyalah target antara. Tujuan akhirnya adalah mempertahankan imperium AS di tengah kemunculan kekuatan alternatif seperti China. Dengan menggertak Iran, Trump mengirim pesan ke Beijing bahwa siapa pun yang melawan dominasi global AS akan menghadapi kekerasan, bukan negosiasi.
“China menjadi perhatian utama karena tiga alasan: kekuatan ekonomi, teknologi, dan upaya de-dolarisasi global. Trump melihat bahwa tatanan lama terancam, dan satu-satunya cara mempertahankannya adalah dengan mempercepat dominasi—bukan menyesuaikan diri. Serangan ke Iran bukan akhir, melainkan awal dari doktrin Hawkish: dominasi tanpa kompromi, “ terangnya
Lanjut Bernard, dunia di persimpangan berbahaya ketika damai dijadikan tameng dan agresi dibungkus retorika, maka dunia tidak sedang menuju stabilitas, tapi jurang baru. Timur Tengah bukan hanya kawasan konflik, tapi juga cermin kekacauan global: saat adil dan kuat dipisahkan, dan saat rakyat hanya jadi latar dari drama para elit dunia.
Trump mungkin menang dalam jangka pendek, tapi akan kesulitan dalam jangka panjang. Sejarah kontemporer AS membuktikan, selalu mengagumkan saat memulai perang namun menyakitkan di akhir permainan; perang Vietnam, Irak, Afghanistan. Dan seperti sejarah mengajarkan: kekuasaan yang bertahan dengan kekerasan, pada akhirnya selalu runtuh oleh perlawanan yang tak diduga.
“Kini dunia harus memilih: membiarkan api menyebar atau mulai meniupkan angin akal sehat. Sebab jika tidak, lautan rudal akan menjadi penentu sejarah umat manusia berikutnya,” tutupnya. (FIE)
