Bernas.id ? Permulaan tahun 2018 harus disambut oleh rakyat Madagaskar dengan pilu. Badan penanganan bencana nasional setempat mengumumkan kalau setidaknya 29 orang tewas akibat badai Ava yang menerpa Madagaskar pada hari akhir pekan lalu. Badai yang sama juga menyebabkan 17 ribu orang harus mengungsi meninggalkan rumahnya.
Wilayah Madagaskar timur yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia menjadi wilayah dengan dampak kerusakan terparah. Bangunan dan jalan raya mengalami kerusakan parah akibat hujan lebat dan angin kencang.
?Ada hujan yang amat deras dan angin yang amat kencang,? kata pekerja kemanusiaan Samantha Cameron menjelaskan kondisi di kota Fianarantsoa. ?Banyak jalan yang terputus dan sejumlah langkah darurat sudah dilakukan untuk membangun kembali jalan yang menghubungkan kota ini dengan ibukota Antananarivo.?
?Sejumlah kota masih terendam banjir dan jaringan telepon mati. Sehingga komunikasi dengan tempat-tempat tersebut menjadi makin sulit,? tambah Cameron, yang memperkirakan kalau ada setidaknya lima kotamadya yang mengalami kehancuran akibat badai.
?Lahan pertahanian rusak dan jalanan tidak bisa lagi digunakan. Peristiwa seperti ini bakal lebih berat dampaknya bagi rakyat karena mereka memiliki kemungkinan ekonomi yang lebih lemah untuk memulihkan diri. Namun matahari sekarang sudah timbul. Jadi kami gembira karena badai sudah berlalu,? tutupnya.
Badai tropis merupakan bencana yang cukup sering menimpa Madagaskar. Bulan Maret tahun lalu, wilayah utara dan timur Madagaskar dihantam oleh badai Enawo, yang digambarkan sebagai badai terkuat di Magaskar selama 13 tahun terakhir. Sebanyak 80 orang dikabarkan tewas akibat hempasan badai tersebut.
