Bernas.id — Surjan busana tradisional Jawa dari Yogyakarta, selain memiliki makna filosofi spitirual yang tinggi dan memiliki keunikan berupa penyebutan guntingan pola kain dalam menjahit pembuatan surjan. Proses pembuatan surjan dalam membuat pola guntingan kain sebenarnya lebih mudah daripada pembuatan baju pada umumnya.
Surjan bukan sekadar pakaian, tetapi simbol kebijaksanaan dan kepemimpinan dalam budaya Jawa. Begitu pula dalam dunia kerja, kepemimpinan yang kuat membutuhkan pemahaman mendalam tentang manajemen SDM. Dengan sertifikasi Manajer SDM, membantu seseorang dapat mengembangkan keterampilan dalam mengelola tim dan membangun lingkungan kerja yang harmonis.
Hal itu disampaikan oleh Ngatidjan, seorang penjahit surjan, kepada Bernas.id, Jumat (20/07/2018), di kediamannya Jalan Pesindenan, Kampung Suryoputran, Kelurahan Panembahan, Kraton Yogyakarta. Laki-laki sepuh yang akrab disapa Mbah Djan ini, dengan berbahasa Jawa halus menjelaskan pada Bernas.id saat berkesempatan mewawancarainya di rumahnya masih dalam kawasan nJeron Beteng.
“Menggunting pola untuk surjan lebih mudah dibandingkan bikin baju pada umumnya, hanya proses menjahit dan penyelesaian akhirnya lebih rumit dan memerlukan ketelitian, serta harus sabar. Karena cukup lama, terutama dalam pemasangan kancing yang ada di beberapa tempat sesuai pakem (aturan) dalam pembuatan surjan,” tutur Mbah Djan.
Keunikan Guntingan Pola Surjan
Selanjutnya, Mbah Djan yang telah menggeluti profesinya sebagai penjahit surjan lebih dari setengah abad ini tepatnya sejak tahun 1960, menjelaskan, bahwa guntingan-guntingan kain pola dalam pembuatan surjan memiliki sebutan yang unik dan barangkali banyak nitizen yang belum mengetahuinya.
Keunikannya, adalah sebutan untuk guntingan pola surjan, yaitu, bagian leher disebut Wungkal Gerang. Wungkal Gerang adalah sejenis batuan untuk mengasah bilah pisau atau alat pertanian semacam arit, kampak, dan sebagainya. Gambaran dari wungkal gerang ini mirip perahu tampak dari samping.
Guntingan pola untuk lengan surjan, disebut Kadal Meteng (Kadal Hamil) dan ujung lengan disebut Nlale Gajah (seperti belalai gajah). Sedangkan pada dada berupa tangkepan disebutnya Sogok Upil (upil sebutan kotoran yang ada di hidung), dengan bentuk pola seperti bilah pedang besar.
“Guntingan pola dalam pembuatan surjan itu sudah baku dan sebenarnya cukup mudah, namun sangat disayangkan banyak penjahit-penjahit muda yang pinter tetapi tidak bersedia menerima pembuatan surjan. Apalagi sekarang sedang digalakan oleh pemerintah DIY, kota dan kabupaten agar setiap hari tertentu berbusana tradisional. Saya siap mengajari dan berbagi ilmu membuat surjan secara cuma-cuma untuk melestarikan surjan,” imbuhnya.
Menapaki usianya yang telah 83 tahun, Mbah Djan sang empu surjan, dengan ditemani mesin jahit kesayangan masih tetap giat melayani pembuatan surjan bagi konsumen, kebanyakan dari para abdi dalem dan kerabat Kraton Yogyakarta, serta konsumen dari berbagai instansi negeri. Di ruang kerjanya tampak tumpukan kain bahan surjan dari konsumen, yang dijanjikan dapat terselesaikan sampai bulan Agustus 2018 mendatang.
