SLEMAN, BERNAS.ID – Pandemi Covid-19 yang terus melandai memberi angin segar bagi dunia pariwisata di Kabupaten Sleman. Kelonggaran yang diberikan mulai menggeliatkan sektor pariwisata, termasuk Desa Wisata Pentingsari (Dewi Peri) di Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Sleman, Yogyakarta.
Tak pernah lengah, Dewi Peri selalu menerapkan protokol kesehatan (prokes) di setiap kegiatannya. Bahkan di masa pandemi, tahun depan, Dewi Peri akan mewakili Indonesia dalam ajang ASEAN Sustainable Tourism Award 2022 karena inovasinya.
Baca Juga Sandiaga Uno Akan Jadikan Desa Wisata Semangat Kebangkitan Ekonomi Nasional
Ketua Desa Wisata Pentingsari, Doto Yogantoro mengatakan, pihaknya terus melakukan adaptasi dan inovasi sehingga menjadikan Dewi Peri bisa terus berkembang meskipun pandemi Covid-19 melanda. “Sebelum pandemi Covid-19 pendapatan Dewi Peri bisa mencapai Rp2,5 miliar per tahun. Saat ini kami kembali berbenah dan bangkit. Tamu mulai banyak,” jelas Doto, Sabtu (11/12/2021).
Sejak awal pandemi Covid-19 sampai sekarang, lanjut Doto, Dewi Peri telah disiplin menerapkan protokol kesehatan ketat kepada pengelola, pengunjung, atau warga setempat. “Kami terapkan prokes mulai dari cek suhu pengunjung yang masuk, menyediakan tempat cuci tangan, mewajibkan memakai masker, hingga jaga jarak,” tuturnya.
“Kami menerapkan reservasi sebelum kedatangan wisatawan untuk mengunjungi desa wisata ini,” imbuhnya.
Menurut Doto, langkah-langkah itu dilakukan untuk mengantisipasi penularan virus Covid-19. Hal itu juga bertujuan untuk semakin menumbuhkan kepercayaan bahwa Dewi Peri aman untuk dikunjungi.
“Desa Wisata Pentingsari telah menyusun protokol kesehatan baik bagi pihak pengelola, front liners, pemandu wisata, layanan kuliner, homestay, toko oleh-oleh atau souvenir,” katanya.
Lanjut tambahnya, penyusunan protokol kesehatan Covid-19 dan SOP bagi Desa Wisata Pentingsari Sleman bertujuan untuk dijadikan petunjuk yang perlu diikuti secara seksama oleh segenap pelaku desa wisata.
Baca Juga Sandiaga Harap Kegiatan Rekreatif Desa Wisata Bangkitkan Ekonomi
Ia pun menyampaikan Dewi Peri mengangkat tema Desa Wisata Alam, Budaya dan Pertanian yang Berwawasan Lingkungan sehingga akan memberikan pengalaman bagi pengunjungnya. “Mereka diberikan pengalaman, pembelajaran hingga berinteraksi tentang alam, pertanian, perkebunan, wirausaha, kehidupan sosial budaya, aneka seni tradisi dan kearifan lokal yang masih mengakar kuat di masyarakat,” bebernya.
“Suasana khas pedesaan di lereng gunung Merapi. Inilah yang menjadi daya tarik kami. Sebab kami tidak memiliki destinasi wisata hanya kehidupan desa yang ditawarkan,” ujarnya.
Doto mengatakan keistimewaan Dewi Peri, lokasinya berada di kawasan lereng gunung Merapi, salah satu gunung teraktif di dunia dan rawan bencana. Dewi Peri berjarak jarak 12,5 km dari puncak gunung Merapi dengan ketinggian 700 mdpl.
Dewi Peri memiliki segudang atraksi wisata dengan nuansa pedesaan yang asri. Kekayaan alam inilah yang menjadi salah satu daya tariknya. Dewi Peri menawarkan konsep tinggal bersama masyarakat atau “live-in” di homestay milik warga. Selain melakukan aktivitas outbound, wisatawan juga bisa menikmati seni, budaya, produk kerajinan Dewi Peri bahkan ikut mempelajarinya.
