JOGJA, bernas.id — Sungguh ironis, Jogja sebagai kota budaya justru tak memiliki ruang yang cukup bagi seniman, termasuk pelukis, untuk memamerkan karyanya. Dengan keterbatasan itu, para seniman (pelukis) pun seolah memperebutkan ruang yang tersedia yang sangat terbatas. Namun beruntung, di tengah keterbatasan itu ada pihak hotel yang memberi ruang bagi seniman lukis untuk memamerkan karyawan.
“Keterbatasan ruang pamer menjadi kendala yang perlu diperhitungkan, sehingga perhelatan pameran menjadi terkesan diperebutkan. Namun, ada sudut pandang yang lain agar pameran ini tetap terlaksana dengan intensitas yang luar biasa terjadi di Yogyakarta, dengan menggandeng pihak manajemen hotel yang saat ini berkembang di kota seni ini,” kata Heru Dodot Widodo, seorang seniman lukis terkemuka di Jogja kepada bernas.id, Sabtu (27/1/2018) lalu.
Empat seniman pun menggelar pameran dengan tajuk Psikologi Ngabstrak di sebuah hotel di Jogja. Mereka adalah Meistoria Ve, Joan Widya Agugrah, Suryo dan Astuti Kusumo. Mereka mencoba untuk keseimbangan untuk berpameran di hotel-hotel yang mempunyai ruang pajang bahkan tidak menutup kemungkinan akan mengajak seluruh hotel yang ada di wilayah Yogyakarta untuk dapat bekerjasama dalam membangun bidang seni dan budaya.
Dodot mengaku hotel merupakan sarana publik untuk melakukan aktifitas keseharian. Pameran karya seni yang diaksankan di hotel juga bisa menjadi relaksasi yang lain selain kunjungan wisata dan sebagainya.”
Semoga pihak manajemen hotel membuka mata untuk mensinergikan sebuah investasi besar yaitu karya seni yang tak ternilai ini. “Dan para seniman akan menemukan kembali kesejatian serta merasakan suasana Jogja yang gemah ripah loh duniawi,” harap Dodot.
Dodot mengajak para seniman agar segera membangun jatidiri dan keabadian dalam bertindak, bersikap dengan tegas dan tanggap menghadapi persoalan era global yang dimainkan para kapitalis yang sengaja memporakporandakan kehidupan sosial yang nyata. “Seniman harus bisa menjadi penyeimbang dalam strata sosial kehidupan serta melahirkan karya karya imajiner yang dapat menyentuh publik untuk bisa kritis terhadap kondisi dunia saat ini,” kata Dodot.
Tema pameran “Psikologi Ngabstrak” yang diusung oleh keempat seniman lebih mengarah kepada perwujudan sikap seniman Indonesia untuk menyatakan style abstrak yang berbeda dari barat. Salah satu peserta pameran, Meistoria Ve, merupakan seniman yang lahir di Padang 11 Mei 1974 dan merupakan alumni Univ Andalas dan ISI Yogyakarta.
