Bernas.id ? Selama beberapa tahun terakhir, ISIS mendominasi pemberitaan seputar Timur Tengah. Namun rangkaian operasi militer yang dilakukan oleh militer banyak negara menyebabkan kelompok militan tersebut secara berangsur-angsur kehilangan wilayah yang sudah dikuasainya.
Menurut pejabat militer AS seperti yang dikutip oleh Fox News, ISIS sudah kehilangan 98 persen wilayah yang sempat dikuasainya. Separuh dari wilayah tersebut berhasil direbut kembali dari tangan ISIS kurang dari setahun sejak Donald Trump mulai menjabat sebagai presiden pada awal tahun ini.
Data intelijen AS menyebut kalau sekarang ISIS hanya memiliki kurang dari 1.000 personil di Irak dan Suriah. Sebagai perbandingan, dua tahun lalu jumlah personil ISIS dikabarkan mencapai 45.000 personil. Sisa-sisa wilayah ISIS kini terkonsentrasi di wilayah kecil yang terletak di antara perbatasan Irak dengan Suriah.
Namun menurunnya kekuatan ISIS di Timur Tengah tidak lantas menandakan kalau ancaman dari kelompok tersebut sudah berakhir sepenuhnya. Pasalnya kini ISIS menganjurkan para simpatisannya di seluruh dunia untuk melakukan serangan di wilayahnya masing-masing.
Hari Senin (25/12/2017) lalu, kelompok cabang ISIS di Afganistan melakukan ke kantor badan intelijen Afganistan. Kota-kota besar di seluruh dunia seperti Paris, Berlin, hingga Jakarta juga sempat menjadi sasaran penyerangan simpatisan ISIS selama beberapa tahun terakhir.
David Deptula selaku pensiunan Angkatan Udara AS lantas mengkritik Barrack Obama ? presiden AS sebelum Trump ? karena kebijakan yang diambilnya menyebabkan ISIS tidak bisa ditumpas lebih cepat.
?Ketentuan perang di bawah pemerintahan Obama sungguh berat. Sasaran individual kami harus diputuskan terlebih dahulu di Gedung Putih, yang dalam beberapa kasus bisa memakan waktu hingga berminggu-minggu,? ungkap Deptula. ?Kami seharusnya bisa menyelesaikan tujuan kami lewat kekuatan udara dalam kurun waktu tiga bulan, bukannya tiga tahun.?
