Bernas.id – Sebagai salah satu wilayah terluas di Indonesia, Pulau Jawa memang menyimpan banyak tradisi dan kekayaan budaya. Pulau Jawa juga memiliki banyak destinasi wisata favorit warga dunia. Jika ingin mengenal budaya Jawa, kita tak pernah lepas dari budaya dan adat istiadatnya yang sangat menakjubkan.
Dalam proses penciptaan karya seni, misalnya, dalam budaya Jawa terdapat yang namanya “Roso” bersyukur mendalam kepada Yang Maha Kuasa dan kepada Ibu pertiwi. Penanaman “Roso” syukur yang mendalam tersebut kemudian menjadi pedoman filosofi dan perilaku sehari-hari oleh masyarakat budaya di masa lalu hingga menjadi sebuah nilai seni bercita rasa tinggi yang menjadi wujud fisik sehingga seluruh indera kita bisa merasakannya.
Sayangnya, masuknya modernisasi yang terlalu mengagungkan budaya barat telah membuat masyarakat meninggalkan nilai-nilai luhur tersebut. Alhasil, masyarakat menjadi kehilangan makna dan rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur bangsa, seniman dan para sinematografi tanah air mencoba berkolaborasi melalui sebuah video berjudul “Jiwa Jagad Jawi”.Melalui video tersebut, mereka mencoba menghidupkan kembali prosesi luhur dalam sebuah perjalanan tokoh utama yang penuh makna dan menyentuh semua lapisan kesadaran (mind, body, spirit) yang tak terpisahkan.
Dalam video tersebut, kita tak hanya diajak terhanyut oleh perjalanan sang tokoh utama. Kita juga akan diajak mengenal kekayaan seni, budaya, serta keindahan alam yang ada di Pulau Jawa.
Baca juga: Gandeng Mayo Clinic, Bagaimana Peluang dan Tantangan Rumah Sakit Internasional di Indonesia?
Kisah Jiwa Jagad Jawi
Dalam video berdurasi sekitar 8 menit 12 detik yang dipublikasikan di kanal Youtube Indonesia.Travel tersebut kita akan disuguhi oleh tampilan sinematografi yang penuh estetika. Terdapat enam destinasi wisata yang menjadi highlights dalam video tersebut, yaitu Candi Borobudur, Kahyangan Dlepih, Air Terjun Sri Gethuk, Desa Wisata Tembi, Kota Gede, dan Candi Sewu.
Cerita diawali oleh adegan seorang wanita bernama Bulan yang mendengarkan sebuah lagu Jawa berjudul “Tak Lelo Lelo Ledung”. Lagu tersebut berhasil membawa Bulan pada kenangan masa kecilnya.
Alhasil, Bulan mulai mempertanyakan jati dirinya. Untuk menenangkan dirinya yang dikepung oleh banyak pertanyaan tentang kehidupan, Bulan pun mulai mencari ketenangan dan kesunyian agar bisa mendengarkan suara batinnya.
Setelah mencoba mencari ketenangan batin, lagi tersebut ternyata terus menghantui diri Bulan hingga akhirnya ia merasa terkoneksi dengan tanah Jawa dan memutuskan untuk memulai perjalanan ke wilayah tersebut.
Petualangan Bu;an di tanah Jawa di mulai dengan adegan saat dirinya menyaksikan pertunjukan wayang kulit, dimana momen tersebut membuat Bulan semakin yakin bahwa keberadaan dirinya di Tanah Jawa bukan sebuah kebetulan. Kemudian Bulan pun mencoba mempelajari budaya Jawa, dimulai dengan belajar menari bersama para gadis desa.
Setelah itu, Bulan mulai menyusuri tanah Jawa untuk melakukan berbagai ritual atau tradisi adat Jawa yang membuat dia berhasil menemukan jati diri.
Potongan Tanah Jawa Dalam “Jiwa Jagad Jawi”
Melalui perjalanan tokoh Bulan saat menyusuri pulau Jawa, penonton seolah diajak untuk mengenali kebudayaan Indonesia, khususnya pulau Jawa, lebih jauh. Berikut berbagai adat Jawa yang tergambar dalam “Jiwa Jagad Jawi”:
1. Pertunjukan Wayang Kulit
Dalam video tersebut, terdapat adegan dimana Bulan menyaksikan pertunjukan wayang kulit. Di momen itu, Bulan menyaksikan tokoh pewayangan terkenal, Semar, mengatakan kepada seorang wanita bahwa segala sesuatunya sudah genap.
Baca Juga: Inilah 10 Sertifikasi di Bidang SDM yang Ada di Universitas Mahakarya Asia
Dalam tokoh pewayangan, Semar merupakan bagian dari Punakawan namun ada pula yang mengenalnya dari dunia mistis dan kebatinan. Semar juga dikisahkan sebagai sosok asli dari Indonesia karena tidak ada dalam cerita tidak ada dalam cerita Mahabarata atau Ramayana dari India.
