Bernas.id- Sejak pandemi Covid-19 melanda, sektor pariwisata Indonesia sempat lumpuh. Tak mau berlarut-larut dalam keterpurukan tersebut, pemerintah pun mulai gencar mempromosikan kembali wisata Indonesia dengan menargetkan ratusan desa wisata di tahun 2024.
Kehadiran sebuah film pendek berjudul “Jiwa Jagad Jawi” tersebut tampaknya cocok dengan momentum tersebut. Melalui sebuah film pendek berdurasi 8 menit 12 detik, para seniman dan sineas tanah air mencoba mengeksplorasi keindahan Indonesia, khususnya Jawa.
Video yang diunggah di Channel YouTube Wonderful Indonesia pada awal Februari 2022 ini telah memang tidak seviral video para Youtuber yang bisa meraih jutaan penonton hanya dalam hitungan hari saja.
Akan tetapi, Jiwa Jagad Jawi telah berhasil menuai decak kagum masyarakat internasional. Buktinya, banyak YouTuber luar negeri yang memposting video reaksi saat menonton Jiwa Jagad Jawi.
Pemilik channel Youtube TriFateGeo, misalnya. Youtuber asal Amerika tersebut mengunggah sebuah video berjudul “Americans React to Wonderful Indonesia 2022 “Jiwa Jagad Jawi”. Lalu ada pula video berjudul Italian Reacts To Wonderful Indonesia 2022 “Jiwa Jagad Jawi” yang diunggah oleh channel Yout=Tube Mauroreactions.
Masih ada beberapa YouTuber asal luar negeri yang mengunggah video reaksi saat mereka menyaksikan film pendek tersebut. Para Youtuber tersebut terlihat memberikan reaksi positif akan hadirnya film pendek Jiwa Jagad Jawi tersebut.
Tentang Jiwa Jagad Jawi
Jiwa Jagad Jawi adalah film hasil dari kolaborasi seniman kontemporer yang mencoba menguak permasalahan di zaman modern, yakni krisis kesadaran, krisis identitas, dan melemahnya jati diri.
Film tersebut menceritakan kisah seorang wanita, bernama Bulan, yang melakukan perjalanan ke tanah Jawa untuk menemukan jati dirinya. Selain menampilkan adat dan istiadat di tanah jawa, film tersebut juga mengeksplorasi keindahan alam Indonesia, khususnya Pulau Jawa.
Melalui kisah Bulan, penonton pun diajak bagaimana memaknai kehidupan sekaligus melihat indahnya tanah Jawa. Siapa yang menyangka, film pendek berdurasi tak sampai 10 menit tersebut ternyata membutuhkan proses panjang dalam pembuatannya. Maka tak heran jika hasil yang tersaji pun berhasil menuai decak kagum.
Dihubungi oleh tim Bernas.id, Julius Bramanto selaku Creative Director dalam pembuatan film pendek tersebut mengatakan bahwa Jiwa Jagad Jawi memerlukan waktu sekitar delapan bulan untuk bisa disaksikan oleh para penonton.
“Proses pembuatan sekitar 8 bulan, di mana 4 bulan riset, 1 bulan praproduksi (termasuk napak tilas dan survey), 1 bukan produksi, 2 bulan post produksi (membuat musik, editing, voice over, grading, etc),” ungkapnya.
Dalam film pendek tersebut, ada enam destinasi wisata di pulau Jawa yang menjadi highlight, yaitu Candi Borobudur, Kahyangan Dlepih, Desa Wisata Tembi, Kotagede, Air Terjun Sri Gethuk, dan Candi Sewu.
Baca juga: Mengenal Budaya Jawa dan Menyusuri Kebenaran Sejati Lewat “Jiwa Jagad Jawi”
Enam Destinasi Wisata dalam Jiwa Jagad Jawi
Ada alasan khusus mengapa enak destinasi wisata tersebut menjadi highlight dalam film pendek Jiwa Jagad Jawi. Berikut keistimewaan enam destinasi wisata dalam film pendek Jiwa Jagad Jawi:
1. Candi Borobudur

Siapa, sih, yang tak tahu Candi Borobudur? Selain menjadi destinasi wisata, Candi Borobudur juga menjadi tempat ibadah umat Budha. Candi yang terletak di daerah Magelang, Jawa Tengah, ini dibangun pada masa Dinasti Syailendra, tepatnya pada tahun 800 masehi.
Candi Borobudur yang masuk dalam tujuh keajaiban dunia ini sempat terkubur di dalam tanah selama bertahun-tahun. Candi tersebut kembali ditemukan pada masa pemerintahan Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jawa pada 1811.
Dalam perbincangan dengan Tim Bernas.id, Julius mengatakan Candi Borobudur terpilih sebagai highlight dalam film jagad Jiwa Jawi karena area tersebut mengandung buku kehidupan yang tercermin di dalam relief, stupa, dan patung-patung budha di dalamnya..
“Di Candi Borobudur terdapat Buku Kehidupan, di mana ada 10 level kehidupan pencerahan atau kesadaran manusia yang di simbolisasi melalui cerita pada relief, stupa, dan mudra pada patung-patung buddha,” ungkapnya.
Dalam film Jiwa Jagad Jawi, diceritakan bahwa tokoh utama menemukan diri sejatinya berada pada level 10 Candi Borobudur.
“Diri Sejati kami simbolisasikan melalui wujud anak-anak yang tak bercela, bersih, lugu, dan suci. Di candi ini juga dulunya banyak orang-orang dari seluruh penjuru dunia datang untuk belajar,” tambahnya.
2. Kahyangan Dlepih