Dewi Peri juga membuka destinasi Pasar Jadul Dureng (duwur pereng) yang dibuka setiap Minggu. Pasar ini dilengkapi dengan 14 gubuk produk kuliner yang dihasilkan oleh warga. Tamu yang masuk diberi koin bambu sebagai alat bayar. “Koin itu ada nilai rupiahnya. Setiap tamu kami kasih koin senilai Rp15.000,” katanya.
Meski baru buka dua kali, hasilnya juga cukup lumayan. Dua pekan lalu, Pasar Jadul Dureng ini menghasilkan Rp2 juta dan pekan kedua naik menjadi Rp2,3 juta. “Ya walaupun nilainya kecil, tapi semangat warga juga tinggi. Setidaknya rata-rata penghasilannya Rp200.000. Mereka bikin pisang rebus, gorengan dan lainnya. Untungnya bisa 100%,” ujar Doto.
Dewi Peri menyabet penghargaan Citra Pesona Wisata/Cipta Award Kemenbudpar pada September 2011 dan 2012. Desa wisata ini juga meraih penghargaan Pendamping Pemberdayaan Masyarakat Terbaik Nasional untuk Desa Wisata dari Kemenkokesra pada Desember 2012 hingga menjadi Tuan Rumah Kegiatan Penghargaan Desa Wisata Indonesia di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI pada Nopember 2013 lalu.
Pada ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI yang digelar Juli- Desember 2021, Dewi Peri menjadi salah satu jurinya. Atas prestasi itulah Dewi Peri kembali mendaparkan penghargaan sebagai Desa Mandiri dan Menginspirasi dari Kemenparekraf RI pada Desember 2021 ini.
Di tingkat internasional, Dewi Peri juga menorehkan sejumlah prestasi tak kalah bergengsi. Pada Juni 2011 misalnya, Dewi Peri memperoleh Apreciation as Best Practise of Tourism Ethics at Local Level dari WCTE-UNWTO dan September 2019 lalu, Dewi Peri termasuk salah satu Green Destination Award Top 100-Netherland.
Awalnya, Dewi Peri termasuk salah satu dusun miskin di antara desa-desa yang ada di lereng gunung Merapi dengan tingkat ekonomi dan pendapatan masyarakat yang relatif rendah serta kehidupan masyarakat desa yang sederhana. Kondisi geografis dusun cukup terpencil dengan akses terbatas.
Namun, kata Doto, warga rupanya memiliki semangat gotong royong dalam merawat alam, lingkungan hidup dan kearifan lokal. Kemampuan inipun membuahkan hasil dengan melimpahnya kekayaan alam, vegetasi, hasil bumi dan kehidupan sosial budaya masyarakat pedesaan. “Sampai saat ini modal sosial itu tetap terjaga dengan baik,” katanya.
Dengan berbagai keterbatasan dan hanya bermodal semangat dan dukungan berbagai pihak, ceritanya, warga pun mulai memgembangkan desa wisata sejak 2008 lalu. Mereka memiliki harapan, Pentingsari maju dan sejajar dengan desa-desa lainnya. “Mengawali kegiatan ini bukan hal yang mudah karena kami membangun tanpa bermodalkan materi. Begitu juga mengubah budaya petani menjadi penyedia jasa wisata tidak mudah,” ujarnya.
Dukungan dan kepercayaan penuh dari masyarakat dan pemerintah dengan berbagai programnya, membuat masyarakat mampu merencanakan, melaksanakan dan mengawasi serta menikmati semua pembangunan yang dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat.
Desa wisata yang lahir dengan kesederhanaan khas masyarakat desa. Dewi Peri bukan destinasi wisata yang lahir di desa. Dewi Peri memberikan pengalaman bagi wisatawan untuk benar-benar hidup di desa, berinteraksi dengan masyarakat, kekayaan alam dan berinteraksi dengan seni dan budaya masyarakat. (jat)