Tokoh Semar sendiri pertama kali muncul dalam karya sastra asal Kerajaan majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk Kakawin, kisah Sudamala juga terdapat dalam relief Candi Sukuh yang berangka 1439. Bagi masyarakat Jawa, Semar juga dikenal sebagai tokoh yang sakti dan bijaksana sehingga mendapat julukan sebagai “Pamomong Tanah Jawa”.
2. Ritual Nyadran
Adegan berikutnya yang cukup menyedot perhatian dalam video “Jiwa Jagad Jawi” adalah saat tokoh bulan mengunjungi makam Panembahan Senopati di Tanah Gede untuk melakukan ritual Nyadran.
Melansir artikel ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Ilmu Komunikasi Volume 9 tahun 2021, disebutkan bahwa ritual nyadran adalah proses penyampaian pesan dan doa-doa yang dilakukan komunitas tertentu kepada Sang Pencipta agar dapat menghubungkan dengan para leluhur.
Tujuan ritual tersebut adalah untuk menyampaikan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas limpahan kenikmatan, kebahagiaan, rezeki, kesehatan yang diberikan-Nya kepada setiap manusia. Beberapa orang juga ada yang melakukan ritual Nyadran untuk meminta restu kepada para leluhur.
Masih dari sumber yang sama, ritual nyadran disebutkan sebagai hasil dari proses asimilasi budaya yang melibatkan tiga agama; Islam, Hindu, dan Budha.
Dalam agama Hindu-Budha, Nyadran identik dengan Shraddha atau Meruwat, yakni budaya berziarah ke makam leluhur, yang kemudian dijadikan sebagai pendekatan dakwah oleh beberapa pendakwah agama Islam di tanah Jawa dengan mengubah serta menetapkan momentum berziarah pada akhir bulan Ruwah atau hari-hari menjelang datangnya bulan ramadhan.
Baca juga: Peran UMKM Dalam Kebangkitan Wisata Yogyakarta
3. Upacara Sedekah Bumi
Dalam video “Jiwa Jagad Jawi” adegan upacara sedekah bumi dilakukan oleh bulan di Kahyangan Dlepih. Upacara Sedekah Bumi dilakukan dengan membawa gunungan berisi berbagai macam hasil bumi yang nantinya diserahkan kepada ibu pertiwi. Tujuan upacara sedekah bumi adalah untuk mengungkapkan rasa syukur kepada ibu pertiwi yang telah mencukupi semua kebutuhan manusia.
Dalam Babad Tanah Jawa, Kahyangan Dlepih sendiri diceritakan sebagai tempat Sunan Kalijaga melakukan tafakur untuk meminta Rahmat Tuhan dan meminta agar permohonannya dikabulkan. Sebelum mendirikan Dinasti Mataram, Panembahan Senopati jua pernah melakukan meditasi di tempat tersebut. Setiap malam Selasa dan Jumat Kliwon pemerintah setempat juga mengadakan sedekah bumi.
4. Padang Mbulan
Ritual Padang Mbulan dilakukan oleh tokoh utama saat mengunjungi Candi Dieng. Candi Dieng merupakan situs kuno yang diyakini pernah terdapat sebuah kompleks bernama Mandala, tempat menimba berbagai ilmu pengetahuan.
Ritual Padang Mbulan sendiri sudah aja sejak ratusan tahun. Ritual Padang Mbulan merupakan wujud kesadaran manusia akan rasa syukur dan kekagumannya kepada alam semesta dan Sang Pencipta. Ritual dilakukan dengan menarik di bawah pancaran sinar bulan purnama.
5. Semedi
Ketika berada di Candi Borobudur, tokoh Bulan diceritakan mulai menemukan kesadaran baru yang tercermin pada tingkatan yang ada di candi tersebut. Setelah itu, Bulan mulai menyiapkan diri untuk melakukan semedi atau meditasi. Bagi masyarakat Jawa, Semedi adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Esa.
Baca Juga: 12 Program Studi di Universitas Mahakarya Asia
Semedi adalah praktik relaksasi yang melibatkan pelepasan pikiran dari semua hal yang menarik, membebani, maupun mencemaskan dalam hidup sehari-hari. Dalam sebuah studi Kasus yang dipublikasikan oleh Universitas Indonesia tahun 2008, disebutkan bahwa semedi dilakukan untuk mendalami ilmu agama dan menghubungkan diri dengan Tuhan yang Maha Esa.
Video Jiwa Jagad jawi tak hanya mengenalkan kita tentang keindahan alam dan warisan Leluhur yang sangat kaya. Lewat tokoh Bulan, kita juga diajak untuk menemukan kebenaran sejati tentang kehidupan.
Menelusuri nilai-nilai budaya Jawa dalam Jiwa Jagad Jawi membuka kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai jembatan menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan. Sejalan dengan itu, kesempatan untuk meraih ilmu yang lebih tinggi kini semakin terbuka lebar. Raih masa depan dengan mendaftar di UNMAHA. Hubungi langsung melalui WhatsApp di nomor resmi UNMAHA untuk mendapatkan respons cepat serta informasi akurat. Universitas Mahakarya Asia juga telah membuka kesempatan bagi Anda yang ingin mendapat beasiswa berupa gratis pembayaran SPP kuliah.***5
