Bernas.id – Prof Dr Suminto A Sayuti, kritikus sastra dan seniman dari UNY mengatakan bahwa sudah lama tidak ketemu Romo Sindhunata. Maka dengan membahas karya-karya Sindhunata seperti menuntaskan kerinduan melalui makalahnya berjudul “Wayang Sindhunata Jineman Pathet Songo”.
“Master piece Sindhunata, novel berjudul 'Anak Bajang Menggiring Angin' (ABMA-red).Ilustrasi cover novel itu secara serta merta tercipta satu jagad yang unik partikular. Hiperteks yang mengarah kepada dunia pewayangan,” katanya ketika menjadi pembicara kunci di Seminar Nasional “Membaca Sindhunata Perspektif Bahasa, Sastra, dan Budaya”, Ruang Koendjono, Gedung Pusat, Universitas Sanata Dharma, Sabtu 29 September 2018.
Prof Suminto menganggap novel ABMA mengangkat persoalan yang luar biasa karena dunianya serba kemungkinan. “Ada berbagai isyarat untuk dipahami agar pembaca bisa mencapai makna yang komprehensif seperti kode bahasa dan kode budaya. Itu tuntutan pembaca,” imbuhnya.
Seniman ini pun menjelaskan bahwa Jineman dengan pathet tertentu dalam dunia pewayangan dipakai untuk membuka pembaca ke cerita, tapi dalam novel ABMA karya Sindhunata ini memiliki cerita yang berbeda karena variasinya banyak sekali. Tak seperti cerita wayang pada umumnya.
“Di dalam ABMA ini, persoalan-persoalan yang diangkat itu sangat tipologis dalam dunia wayang dengan khas dalang Ki Sindhunata. Bukan sekedar dalang, tapi Sindhunata juga menjadi wayang sendiri. Banyak hal yang ditawarkan, Sindhunata sangat rekonstruktif secara kreatif, serta memberikan wejangan,” tambahnya.
Sementara itu, Dr Yoseph Yapi Taum, MHum memaparkan makalahnya berjudul “Trilogi Puisi 'Mata Air Ikan' Karya Sindhunata dalam Kerangka Semiotika Riffaterre. Menurut Dr Yapi, trilogi “Mata Air Ikan” mengandung simbol-simbol yang tidak begitu mudah dipahami.
Melalui tahap-tahap pembacaan heuristik dan hermeneutik, penelitian Dr Yapi ini menyimpulkan tiga hal.Pertama, ikan memiliki banyak arti, ikan sebagai simbol manusia, orang beriman, dan simbol sumber makanan. Mata air memiliki makna sumber air sebagai lokasi terbaik kehidupan manusia. Mata air pun mengacu pada rumah ibadah, tempat manusia merenung dan mengenal Tuhan.
Kedua, menurut Dr Yapi, ada oposisi biner antara anak nelayan dan anak gembala. Puisi Sindhunata memperlihatkan bahwa penghidupan sebagai nelayan (yang mencuri ikan), tidak begitu menguntungkan dibandingkan anak gembala (yang bisa mendapatkan ikan hanya dari meniup seruling).
Ketiga, lanjut Dr Yapi, nenek miskin dari utara adalah sang juru selamat yang hadir untuk menyelamatkan sang gembala dari godaan nelayan pencuri ikan. Trilogi ” Mata Air Ikan” menggambarkan eksistensi manusia religious dalam hidupnya di muka bumi ini. (jat)
