Bernas.id ? Kabar buruk harus diterima oleh warga El Salvador di AS. Awal pekan ini, pemerintah AS melalui lembaga Departemen Pertahanan Tahan Air (DHS) mengumumkan kalau pihaknya bakal berhenti memberikan izin tinggal kepada sekitar 200 ribu warga El Salvador yang tinggal di AS.
DHS juga memberikan tenggat waktu kepada warga El Salvador hingga tanggal 29 September 2019 untuk pergi atau mencari metode alternatif supaya bisa tetap tinggal di AS. Menurut DHS, kebijakan ini diambil karena hak tinggal khusus yang dimiliki oleh warga El Salvador di AS tidak lagi relevan.
AS pertama kali menerbitkan status perlindungan khusus kepada warga negara El Salvador pasca terjadinya gempa bumi dahsyat yang menimpa negara Amerika Tengah tersebut pada tahun 2001 silam. Pengumuman terbaru DHS ini muncul hanya beberapa bulan setelah pihaknya mencabut status perlindungan khusus yang dimiliki oleh warga negara Nikaragua dan Haiti.
Keputusan DHS tersebut langsung ditanggapi secara negatif oleh warga El Salvador di AS. Rosa Cecilia Martinez adalah salah satunya. Ibu tunggal beranak dua ini mengaku sangat terpukul karena kini keluarganya hanya memiliki waktu kurang dari dua tahun untuk segera pergi dari negara yang sudah ditinggalinya sejak tahun 1998.
?Negara kami (El Salvador) berada dalam kondisi kacau balau. Sekolahnya berada dalam kondisi jenuh dan ada kejahatan di mana-mana. Bagaimana mereka bisa menerima ribuan keluarga dan menyediakan pendidikan, layanan kesehatan, dan keamanan bagi kami beserta anak-anak kami?? kata Rosa seperti yang dilansir oleh Al Jazeera.
?Administrasi Trump mengklaim kalau pihaknya sudah melakukan semua studi dan penilaian yang diperlukan… Namun hasil penilaiannya tetap bersifat relatif karena kita dapat melihat jika El Salvador tetap memiliki standar kelayakan hidup yang rendah,? kata pengacara Norma Portos yang bekerja sama dengan imigran El Salvador setempat.
El Salvador merupakan negara Amerika Tengah yang dihuni oleh 6 juta penduduk. Negara ini dikenal sebagai salah satu negara yang paling tidak aman di dunia kendati tidak sedang berada dalam situasi perang. Data tahun 2016 menunjukkan kalau setiap harinya, ada 14,4 kasus pembunuhan yang terjadi di negara tersebut.