Kahyangan Dlepih adalah kawasan air terjun yang terletak di daerah Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri. Konon, lokasi tersebut dipercaya sebagai tempat pertapaan para leluhur Majapahit.
Kawasan tersebut juga dipercaya sebagai objek kawasan wisata spiritual. Kahyangan Dlepih juga dipercaya sebagai tempat petilasan Panembahan Senopati, Raja Mataram Islam yang pertama. Di lokasi tersebut juga sering dilakukan ritual sedekah bumi untuk mengungkapkan rasa syukur kepada ibu pertiwi yang telah mencukupi semua kebutuhan manusia.
Bagi Keraton Yogyakarta dan Surakarta, Kahyangan Dlepih juga memiliki makna yang mendalam. Julius mengatakan bahwa lokasi tersebut dipercaya sebagai tempat bertemunya Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Pantai Selatan.
“Saat pertemuan tersebut, mereka membuat janji. Hal itu menunjukan simbolisme antara energi maskulin dan feminin, simbol dua loka (dua dunia). Karena itu, lokasi tersebut sangat disakralkan oleh kalangan spiritual Jawa,” tambah Julius.
3. Kotagede

Kotagede adalah salah satu nama kecamatan di Yogyakarta. Di lokasi tersebut, terdapat sentra kerajinan dari perak dan berbagai situs bersejarah seperti makam raja, masjid agung, hingga benteng bekas keraton. Di zaman dahulu, Kotagede pernah menjadi pusat pemerintahan sebuah kerajaan besar.
Pada zaman dahulu berdiri sebuah kerajaan besar dengan pusat pemerintahan di Kotagede, yaitu kerajaan Mataram, yang menjadi cikal bakal keraton Yogyakarta dan Surakarta. Dalam film Jiwa Jagad Jawi, diceritakan bahwa tokoh utama melakukan ziarah di makam seorang raja sebelum memulai perjalanannya.
“Kotagede adalah Ibu Kota Mataram Islam sekaligus lokasi Panembahan Senopati dan ayahnya dimakamkan. Sesuai dengan tradisi jawa, sebelum memulai sesuatu yang dianggap penting baiknya memohon restu kepada leluhur, disini pula, tokoh utama memulai perjalanannya dengan memohon restu kepada ‘Ayah’ dari raja-raja Jawa Mataram” ungkap Julius.
4. Candi Sewu

Candi Sewu berlokasi di Klaten, Jawa Tengah,, tepatnya di utara Candi Prambanan.. Candi budha tersebut dibangun pada abad ke 8 masehi. Candi Sewu juga dikenal sebagai kompleks Candi Budha terbesar kedua setelah Candi Borobudur. Candi Sewu dibangun oleh Rakai Panangkaran, Raja Mataram kuno kedua.
Candi Sewu memiliki nama asli Manjusrigrha. Manjusri adalah seseorang yang dianggap sudah mencapai Bodhisattva yang sangat tinggi. Manjusri juga dianggap sebagai Bodhisattva yang mewakili Wisdom dan Kebijaksanaan.
“Didalam scene Jiwa Jagad Jawi, candi ini dianggap sebagai Nirvana atau surgaloka, dimana segalanya penuh dengan keindahan, kesempurnaan, dan harmoni sebagai wujud Ilmu tertinggi yaitu hikmat kebijaksanaan,” ucap Julius.
5. Candi Dieng

Candi Dieng adalah candi hindu aliran Siwa di abad ke tujuh yang berlokasi di dataran tinggi Dieng. Candi tersebut berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut.
Candi tersebut juga dikenal sebagai candi tertua di pulau Jawa Tengah.Candi Dieng merupakan Mandala kuno atau tempat belajar dan berguru yang besar. Hal tersebut juga bisa kita saksikan dalam Jiwa Jagad Jawi.
“Pada zamannya Mandala tersebut didatangi oleh banyak murid-murid dari dalam negeri dan negara-negara lain. Scene yang ditampilkan dalam Jiwa Jagad Jawi merupakan cerita saat seorang sedang menimba ilmu, belajar lagi kedalam untuk menemukan diri sejati dan mengenal Sang Pencipta,” ucap Julius.
6. Air Terjun Sri Gethuk

Air terjun Sri Gethuk berlokasi di Yogyakarta. Masyarakat setempat percaya bahwa Air Terjun Sri Gethuk adalah tempat berkumpulnya para jin, yang dipimpin oleh Angga Menduro. Di lokasi tersebut, masyarakat sekitar juga sering mendengar suara gamelan.
Selain menjadi areal wisata, Air Terjun Sri Gethuk juga sering menjadi tempat untuk melakukan pertapaan atau semedi. Pada hari tertentu, banyak orang yang datang untuk menabur bunga di lokasi tersebut.
Nah, itulah enam destinasi wisata yang menjadi highlight dalam film pendek Jiwa Jagad Jawi. Film tersebut tak hanya menunjukan kepada kita keindahan Pula Jawa.
Lebih dari itu, kita juga diajak untuk kembali ke Diri SejatiNya tiap-tiap manusia agar dapat hidup penuh makna dan ‘Memayu Hayuning Buwana’ (berbuat baik kepada makhluk hidup dan seluruh dunia).