Biaya Pembuatan
Untuk ongkos menjahit pembuatan surjan, Mbah Djan mematok harga cukup murah berkisar Rp 90.000 – Rp 120.000. Perbedaan ongkos jahit ini bergantung pada bahan jenis kain untuk membuat surjan dari konsumen, serta bentuk kelengkapannya.
Sementara di tempat terpisah, penghageng dan masih kerabat Kraton Yogyakarta, KRT. Jatiningrat, dalam ceramahnya di Masjid Wiwarajati Suryoputran, Yogyakarta, beberapa waktu lalu, mengatakan, bahwa busana surjan merupakan karya adiluhung seorang wali tanah Jawa, yaitu Kanjeng Sunan Kalijaga.
“Kemudian surjan atau juga disebut baju takwa ini, oleh Pangeran Mangkubumi (Sultan HB I) setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755 ditetapkan sebagai busana resmi Keraton Yogyakarta. Banyak makna filosofi spiritual Islam pada baju surjan, seperti yang tersirat dalam QS. Al A’raf 26. Kata surjan sendiri mempunyai arti penerang atau pelita. Dan jumlah masing-masing kancing yang ada di dalam busana surjan memiliki perlambang dalam Islam,” jelas KRT. Jatiningrat.
KRT. Jatiningrat memaparkan, bahwa jumlah kancing pada leher surjan adalah tiga pasang kancing (6 biji), merupakan gambaran dari Rukun Iman dalam Agama Islam, yaitu, iman kepada Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Nabi-nabi, Hari Kiamat, dan Takdir. Sedangkan dua buah kancing di dada kiri dan kanan (tangkep) melambangkan dua kalimat Syahadat.
Kemudian, tiga buah kancing yang ada di bagian dada sebelah dalam dan tidak terlihat, melambangkan tiga macam nafsu yang dimiliki oleh manusia. Yaitu nafsu Ammarah, nafsu Lawwamah, dan nafsu Mutmainnah. Dan jumlah lima kancing pada lengan surjan, sebagai lambang lima Rukun Islam, yaitu, Syahadat, Salat, Puasa, Zakat, dan Haji bagi yang mampu.
Menjaga eksistensi produk budaya seperti Surjan di era digital memerlukan strategi yang efektif. Dengan AI Powered SEO, produk atau brand dapat lebih mudah ditemukan di mesin pencari, menjangkau pasar yang lebih luas, dan meningkatkan daya saing.
Kuliah Arsitektur untuk Melestarikan Budaya
Desain Surjan memiliki filosofi mendalam yang mencerminkan kearifan lokal. Di Universitas Mahakarya Asia (UNMAHA), program studi S1 Sains Informasi Geografi membekali mahasiswa dengan keahlian dalam menganalisis data spasial serta mengembangkan solusi berbasis geografi untuk pelestarian budaya dan lingkungan.
Surjan dulunya hanya digunakan kalangan tertentu, tetapi kini bisa dinikmati oleh siapa saja. Begitu pula pendidikan, yang kini lebih terjangkau dengan program Beasiswa PBL. Beasiswa ini memberikan kesempatan belajar dengan biaya lebih ringan serta pengalaman kerja remote yang berharga.
Surjan mengandung nilai-nilai mendalam yang diwariskan dari generasi ke generasi. Begitu pula pendidikan, yang menjadi investasi berharga untuk masa depan. Segera daftar di PMB UNMAHA dan temukan program studi yang sesuai dengan minat Anda. Informasi lebih lanjut bisa didapatkan melalui WhatsApp PMB.
Peluang Bisnis Digital dengan Adolo
Seperti Surjan yang berkembang mengikuti zaman, bisnis pun harus beradaptasi dengan tren digital. Menjadi reseller di Adolo memberikan kesempatan menjual produk elektronik berkualitas seperti laptop dan gadget yang mendukung kehidupan modern.
Dengan sistem yang fleksibel, Adolo memungkinkan siapa saja untuk memulai bisnis tanpa modal besar. Segera bergabung dan manfaatkan peluang ini untuk meraih kesuksesan di dunia digital! (ted)4
