YOGYAKARTA, BERNAS.ID – Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY mengevaluasi pertunjukan atraksi seni dan budaya yang digelar di Teras Malioboro I dan II. Atraksi itu telah digelar sebanyak dua kali pada Sabtu pekan lalu dan Selasa kemarin, bertujuan untuk menghidupkan suasana di area sekitar dan berdampak pada roda ekonomi di wilayah setempat.
Sekretaris Dinas Kebudayaan DIY, Cahyo Widayat mengatakan, sejumlah agenda seni dan budaya yang dihadirkan di Teras Malioboro masih akan berlanjut. Selain atraksi kebudayaan berupa tari-tarian lokal, pihaknya juga berencana untuk menggelar peringatan dengan mengambil momentum yang bertalian dengan aspek sejarah di Malioboro.
“Atraksinya menyebar dan menyesuaikan dengan lokasi maupun waktu pelaksanaan. Misalnya yang berbasis sejarah nanti pakai tanggal peringatan tertentu kami laksanakan agenda di sana dan tetap dikoordinasikan dengan Disbud Kota Jogja,” jelas Cahya, Rabu (23/2/2022).
Dia mengungkapkan, dimungkinkan agenda-agenda dan acara tertentu di kawasan Malioboro tersebut akan digelar setiap hari ke depannya. Untuk tahap awal, pihaknya masih melihat antusiasme pengunjung dan juga masyarakat di kawasan sekitar. Sehingga dua kali gelaran budaya dalam sepekan dinilai masih cukup semarak untuk menghidupkan Malioboro.
Secara umum, pelaksanaan atraksi di Malioboro dipusatkan untuk menarik sebanyak mungkin pengunjung ke tempat itu. Oleh karena itu, Cahya menyebut bahwa konsep acara tidak hanya terbatas pada kegiatan seni dan budaya saja. Pameran dan atau kegiatan yang sifatnya bisa menarik antusiasme warga juga bisa menjadi opsi.
“Festival bisa atau pagelaran dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan juga kuantitas wisatawan di wilayah Malioboro,” ungkapnya.
Baca juga: Tempat Baru PKL Bernama Teras Malioboro, Pedagang Merasa Khawatir
Di sisi lain, pandemi COVID-19 yang kembali melonjak membuat Dinas Kebudayaan tetap berupaya memastikan bahwa penegakan protokol kesehatan berjalan dengan maksimal saat atraksi dilakukan. Menurut Cahya, dua kegiatan yang telah dilaksanakan mampu menarik minat pengunjung di lokasi. Bahkan sempat membludak. Pihaknya mewanti-wanti agar prokes tetap ditegakkan.
“Yang kami jaga itu memang berkaitan dengan protokol kesehatan. Termasuk pembatasan jumlah kunjungan di masa PPKM level 3 ini,” ujar dia.
Baca juga: Semua PKL Sudah Pindah, Begini Penampakan Malioboro
Sementara itu Ketua Paguyuban Angkringan Padma Malioboro, Yati Dimanto mengatakan, gelaran atraksi budaya dan seni yang dihadirkan oleh pemerintah belum menyentuh target utama yakni menggerakkan roda ekonomi bagi para PKL. Yati mengklaim, omzet anggota paguyubannya bahkan anjlok setelah direlokasi karena tempat relokasi yang kurang representatif.
“Acaranya kan kemarin itu di depan pintu utama Teras I, jadi menutup akses pengunjung yang mau masuk. Sementara PKL kuliner khususnya Padma itu berada di lantai dasar paling belakang, bagaimana mau laku,” keluhnya. (den)
