Bernas.id – Kehadiran dan presentasi pementasan Cerita Anak (Chlid?s Story) di Yogyakarta ini merupakan hasil kerjasama Papermoon Puppet Theatre, Polyglot Theatre, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, serta ARTJOG.
Acara ini pementasan Cerita Anak ini juga didukung penuh oleh Dinas Kebudayaan DIY, Australia-Indonesian Institute, Australia Council for the Arts, Creative Victoria, dan The City of Melbourne. Pementasan Cerita Anak ini akan masih berlangsung sampai dengan tanggal 29 April 2018 di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja.
Ria Papermoon menyebut Cerita Anak (Child's Story) di Yogyakarta dibawakan dalam versi yang berbeda dengan pementasan sebelumnya yang sempat digelar di Asia Topa Melbourne dan Perth Festival.
?Karya yang semula hanya bisa dinikmati oleh empat puluh (40) orang penonton, yang kemudian menjadi penumpang dan menjadi bagian dalam pementasan, kali ini bisa dinikmati oleh dua ratus (200) orang dalam sekali pertunjukan dengan adanya penonton yang menyaksikan pementasan di balik kain kelambu,? tuturnya.
Dikatakan Ria, 40 orang penumpang bahkan tidak menyadari bahwa mereka menjadi 'penampil' yang ditonton sekitar 150 orang. ?Apa yang terjadi di atas panggung adalah reaksi spontan mereka atas stimulan yang diberikan melalui musik dan suara, tata cahaya, proyeksi video dan juga akting tiga aktor yang berperan sebagai anak buah kapal,? bebernya.
Tema mengenai sejarah maritim pulau Jawa dan kisah nyata seorang anak Srilangka yang menjadi salah satu pencari suaka di Australia, lanjut Ria, adalah titik tolak berangkatnya kisah tersebut. ?Pementasan ini membawa makna lain bagi pertunjukan teater untuk anak-anak. Bahwa ada lapisan yang sangat mudah dinikmati oleh anak, dan ada makna yang dalam yang bisa ditangkap melalui kacamata orang dewasa,? ucapnya.
