Bernas.id – Banyak sekarang penawaran mengenai investasi, namun investasi seperti apa yang cocok buat diri kita karena tidak semua instrumen investasi cocok untuk semua orang.
Baru-baru ini sedang ramai dibicarakan mengenai mata uang digital, seperti Bitcoin. Bayangkan saja, pertama kali dikeluarkan tahun 2009 harganya adalah USD 0.00076 dan sekarang sudah menjadi USD 11.276 kalau dikurskan Rp155 juta-an perkoinnya. Orang yang pertama membeli di tahun 2009 sekarang sudah menjadi miliarder.
Walaupun ramai diperbincangkan, pemerintah pun langsung bereaksi dan tegas menyampaikan bahwa bitcoin atau mata uang digital lainnya dilarang sebagai alat tukar pembayaran. Tidak hanya di Indonesia tapi juga di beberapa negara lainnya, termasuk China.
Dalam hal ini, Tung Desem Waringin angkat bicara melalui tulisannya yang viral di beberapa grup whatsapp. Penulis buku terlaris Rekor MURI 'Financial Revolution' dan 'Marketing Revolution' mengatakan bahwa mata uang digital diibaratkan seperti lukisan, yaitu:
- Tidak memiliki value yang tetap dan tidak ada jaminan dari Pemerintah sehingga tidak bisa dipakai sebagai jaminan untuk keperluan komersil atau menfasilitasi perdagangan
- Harga tidak stabil, tergantung peminat saja
- Pelukis yang terkenal tidak bisa menghasilkan lukisan terus menerus, ada batasnya yaitu saat si pelukis meninggal. Mata uang digital juga dibatasi peredarannya, contohnya bitcoin hanya 21 juta saja sementara yang beredar saat ini sudah 16,8 juta.
- Tidak semua lukisan laku terjual dengan harga mahal. Begitu juga mata uang digital, tidak semuanya laku.
- Lukisan bisa dipajang sebagai hiasan sementara mata uang digital hanya catatan saja.
Lalu investasi seperti apa yang terbaik menurut Tung Desem Waringin?
Investasi yang terbaik adalah yang dapat dikontrol dan relatif menguntungkan. Disesuaikan dengan umur, keberanian ambil risiko dan kesiapan apabila mengalami kerugian. Tidak terlalu meluapkan kegembiraan berlebihan saat menguntungkan karena sering membuat tidak waspada dan serakah yang akhirnya malah merugikan.
Investasi bisa di mana saja, yang terpenting harus memiliki prinsip, keahlian dan ilmu, tidak hanya ikut-ikutan. Apalagi kalau modalnya dari utang yang besarnya melebihi penghasilan kita, jika investasinya gagal akan sangat menyakitkan dan bisa habis semua tabungan kita malah minus.
Investasi tanpa perhitungan, jika gagal akan merugi tapi jika ketakutan dalam berinvestasi juga tidak akan bertumbuh. Lebih baik berinvestasi berdasarkan strategi yang didapat dari belajar dan praktek.
Di Singapore, mobil orang yang masih belajar dan praktek nyetir di tempeli huruf “L” sebagai tanda LEARN (belajar). Ketika sudah bisa dan dapat SIM maka huruf “L” nya di turunkan. Nah, saat kita sedang belajar dan praktek berinvestasi, pakailah prinsip : Learn, learn, learn and action. Jika sudah bisa maka huruf “L” pada kata Learn kita hapus sehingga menjadi ” Earn” (menghasilkan).
